44

8.2K 648 11
                                        

Sudah empat hari ini Feby berada di rumah Tama, ia merasa sangat risih dan ingin segera pergi dari tempat itu. Bagaimana mungkin ia tahan tinggal serumah dengan pria asing.

Pria asing? Ya, akhir-akhir ini Feby merasa abangnya itu bagaikan orang asing. Ia merasa Tama memandangnya dengan tatapan yang lain. Gaya bicaranya, gaya bercandanya, sangat lain dengan sosok abangnya dulu.

Sosok Tama yang dulu adalah sosok abang yang pengayom, penyayang ... Pokoknya lain sekali dengan yang sekarang.

Feby jadi curiga, kecelakaan yang dialami abangnya itu mungkin mempengaruhi kinerja otaknya.

Kalau itu benar-benar terjadi akan sangat kasian sekali, mana abangnya masih muda, mana belum menikah. Dengan kata lain Feby beranggapan abangnya telah gila, otaknya mungkin bergeser karena berbenturan dengan aspal. Who knows?

Pikir saja, mana ada abang yang dengan santainya menggombali adiknya sendiri? Yah, walaupun mereka adalah saudara angkat. Tapi sejak kecil, selama bertahun-tahun, mereka dibesarkan sebagai kakak dan adik. Seharusnya selamanya akan seperti itu 'kan? Eh, tapi-tapi, dalam drama Korea Endless Love seorang kakak adik angkat bisa saling jatuh cinta.

"Bodoh! Feby bodoh!"

Feby menjambaki rambutnya sendiri, kemudian merapikannya kembali. Akhir-akhir ini ia sering sekali menjambaki rambutnya, ini tidak baik. Kalau rambutannya rontok lalu gundul bagaimana?

Feby bergidik seorang diri, ia merasa geli memikirkan jika ia memiliki perasaan kepada abangnya, begitupun sebaliknya.

"Feby, apa yang kamu pikirkan?"

Feby merebahkan badannya yang lelah, lelah karena memikirkan masalah percintaan antara dirinya dengan sang abang.

Apa? Percintaan? Iyuh ....

Bagaimana mungkin dirinya bisa jatuh cinta pada abangnya yang terpaut delapan tahun darinya. Tapi godaan gadun itu memang sangat dahsyat.

Ia terkekeh geli, baru saja ia menyebut abangnya gadun. Ya, laki-laki tua bangka itu memang pantas disebut gadun. Bisa-bisanya dia menggoda gadis muda seperti dirinya, dasar pedofil.

Tapi mana ada pria tua bangka yang perutnya six pack macam abangnya? Jangan salahkan Feby, ia tak sengaja melihat kemarin. Saat abangnya itu keluar dari kamar mandi, mungkin saat itu Tama lupa membawa baju ganti.

Feby tertawa cekikikan, tanpa ia sadari sedari tadi ada seseorang yang mengawasi dari jendela kamarnya.

"Kamu kenapa, Dek? Depresi?"

Feby kaget dan segera bangkit dari tidurnya. Sejak tadi ia tak menyadari bahwa Tama tengah memperhatikannya.

Tama heran sekaligus khawatir melihat Feby yang bicara seorang diri, kemudian menjambaki rambutnya, setelah itu tertawa cekikikan.

Apa karena sudah lama tak ditempati, kamar adiknya ini jadi dihuni hantu?

"Mas Tama! Ngagetin aja. Ngapain kamu di situ?"

"Aku udah manggil kamu dari tadi, nggak ada sahutan."

"Mau apa, sih?"

"Aku mau pamit, mau kontrol. Diantar Tegar."

"Kenapa nggak diantar aku aja?" Feby baru teringat kalau hari ini memang jadwalnya Tama kontrol dan terapi.

"Sama Tegar aja, kamu tolong rapikan kamar aku, ya. Bisa?"

"Oke." Akhirnya karena malas berdebat, Feby mengiyakan saja perintah Tama.

"Ya udah, aku tinggal." Pamit Tama.

"Ya udah, sana pergi!" Feby heran melihat Tama yang tak segera pergi, malah sempat-sempatnya memperhatikan isi kamarnya.

"Dek, kamu rajin-rajin ngaji deh. Kamar kamu ini kayaknya ada penunggunya."

"Maksudnya?"

"Aku perhatikan dari tadi kamu ketawa sendiri, ngomong sendiri ...."

"Mas Tama! Udah buruan pergi!"

My Abang, My Crush (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang