"Noona, I'm coming!"
Leon kembali mendatangi kafe kakaknya. Feby mencibir melihat kedatangannya. Berisik sekali pemuda ini.
"Huh, datang lagi si jamet!" Andin mengeluh.
"Noona, gimana harimu akhir-akhir ini?" Leon segera menghampiri Andin yang sedang sibuk membuat pembukuan.
"Berapa?" Andin tak mau berbasa-basi menghadapi adiknya ini.
"Em, Noona paling tau kalau gue lagi butuh duit."
"Lo nyamperin gue kalau lagi butuh duit doang."
Andin menyindir Leon, percuma saja yang disindir sudah kebal. Andin tak melihat mobil Leon terparkir di depan kafenya.
"Mana mobil lo?"
"Itu dia masalahnya, Noona. Daddy kita yang terlanjur kaya dan tak sempat miskin itu menyita mobil gue." Leon memulai sesi curhatnya.
"Bagus, dong. Lagian 'kan lo nggak sanggup beli bensinnya?"
"Bayangin, Noona. Adikmu yang terlanjur tampan dan tak sempat jelek ini harus menaiki taksi online jika harus ke mana-mana, bukankah itu terlihat sangat mengiris hati?"
Feby yang sedang mengepel lantai ingin muntah mendengar dialog Leon yang terlalu dibuat-buat. Seperti dialog sinteron kolosal.
"Terus lo pikir bakal dapat solusi setelah curhat sama gue?"
"Noona, bantulah berdiplomasi dengan ayah biologis kita itu. Bujuklah dia untuk mengembalikan mobil gue."
Leon membujuk Andin menggunakan puppy eyes andalannya. Percuma saja, saat ini Andin fokus dengan kalkulatornya.
"Males, kalau gue pulang ke rumah, yang ada gue disuruh kawin lagi."
Andin dan Leon kabur dari rumah untuk urusan yang berbeda, yang satu karena ogah dijodohkan. Sedang yang satunya kabur karena tak mau meneruskan perusahaan sang papa. Memang dua anak yang tak berguna.
"Noona, please ...."
"Udahlah, lo terima aja nasib lo!"
Andin teringat percakapannya dengan Tama tadi pagi. Mungkin ia bisa memanfaatkan adiknya ini.
"Gue mau bantuin lo, tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Lo kerja sama gue."
"Jadi lo serius mau jadiin gue gigolo kayak waktu itu?" Leon berteriak histeris.
"Ish, maksudnya lo bantu-bantu gue. Kerja kayak pelayan kafe."
"Aigoo ...."
"Nggak mau ya udah. Gue nggak bakal bujuk papa buat balikin mobil lo. Ngesot sana!" Andin kembali fokus pada kalkulatornya.
"Noona, yang kau lakukan ini, jahad!"
"Udahlah, kerja! Kerja! Lo lap 'tuh kaca. Ampe glowing, ya. Setelah itu lo bersihin kamar mandi. Setelah itu ...."
"Noona!"
***
Mau tak mau Leon mengikuti perintah Andin. Ia memakai celemek yang imut bergambar es krim seperti punya Feby. Walau begitu tak mengurangi kadar ketampanannya.
"Eh, Geby. Lo bersihin kaca bagian dalam, gue bagian luar. Biar cepet selesai." Leon memberi instruksi.
"Em, maaf, Mas. Nama saya Feby."
"Yah, apapun lah itu. Btw lo jangan panggil gue Mas. Geli gue, lo pikir gue mas-mas minimarket?"
"Panggil apa, dong?"
"Panggil your highness (yang mulia)."
"Your highness pala lo peang! Buruan kerja, jangan diskusi aja lo berdua." Andin menjitak kepala Leon selagi dia lewat.
Leon mulai membersihkan kaca bagian luar. Ia membersihkan kaca dengan mode tampan. Tubuhnya yang tinggi atletis dengan rambut ala oppa Korea sukses menarik minat para pejalan kaki yang lewat di depan kafe kakaknya.
"Mampir, Kakak ...."
Leon tersenyum manis. Bagai dihipnotis gadis-gadis itu berbondong-bondong memasuki kafe Andin yang biasanya sepi ini.
Andin terlihat antusias melayani kedatangan mereka. Tak sia-sia ia menjadikan adik tampannya sebagai pesugihan.
"Ih, ganteng banget! Mirip Ceyea!"
Para gadis itu berbisik-bisik sambil melihat ke arah kaca. Leon masih sibuk membersihkan kaca. Dari tadi ia tak bergeser dari tempat semula. Padahal Feby sudah hampir selesai membersihkan sisi bagian dalam.
Feby mencibir ulah Leon yang menurutnya tebar pesona saja. Leon bahkan sengaja membuat tanda hati di kaca itu, membuat gadis-gadis yang di dalam tersipu malu.
"Sekali gigolo, tetap gigolo." Feby mencibir.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Abang, My Crush (Complete)
RomansaMungkin jodoh tidak datang tepat waktu, tapi jodoh datang di waktu yang tepat.
