Ide memperkerjakan Leon untuk membantu Feby malah berujung petaka. Kafe malah menjadi semakin ramai karena pesona Leon. Feby jadi semakin sibuk. Satu-satunya yang diuntungkan disini hanyalah Andin.
Gadis itu kini berubah menjadi jutawan dadakan. Ia menghitung omset hari ini dengan semangat. Bagaimana tidak semangat? Omsetnya naik sepuluh kali lipat. Kalau seperti ini terus mungkin ia bisa membuka cabang baru. Ternyata punya adik tampan itu berguna juga, ya. Hehehe ....
"Kak, kapan lo mau nemuin papa?"
"Tadi gue udah nelpon ke rumah, katanya papa di Sidney selama sebulan."
"Apa? Sebulan?"
Leon seketika lemas, hidup tanpa mobil bagaikan hidup tanpa kaki.
"Artinya lo harus kerja sama gue selama sebulan."
"Jinjja?"
"Hem."
"Nggak, gue nggak mau jadi budak lo. Gue nggak mau dieksploitasi sama lo." Leon menolak keras syarat kakaknya.
"Terserah, tapi mama bilang, kartu kredit lo mau dibekukan juga."
Andin berkata santai, ia buru-buru memasang ear phone miliknya. Untuk mengamankan gendang telinganya yang tidak ada serepnya ini. Karena sebentar lagi akan ada erupsi suara.
"Apa?!" Lagi-lagi Leon berteriak histeris. Ia merasa sudah didzolimi oleh keluarganya sendiri.
"Nggak ada pilihan. Lo harus kerja sama gue kalau mau bertahan hidup."
***
"Kak, pinjemin gue duit sepuluh juta. Sewa apartemen gue abis."
Leon menghampiri Andin yang sedang menikmati espressonya sambil mencari IG Tama. Ia belum tahu saja kalau Tama tidak aktif di sosmed.
"Heh, sepuluh juta pala lo?"
Bukannya memberi uang, Andin malah memaki Leon. Ia kesal karena kegiatannya terganggu. Dasar adik laknat, kesalnya.
"Gue tau, sejak gue kerja di sini omset penjualan lo meningkat drastis. Ngasih gue sepuluh juta nggak masalah, dong?"
"Gila lo, ya! Udah, nggak usah sok-sokan tinggal di apartemen. Lo tinggal aja di kafe ini sama gue."
"Gue tidur di mana? Kamar lo aja cuma satu."
"Tidur di bawah 'kan bisa?" ujar Andin santai.
"Tega lo, ya! Udah tenaga gue lo peres, sekarang lo perlakukan gue kek adik tiri." Leon menggerutu.
"Gue kasih sejuta, lo cari kosan." Andin berkata semena-mena.
"Mana ada kosan harga segitu?" protes Leon. Kakaknya ini lama-lama semakin mirip Tuan Crab.
"Di tempat Feby ada."
Leon mengingat bentukan flat tempat Feby tinggal. Rumah susun kumuh itu. Ia begidik ngeri.
"Nggak! Gue nggak mau tinggal di tempat kumuh kek gitu. Pasti nggak ada AC. Mana kotor, banyak kecoa, banyak curut ...."
"Bagus, dong. Jadi lo nggak kesepian. Curut ngumpul sama curut!" Andin terkekeh.
Kebetulan Feby yang hendak mengepel lantai melewati mereka.
"Feb, flat lo masih ada kamar kosong?"
"Ada, Mbak."
"Berapa sebulannya?"
"Murah, Mbak. Lima ratus ribu aja."
Andin mengeluarkan sepuluh lembar uang merah dari laci kasirnya. Ia mengulurkannya ke arah Leon.
"Nih, gue kasih sejuta. Sisanya lo beliin kulkas, AC, sama spring bed."
"Gue yang dongo, apa kuping gue yang budek, ya?" Leon kesal. Mana mungkin uang segitu cukup untuk membeli semua barang itu.
"Dua-duanya. Komplikasi!" sahut Andin.
***
"Eh, Beby. Lo kok betah tinggal di sini?"
"Mas, udah dibilang berkali-kali nama saya ini Feby. Masak gitu aja lupa terus?" Feby kesal karena Leon selalu saja salah menyebut namanya.
"Yah, apapun lah itu. Apa nggak ada tempat yang lebih layak?"
"Ini udah layak, Mas. Tinggal dibersihin dikit." Feby meletakkan barang bawaan Leon di depan pintu kamarnya.
"Bagi lo layak, lo 'kan udah biasa stripping jadi orang miskin. Nah, gue? Gue 'kan terlahir jadi nak holkay tujuh turunan tujuh tanjakan."
Feby kesal dengan sikap sombong adik bosnya ini. Kalau tidak ingat dia adik bos pasti sudah dia maki-maki.
"Iya, Mas. Terserah."
"Mau ke mana lo?" Leon mencegah Feby yang hendak pergi ke kamarnya.
"Saya 'kan udah bantuin Mas bawain barang-barang. Sekarang saya mau balik ke kamar."
"Ish, kalau mau bantuin 'tuh jangan setengah-setengah. Bantuin gue bersih-bersih sebentar."
Sebenarnya Feby merasa sangat lelah, tapi apa boleh buat, ia terpaksa harus membantu adik bosnya yang manja ini.
"Em, iya deh, iya ...."
***
"Mas, saya udah selesai bantuin abebersih. Sekarang saya balik, ya?"
Setelah membantu membersihkan kamar Leon, Feby segera pamit. Ia merasa sangat gerah, ia ingin segera mandi dan beristirahat.
"Kamar lo di mana?"
"Itu, di samping." Feby menunjuk letak kamarnya.
"Ya, udah. Buruan pergi. Nunggu apa? Upah? Nggak usah, ya. Gue nggak ada duit." Usir Leon. Kemudian ia menutup pintunya kencang.
Feby menggelengkan kepalanya. Pemuda manja ini, bukannya berterima kasih karena sudah ditolong. Keterlaluan.
"Katanya nak holkay? Kok bokek?" cibir Feby sebelum pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Abang, My Crush (Complete)
RomansaMungkin jodoh tidak datang tepat waktu, tapi jodoh datang di waktu yang tepat.
