"Kita masuk?" Leon membuka pintu mobilnya untuk Feby.
"Mas, aku pulang aja, ya?" Feby ragu untuk keluar dari mobil.
"Masuk dulu, bentar aja. Aku janji."
"Aku sungkan sama keluarga kamu, Mas. Nanti mereka ngira aku pacar kamu."
"Malah bagus."
Seorang wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik menghampiri mereka berdua. Feby menduga ia adalah mama Leon.
Wanita itu tampak sangat anggun mengenakan gaun terusan warna hijau lumut, sangat pas dan terlihat kontras di kulitnya yang putih mulus. Feby takjub mengamati penampilannya. Kulit orang kaya memang berbeda, terlihat sangat bening dan bercahaya.
"Nel, kamu baru datang?"
Wanita itu mencium pipi Leon dan melihat ke arah Feby. Dari raut wajahnya terlihat ia seperti wanita yang ramah, tak terlihat angkuh seperti mama mertua di drama-drama.
"Ma, kenalin ini Feby, pacar aku."
"Em, cantik." Mama Leon melihat penampilan Feby sekilas, kemudian menyalami Feby dengan ramah, ia bahkan mengajak Feby cipika cipiki.
"Selamat malam, Tante." Feby memberi salam dengan sopan.
"Malam, sayang. Em, Tante tinggal sebentar, ya." Pamit mama Leon.
"Nel, bawa Feby ke dalam, ya. Mama mau menemui seseorang."
Feby melihat punggung mama Leon yang menjauh. Tangannya tiba-tiba berkeringat dingin. Pasti di dalam sudah berkumpul sanak saudara Leon.
"Santai aja, Feb. Jangan tegang gitu."
"Gimana mau santai, Mas. Aku 'tuh canggung banget ada di pesta kayak gini. Mana orang-orangnya nggak ada yang aku kenal."
"Kan ada aku." Leon menggandeng tangan Feby yang terasa dingin. Beberapa sanak saudaranya menyapanya saat ia baru masuk. Gigi Feby rasanya kering karena dari tadi sibuk menebar senyum.
"Mau dansa?" Tawar Leon. Hari ini ia merasa sangat bahagia. Baginya ini pesta ulang tahun paling berkesan dalam hidupnya.
"Em, nggak bisa aku, Mas. Ntar malah nginjak kaki kamu."
"Coba aja dulu."
Leon mengajak Feby berdansa bersama tamu undangan yang lain, dengan alunan musik klasik yang terdengar sangat romantis.
"Makasih, ya. Udah datang ke acara ulang tahun aku." Leon berkata tulus.
"Aku yang harusnya makasih, Mas. Kalau bukan karena kamu yang ngundang, mungkin aku nggak akan pernah pergi ke pesta kayak gini. Aku biasanya nonton di TV aja hehe. Ternyata dansa itu asyik juga, ya?"
"Gampang, kan?"
Feby memandangi tangannya yang sedang digenggam Leon, sedang sebelah tangan pria itu ada di pinggangnya. Sementara sebelah tangannya ada di pundak Leon.
Saat awal-awal tadi, berkali-kali Feby menginjak kaki Leon, tapi Leon tak marah padanya. Tak terasa mereka sudah menghabiskan dua lagu. Leon tak mengizinkan saat sepupunya mengajak bertukar pasangan dansa dengan Feby.
"Mukamu kenapa merah gitu, sih?"
Feby malu ketahuan mengamati rahang Leon dari bawah. Saat itu ia sedang bermimpi menjadi seorang Cinderella yang sedang berdansa dengan prince Charming.
"Em, itu ...." Feby kesulitan mencari alasan. Untung saja salah satu sepupunya datang menghampiri.
"Nel, nenek pingin ketemu kamu."
"Feb, kamu duduk sana dulu, ya?" Leon berpamitan kepada Feby.
Feby canggung seorang diri berada di pesta semegah ini. Untunglah salah seorang sepupu Leon menghampirinya, gadis itu mengajak Feby mengobrol. Gadis bernama Maura itu sangat ramah dan periang. Feby bisa cepat langsung akrab dengannya. Segala sesuatu tentang Leon dia ceritakan.
Sedang asyik-asyiknya bercerita, tiba-tiba ponselnya berdering. Panggilan dari nomer asing. Feby mengerutkan dahi, siapa? pikirnya.
Ia meminta ijin kepada Maura untuk menerima telepon. Feby berjalan ke luar ruangan karena di dalam terlalu berisik. Dengan rasa penasaran Feby menjawab telepon itu.
"Apa, rumah sakit?"
Dengan berlari Feby meninggalkan rumah Leon. Bahkan ia tak sempat berpamitan kepada pemuda itu. Feby tak memikirkan kemungkinan kalau pemuda akan kebingungan mencarinya. Yang ada dipikirannya hanya bagaimana ia bisa segera sampai di rumah sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Abang, My Crush (Complete)
RomanceMungkin jodoh tidak datang tepat waktu, tapi jodoh datang di waktu yang tepat.
