"Apa maksudnya ini, Mas?" Feby menyerahkan surat usang yang ada di tangannya dengan tangan bergetar. Tama menghela nafas berat sebelum menerimanya.
"Aku bisa jelasin."
"Kenapa kamu nggak pernah cerita, Mas?" Air mata Feby tiba-tiba jatuh tanpa bisa ditahan.
"Aku belum nemu momen yang tepat."
"Tapi tetap aja kamu nggak bisa gitu, Mas. Aku berhak tau." Feby tak mau begitu saja menerima alasan Tama, alasan yang menurutnya terlalu klise.
"Yah, mungkin saatnya sekarang kamu tau." Tama mendekati Feby, ia ikut duduk di samping Feby.
"Apa maksud ayah melakukan semua ini, Mas? Aku nggak mau! Aku nggak terima!"
"Dek, tenang dulu. Kita bicara pelan-pelan." Tama berusaha meraih tangan Feby, segera ditepis.
"Kamu tau, tapi kamu diam aja. Aku merasa dihianati, Mas." Feby berkata dengan marah, saat ini ia merasa menjadi orang yang sangat bodoh, sudah bertahun-tahun dan ia baru mengetahui rahasia sebesar ini.
Feby tak tahan lagi, Tama tak kunjung memberi penjelasan untuknya. Ia tak mau menunggu lagi. Ia berdiri dan beranjak menuju pintu.
"Kamu mau ke mana?"
"Aku mau pergi, Mas. Aku nggak sudi tinggal satu rumah dengan penghianat seperti kamu."
"Penghianat apa?" Tama menahan tangan Feby.
"Pokoknya aku mau pergi." Feby menghempaskan tangan Tama hingga terlepas. Ia berjalan cepat ke arah pintu. Tama mengejarnya, dengan cepat ia mengunci pintu dan membuang kuncinya ke kolong tempat tidur.
"Kamu mau apa, Mas?" Feby mendelik kesal sekaligus takut. Laki-laki yang dia anggap sebagai abang saat ini benar-benar tak bisa dipercaya.
"Dengerin dulu penjelasan aku, baru kamu boleh keluar."
"Aku nggak mau dengar apapun. Kamu pembohong, penghianat!"
"Dengar dulu penjelasan aku, please!" Tama memandang Feby dengan wajah memelas. Mau tak mau Feby menjadi diam, sebenarnya ia juga penasaran tentang apa yang akan dikatakan Tama.
"Waktu ayah sakit, ayah nulis surat itu untukku. Waktu itu aku sama kagetnya denganmu. Aku juga nggak ngerti jalan pikiran ayah."
Feby melirik Tama dengan ekor matanya, antara percaya dan tidak mendengar cerita pria itu. Melihat sikap Feby yang mulai tenang dan melunak, Tama meneruskan kata-katanya.
"Saat itu aku nggak punya pilihan selain mengiyakan permintaan ayah."
"Tapi aku nggak mau, Mas. Ini aneh banget!" potong Feby cepat.
"Iya, aku tau! Aku juga nggak akan memaksa kamu. Tapi apa kita nggak bisa mencoba dulu?"
"Apa maksudmu, Mas?" Mata Feby membulat karena kaget. Apa? Coba katanya?
"Kita coba jalani hubungan ini dulu." Tama mencoba berkata dengan nada persuasif, berharap Feby akan mengerti.
"Aku nggak bisa dan nggak mau, Mas." Feby menolak mentah-mentah usul Tama. Ia tak mau terjebak dengan situasi gila ini. Apapun alasannya, ini semua terdengar gila.
"Aku mohon, coba saja dulu. Aku janji, kalau memang kita nggak cocok, aku bakalan biarin kamu pergi." Janji Tama. Feby melihat ada kesungguhan di matanya.
"Tapi, Mas ...."
"Beneran, kamu sedikitpun nggak ada perasaan sama aku?" Tama bertanya pelan, matanya tak lepas memandang tajam ke arah Feby.
"Kamu ngomong apa, Mas?" Feby gelagapan dan segera mengalihkan pandangannya. Ia tau benar apa yang dimaksud oleh Tama.
"Kalau kamu jujur, maka aku juga akan jujur."
"Aku nggak mau bahas ini, Mas. Aku mau keluar. Jadi tolong kamu minggir!" Feby mendorong tubuh Tama agar ia dibiarkan keluar kamar.
"Kamu cemburu 'kan waktu ngeliat aku deket sama Andin?"
Feby terdiam mendengar pertanyaan Tama. Tentu saja air matanya yang kemarin menangisi Tama itu bukan pura-pura. Ia benar-benar merasa takut kehilangan Tama. Apa itu bisa disebut cemburu?
"Kamu takut kehilangan aku 'kan?" Tama bertanya dengan yakin. Air mata Feby kemarin telah membuktikan padanya.
"Ma-mana ada!"
"Aku juga sama. Aku cemburu waktu ngeliat kamu dekat sama Leon. Aku nggak mau kehilangan kamu. Tinggal terpisah sama kamu selama beberapa bulan membuat aku sadar, hidupku sepi tanpa kamu. Aku nggak bisa kalau nggak ada kamu. Jadi, bolehkan sekali-kali aku egois? Ini bukan tentang wasiat ayah, ini tentang hatiku sendiri, aku ...."
"Mas, jujur sama aku! Sejak kapan kamu kayak gini?" potong Feby.
Melihat diamnya Tama, Feby menduga ini semua sudah berlangsung sejak lama. Jadi selama ini diam-diam Tama menaruh perasaan padanya. Perasaan yang melebihi kakak dan adik angkat ....
"Jadi perhatian kamu selama ini ke aku ...." Feby menghentikan ucapannya.
"Aku minta maaf." Tama berkata dengan wajah penuh penyesalan. Katakanlah dia brengsek karena memanfaatkan wasiat dari ayah angkatnya.
Ia menggunakan hak prerogatif sebagai seorang kakak untuk menghalangi setiap laki-laki yang ingin mendekati Feby.
"Kamu jahat, Mas. Kamu jahat ...."
"Kamu boleh benci aku sesuka hatimu, tapi tolong ... Jangan pergi ninggalin aku." Tama memohon dengan nada bergetar.
"Aku mau keluar!" Feby meronta ingin melepaskan diri dari cekalan Tama.
"Dek, aku mohon ...."
"Aku bilang aku mau keluar!" Feby berusaha membuka pintu yang jelas-jelas sudah dikunci oleh Tama.
"Nggak! Aku nggak akan biarin kamu pergi." Tama mengurung tubuh Feby dengan kedua tangan bersandar di samping kepala Feby.
"Kamu gila, Mas. Ini nggak bener!"
"Apanya yang nggak bener? Kita bukan saudara kandung. Lagipula ayah sudah berwasiat untuk ...."
"Tetap aja aku ngerasa aneh!" potong Feby.
"Itu karena kamu belum terbiasa."
"Tetep aja aku nganggap kamu sebagai abang, Mas. Kita dibesarkan bersama."
"Sebulan saja, aku janji. Beri waktu untuk kita menyadari perasaan masing-masing. Aku mohon." Bujuk Tama.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Abang, My Crush (Complete)
RomansaMungkin jodoh tidak datang tepat waktu, tapi jodoh datang di waktu yang tepat.
