Setelah mendengar kabar Tama masuk rumah sakit, Feby segera pergi menemuinya, tanpa pamit kepada Leon.
"Ra, Feby mana?" Leon menghampiri Maura. Ia celingukan mencari keberadaan Feby.
"Tadi habis terima telepon belum balik ke sini," jawab Maura.
"Telepon dari siapa?"
"Nggak tau, tapi kayaknya dia panik."
Leon mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, mencoba mencari keberadaan Feby. Nihil, gadis itu hilang bak ditelan bumi.
"Nyari siapa, Nel?" tanya sang mama.
"Feby nggak ada, Ma." Leon menjawab dengan nada panik.
"Tadi Mama lihat dia keluar, emang sampai sekarang belum balik?"
"Belum."
"Ya udah, telepon aja."
Leon menuruti saran sang mama, saking paniknya ia sampai lupa kalau ada alat komunikasi bernama ponsel.
"Mama tinggal bentar, ya?"
Leon hanya mengangguk menanggapi ucapan mamanya, perhatiannya saat ini hanya terfokus pada Feby seorang. Kemana gadis itu pergi? Mengapa ia pergi tanpa pamit? Apa ada yang menyinggung perasaannya di sini?
Leon kesal karena Feby tak kunjung mengangkat teleponnya. Apa gadis itu marah padanya? Apa yang sebenarnya terjadi? Leon pusing memikirkan semua kemungkinan itu.
Terdengar suara MC yang memanggilnya agar naik ke panggung untuk acara potong kue. Ia menuju panggung dengan wajah kusut, seharusnya sekarang Feby ada di sini. Pesta ini tak berarti apa-apa tanpa kehadirannya. Rencananya ia akan memperkenalkan Feby sebagai kekasihnya di hadapan para tamu undangan, ia akan memberikan potongan kue kedua untuk Feby, setelah sang mama tentunya.
"Nel, kamu nggak ngumpul sama temen-temenmu?"
"Males, Ma."
"Kamu kenapa, sih? Ini 'kan ultahmu. Kok kamu cemberut aja. Karena Feby, ya?"
Leon tak menjawab pertanyaan mamanya, benaknya dipenuhi dengan pertanyaan tentang Feby.
"Mungkin dia ada keperluan mendadak." Hibur sang mama. Leon menghela nafas, semoga ucapan mamanya benar.
***
Setelah pesta usai, Leon masih saja menghubungi Feby. Sebenarnya ia ingin pergi mencari Feby ke flat, tapi ia tak enak meninggalkan rumah mamanya. Di sini masih ada sanak saudaranya, ia menggerutu dalam hati, kapan mereka akan pulang.
Tiba-tiba ada panggilan masuk dari Andin. Kakaknya itu memang tak menghadiri acara ulang tahunnya. Andin malas jika keluarganya kembali membahas masalah perjodohannya dengan anak pengusaha teman papanya.
"Nel, pestanya udah selesai?"
"Udah."
"Selamat ultah, ya. Semoga lo bisa menjadi adik yang baik, yang berbakti pada kakak lo yang cantik, yaitu gue."
"Hm." Leon malas menanggapi candaan Andin.
"Lo nggak mau nemenin Feby di rumah sakit?"
"Apa? Dia ada di rumah sakit?"
"Lo nggak tau?"
"Dia sakit apa?" tanya Leon khawatir.
"Bukan dia yang sakit, tapi Tama."
Leon menghela nafas lega, untunglah bukan Feby yang sakit. Jadi ini alasan Feby pergi begitu saja tanpa pamit padanya.
"Tama kecelakaan, dia patah tulang."
"Kasih tau nama rumah sakitnya, gue mau nyusul ke sana."
Leon segera pamit kepada mama dan sanak saudaranya, ia beralasan ada hal penting yang harus ia urus.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Abang, My Crush (Complete)
RomanceMungkin jodoh tidak datang tepat waktu, tapi jodoh datang di waktu yang tepat.
