Keesokan harinya Tama benar-benar menemui Andin. Feby sudah melarangnya dan menyuruhnya pulang, tapi ia tetap bersikeras.
"Maaf, bisa bicara sebentar?"
Andin kaget bercampur senang karena Tama tiba-tiba menghampirinya. Feby merasa was-was, ia takut Tama akan membuat bosnya tersinggung atau marah, dan berujung akan memecatnya.
"Baiklah, mari duduk di sana." Andin menunjuk sebuah meja di pojok ruangan.
Saat ini masih pagi, suasana kafe masih sepi. Lagipula orang gila mana yang akan makan es krim pagi-pagi?
"Mas ...." Feby berusaha merayu agar kakaknya membatalkan rencananya.
"Feb, kamu ke dapur. Bikinin kami kopi."
Mau tak mau Feby menuruti perintah sang bos. Ia pergi ke dapur dengan cemas. Ia sempat melirik sekilas ke arah Tama.
"Apa yang mau anda bicarakan?"
Andin bersikap sok wibawa, padahal dadanya berdebar-debar. Ia tak menyangka bisa berbicara empat mata dengan gebetannya seperti ini.
"Ini tentang adik saya. Apakah anda tak merasa sudah keterlaluan memperkerjakan dia?"
"Maaf, keterlaluan gimana, ya?"
Andin mengerutkan keningnya, ia menyangka Tama mengajaknya bicara untuk pedekate dengannya, mana dia kadung senang. Taunya zonk! Salah dia sendiri yang over pede.
"Kemarin dia pulang jam sepuluh, adik saya sampai ketiduran karena saking capeknya."
Andin mengingat peristiwa semalam. Ia tersenyum penuh arti. Ia menilai Tama sebagai kakak yang sangat perhatian kepada adiknya.
"Oh, soal itu saya minta maaf. Kemarin itu kafe ramai sekali. Jadi Feby terpaksa lembur."
"Sebaiknya Anda mengambil karyawan satu lagi."
Andin tidak tersinggung dengan ucapan Tama yang terkesan mengatur. Sekali lagi karena Tama adalah gebetannya.
"Maunya juga begitu, tapi kafe saya ini masih sepi. Saya takut nggak sanggup bayar gajinya."
Andin memang masih beberapa bulan merintis kafe ini. Ia yang tak ada basic wiraswasta memang agak kesusahan mengelolanya.
"Masalahnya, adik saya itu punya penyakit asma, saya takut kalau asmanya kambuh karena kecapekan."
"Maaf, saya nggak tau. Feby nggak pernah cerita."
Andin melihat raut khawatir di wajah Tama. Ia juga melihat ekspresi lain di sana. Tapi ia segera menepis dugaanya. Tidak, pasti bukan itu, pikirnya.
"Saya minta tolong, kalau bisa pecat saja adik saya itu."
Andin kaget mendengar permintaan Tama. "Maaf, tapi kenapa, ya?"
Andin merasa janggal dengan permintaan Tama. Kalau ia memecat Feby, artinya hilang harapannya untuk bisa mendekati Tama. Tidak, ini tidak boleh terjadi, pikirnya panik.
"Kalau saya yang suruh dia berhenti kerja, dia tidak akan mau. Jadi tolong anda pecat saja dia." Tama berkata dengan nada tegas.
"Tidak bisa begitu, dong."
"Kenapa tidak?" Tama mengerutkan dahi, tak suka dengan penolakan Andin.
"Dia itu udah terlanjur teken kontrak dengan saya." Andin terpaksa mengarang cerita tentang surat kontrak seperti yang di sinetron.
"Kontrak apa?"
"Kalau dia mengundurkan diri, dia harus mengganti denda sebesar sepuluh kali lipat gajinya."
"Mana ada kontrak seperti itu?"
Andin sudah siap jika Tama akan melayangkan protes, setelah ini ia akan segera membuat surat kontrak palsu itu. Apapun akan ia lakukan demi gebetannya ini.
"Tapi dia sudah tanda tangan."
"Coba saya lihat surat kontrakannya." tantang Tama, sebenarnya ia tak percaya begitu saja dengan surat kontrak absurd itu. Ia hanya sekedar menggertak.
"Em, ada. Saya simpan!"
"Baiklah akan saya bayar dendanya."
Tama tak mau pusing dengan urusan surat kontrak itu, yang penting baginya adalah Feby segera keluar dari pekerjaan ini.
"Ada baiknya kita tanyakan dulu ke yang bersangkutan." Andin melihat Feby menghampiri mereka dengan membawa nampan.
"Feb, bener kamu mau ngundurin diri?"
"Eh, enggak, Mbak. Kata siapa?" tanya Feby kaget.
"Kakakmu."
"Mas, kita bisa bicara berdua?" Feby menyeret Tama untuk bicara berdua di luar.
"Maunya Mas ini apa, sih? Jangan ikut campur urusan aku, Mas. Aku dapetin kerjaan ini dengan susah payah. Seenaknya aja Mas nyuruh aku keluar." Feby memprotes ulah Tama dengan keras.
"Dek, aku 'tuh cuma ...."
"Pokoknya Mas harus minta maaf sama mbak Andin. Terus bilang yang tadi itu nggak jadi." Feby dalam mode marah, ia merasa Tama terlalu mencampuri urusan pribadinya.
"Tapi, Dek ...."
Feby tak menerima protes, ia segera meninggalkan Tama masuk ke kafe. Tama mengikuti di belakangnya.
"Mbak, soal yang tadi anggap aja nggak ada apa-apa, ya. Cuma salah paham." Feby menghampiri Andin yang sedang sibuk menguping di balik kaca. Saking asyiknya ia menguping, sampai tak menyadari Feby sudah ada di belakangnya.
Andin menatap kakak beradik itu bergantian. Feby kesal karena Tama diam saja, tak mau membantunya bicara. Ia sengaja menyenggol lengan Tama.
"Iya 'kan, Mas?"
Tama masih diam, tak mau menuruti perintah Feby.
"Saya minta maaf soal yang tadi." Antara tulus dan tidak Tama meminta maaf.
"Nggak papa, saya jadikan kritik Mas tadi sebagai saran yang membangun. Kayaknya saya harus mengambil pegawai satu orang lagi." Andin tersenyum menatap ke arah Tama. Kalau diperhatikan warna mata Tama adalah hazel, warna yang indah. Andin jadi makin terpesona.
"Terimakasih karena sudah mau mempertimbangkan saran saya, Mbak." Tama menjawab seadanya.
"Panggil saya Andin saja." Andin meralat ucapan Tama. Ia menolak dipanggil mbak.
"Saya Tama." Tama mengulurkan tangannya. Kalau dipikir-pikir sejak kemarin mereka belum berkenalan secara resmi.
Tama berdehem karena Andin tak juga melepaskan tangannya.
"Mas Tama nggak usah khawatir, saya akan memastikan Feby nggak sampai kecapekan."
Feby menangkap ada yang janggal dalam ucapan bosnya ini. Belum lagi tatapannya yang seolah tak mau lepas dari wajah abangnya.
"Terimakasih." Tama menjawab.
"Feb, kamu kok masih di sini?" Andin menegur Feby yang seolah menjadi obat nyamuk bagi mereka. Di depan Tama nada bicaranya sengaja dipermanis, pakai aku kamu lagi. Ia memberi kode Feby agar pergi ke dapur.
"Ya sudah, saya pamit dulu." Merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan, Tama berniat undur diri.
"Kok buru-buru, Mas?" cegah Andin. Yang diusir Feby, tapi mengapa malah Tama yang pergi, sih? Pikir Andin.
"Ada yang harus saya kerjakan." Pamit Tama.
"Em, Mas, boleh minta nomor telepon?" Andin mengulurkan ponselnya.
"Maksud saya supaya mudah dihubungi kalau ada apa-apa sama Feby." Andin membuat alasan sebisanya.
"Oh, iya. Boleh." Tama mengetikkan nomornya di ponsel Andin. Feby melihatnya dari jauh, ia mencebik kesal.
"Dasar, perawan tua genit!"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Abang, My Crush (Complete)
RomanceMungkin jodoh tidak datang tepat waktu, tapi jodoh datang di waktu yang tepat.
