Setelah Tama pulang, Feby memikirkan kata-kata abangnya itu. Apa benar ia cemburu? Apakah benar ia mempunyai perasaan yang lain terhadap Tama? Kalau iya, apakah boleh melakukan hal yang seperti itu?
Apa jadinya jika ayah dan ibunya yang ada di alam baka kalau sampai tahu? Pasti mereka akan sangat kecewa.
"Mulai saat ini aku harus menghindari Mas Tama, ini semua mulai ngawur, nggak bener."
***
Hari ini Feby berniat masuk kerja. Saat di lobby ia berpapasan dengan Leon. Ia tersenyum ceria ke arah Leon.
"Lho, Feb. Kok lo udah masuk kerja?"
"Udah kelamaan liburannya, Mas."
"Kalau masih sakit jangan dipaksakan."
"Udah nggak sakit kok."
"Jangan bandel, Feb. Yang ada kaki lo makin parah." Leon melihat ke arah kaki Feby yang terbungkus sandal.
"Kamu udah kelewatan khawatir sama aku, Mas. Kamu 'kan cuma mentor, kok berlaku kayak pacar beneran? Ingat rulesnya." Goda Feby.
"Gue biasa aja!" Sanggah Leon.
"Oh, jadi kamu udah biasa perhatian kayak gini sama cewek?"
"Pada dasarnya gue emang baik, semua orang juga gue perhatiin."
"Ya udah, terserah."
"Kita berangkat naik taksi online aja. " putus Leon.
***
Sesampainya di kafe Leon masih memperlakukan Feby bagai pasien.
"Hati-hati, Feb."
"Udah, Mas. Nggak perlu dituntun segala. Aku nih cuma keseleo, bukan habis diamputasi." Feby menolak uluran tangan Leon.
Andin memperhatikan tingkah kedua orang itu dari meja kasir. Ia berdecak sebal. Apa-apaan itu? Masih pagi sudah disuguhi adegan romantis, pikirnya.
"Feb, kaki lo udah sembuh?" tanya Andin.
"Udah, Mbak."
"Tadi udah gue suruh libur, tapi dia maksa masuk." Lapor Leon.
"Lo pikir kafe punya lo, main nyuruh libur aja." Andin memukul Leon dengan buku pembukuan miliknya.
"Kalau kaki lo masih sakit, lo nggak usah kerja dulu, Feb." Andin memperhatikan kaki Feby yang sepertinya masih sakit.
"Udah, nggak papa kok, Mbak." Febi menggerakkan kakinya dengan lincah.
"Aw ...."
Karena tak hati-hati ia hampir saja terjatuh, Leon dengan sigap menangkapnya. Mereka sesaat saling pandang. Andin sangat muak melihat adegan drama murahan itu.
"Udah, lepasin. Jangan main FTV di sini." Tegur Andin.
Leon melepaskan tangannya dari pinggang Feby, wajahnya memerah karena malu. Begitupun Feby, wajah mereka sudah seperti tomat.
"Feb, lo bantu di dapur aja. Kerjaan yang berat-berat biar di handle Leon."
"Ya, udah, Mbak. Saya pamit ke dapur." Feby pamit pergi ke dapur diiringi tatapan khawatir Leon.
"Kok lo nggak protes, gue suruh ngerjain kerjaan Feby?" tanya Andin curiga.
"Nggak papa, gue ikhlas kok."
"Demi cinta?"
"Cinta? Makanan apa itu?" bantah Leon.
"Nggak usah pura-pura. Jidat lo 'tuh ada gambar lope-lope nya."
"Masa?"
Andin memicingkan mata. "Tapi baguslah. Gue lega kalau akhirnya Lo beneran jatuh cinta. Sebenarnya gue takut liat Lo seenaknya mainin cewek-cewek. Ntar karmanya kena ke gue."
"Siapa juga yang mainin mereka? Dipikir cewek-cewek itu lato-lato apa? Lagian mereka juga seneng jalan sama gue. Simbiosis mutualisme itu."
"Pesen gue, kali ini si Feby jangan Lo mainin, ya. Kalau dia sampai sakit ati, ntar Tama malah menjauh dari gue."
"Bodo amat!"
****
KAMU SEDANG MEMBACA
My Abang, My Crush (Complete)
RomanceMungkin jodoh tidak datang tepat waktu, tapi jodoh datang di waktu yang tepat.
