"Mana bagian gue?" Pemuda itu menengadahkan tangannya ke arah Andin.
Andin menyerahkan lima lembar uang merah kepada Leon.
Dengan dramatisnya Leon menerawang uang itu satu per satu. "Apaan, nih? Gue yakin omset lo tadi berkali-kali lipat dari ini."
"Kan lo tadi minta lima ratus ribu?"
"Eh, lo nggak liat gue nyiumin 'tuh cewek-cewek sampai bibir gue jontor?" Leon menunjukkan bibirnya yang tak kurang suatu apa, tetap seksi dan mempesona.
"Nih, gue tambahin." Andin menambahkan beberapa lembar uang merah.
"Tega banget lo jadi kakak. Udah gue bela-belain jadi gigolo juga." Leon memasukkan uang itu ke sakunya.
"Lagian ngapa lo nggak pulang aja, sih? Di rumah 'kan segala serba terjamin. Daripada lo keliaran kek gini? Nyusahin gue tau, nggak?" Andin mengomeli adiknya.
"Lo sendiri kenapa nggak pulang? Malah jadi kang es krim kayak gini?" bantah Leon.
"Eh, besok lo bikin kayak gini lagi, ya?" Andin melihat ada celah bisnis, sepertinya adiknya yang good looking ini bisa dieksploitasi.
"Gila, lagak lo udah kayak mucikari. Adek sendiri mau dikomersilkan." Leon ngeri dengan ide kakaknya yang mata duitan, seperti Tuan Crab di Sponge Bob.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Feby sudah menyelesaikan tugasnya mengepel kafe ini, ia bersiap undur diri. Hari ini sangat melelahkan baginya.
"Mbak, saya pulang dulu, ya?"
"Eh, iya, Feb. Pasti hari ini lo capek banget. Lo nebeng sama si Leon aja." Andin menunjuk Leon. Ini dalam rangka untuk mengambil hati Feby, agar jalannya mendekati Tama mulus.
"Dih, kok gue?" Protes Leon.
"Dia searah sama lo." Andin melotot ke arah Leon. Memberi kode supaya mau mengantar Feby.
"Tapi gue belum mau pulang, gue mau dugem dulu. Lagian es krim gue belum habis."
Leon keberatan dengan perintah kakaknya. Feby jadi sungkan berada diantara perdebatan kakak beradik itu.
"Anterin dulu ngapa? Nggak kasihan lo? Ini udah malem."
Andin mencubiti lengan Leon gemas. Bagaimana mungkin adiknya itu tak punya jiwa kemanusiaan sama sekali?
"Dih, urusan cowoknya itu. Emang cowok lo ke mana, em siapa tadi?" Leon berusaha mengingat nama Feby.
"Feby. Nama saya Feby."
"Oh, ya apapun lah itu. Cowok lo mana?"
"Saya nggak punya cowok. Saya pamit, saya bisa pulang naik ojol. Nggak perlu diantar." Feby segera undur diri, daripada kedua kakak-beradik itu baku hantam karenanya.
"Nah, tuh dia tau diri." Leon berkata cuek sembari memakan es krimnya.
"Leon!"
"Saya pamit, Mbak, Mas." Feby bergegas berlalu dari tempat itu.
"Gila, gue dipanggil Mas. Emang muka gue kayak mas-mas?" Leon melihat wajahnya di kamera depan ponselnya. Andin melihatnya dengan gemas.
"Feb, ini buat naik ojol." Andin mengejar Feby untuk menyerahkan selembar uang biru.
"Nggak usah, Mbak."
"Anggap aja bonus buat lo. Upah lembur." Andin meletakkan uang itu di saku baju Feby. Ia tak mau pemberiannya ditolak.
"Makasih, Mbak."
***
" Lo masih di sini?" Leon melihat Feby masih berdiri di depan kafe.
"Iya, nggak tau kenapa ojek yang saya panggil nggak datang juga."
"Ish, udah takdirnya lo harus dianterin gue. Masuk gih!" Leon menggerutu. Lama-lama ia tak tega juga melihat tampang Feby yang seperti minta dikasihani.
"Nggak usah, Mas."
"Masuk atau gue tinggalin?" Ancam Leon. Feby terpaksa masuk ke mobil Leon, daripada ia tak bisa pulang. Badannya terasa capek, ingin segera sampai rumah dan beristirahat.
"Lo kenapa? Dingin?" Leon mengamati Feby yang memeluk dirinya sendiri.
"I-iya."
Leon mematikan AC mobilnya, ia juga mencopot jaket yang dikenakannya. Ia melemparnya ke arah Feby.
"Nih, pake. Jangan lupa sebelum balikin cuci dulu, kasih ke kakak gue aja. Soalnya jaket itu dulu beli di Paris. Di dunia ini cuma ada 3 buah, gue pesen langsung sama penjahitnya, gue tungguin 'tuh penjahit sampe selesai, dia jahit pake tangannya, gue liat pakai mata kepala gue sendiri ....."
Sepi, tak ada sahutan. Ia menoleh ke samping, tampak Feby yang sudah tertidur dengan wajah polosnya.
"Lah, dia tidur. Mana gue tau lo tinggal di mana, Maemunah ...."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Abang, My Crush (Complete)
RomanceMungkin jodoh tidak datang tepat waktu, tapi jodoh datang di waktu yang tepat.
