50

11.2K 688 6
                                        

Tama mengajak Feby makan bakso di dekat rumah lama mereka. Depot bakso itu sekarang tampak berbeda, tidak terasa sudah sepuluh tahun berlalu. Pemiliknya kini sudah ganti, sudah generasi ke dua.

"Kenapa harus di sini, sih, Mas?" Feby protes.

"Aku kangen pingin makan di sini, nggak papa 'kan?"

"Nggak papa, sih. Lagian udah terlanjur di sini juga."

Feby mengingat rumah lama mereka yang berada di gang sebelah depot ini. Dulu setiap pulang sekolah mereka sering lewat gang ini juga.

"Mas, rumah lama kita itu masih ada?"

"Udah rata dengan tanah."

"Oh, sayang banget."

"Si Leon itu apa masih suka hubungin kamu?" Tama tiba-tiba membahas soal Leon. Membuat Feby tersedak.

"Kayaknya dia udah nggak tinggal di flat lagi."

"Syukurlah."

"Emang kenapa sih, Mas? Sebenarnya temenan doang 'kan nggak papa. Nggak harus nyuruh dia menjauh juga. Kamu kalau masih mau temenan sama mbak Andin juga nggak papa."

"Orang dia datang ke rumah tempo hari aja, kamu cemberut seharian." Tama menyangkal ucapan Feby.

"Habisnya aku kesel sama gaya dia yang genit."

"Kamu pikir aku nggak kesel sama tingkah Leon yang tengil?"

"Ya udah."

"Ya udah."

"Lagian aku udah pernah bilang, aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia."

"Aku juga, Andin itu cuma aku anggap bos kamu."

"Bahas yang lain ajalah, Mas."

"Bahas konsep pernikahan kita, gimana?"

"Siapa yang bilang kalau aku mau nikah sama kamu, sih?"

"Nggak ada, cuma harapanku aja."

"Kalau halu jangan ketinggian, Mas. Kalau nggak kesampaian sakit rasanya."

"Ada Andin yang mau menangkap aku." Tama berujar percaya diri.

"Dih, mau-mau aja dia dijadikan ban serep." Feby mencibir kebucinan Andin.

"Orang dia yang bilang sendiri kok."

"Mas, beneran kamu cinta sama aku?" Feby bertanya serius. Tama tiba-tiba menghentikan suapannya.

"Kayaknya sih gitu."

"Kok bisa, sih, Mas?"

"Mana aku tau. Cinta 'kan datang tiba-tiba."

"Maksudnya kamu nggak geli gitu, kita ini adik kakak lho." Feby heran melihat ekspresi Tama yang santai saja, seolah itu adalah hal yang lumrah.

"Nah yang di drakor Endless love itu?"

Feby memutar mata. Lagi-lagi endless love!

"Beda, Mas. Itu 'kan drama."

"Kamu sendiri ngapain bisa suka sama aku?" Ganti Tama yang bertanya.

"Kapan aku bilang gitu?" Feby buru-buru menyangkal, ia mengipasi wajahnya yang tiba-tiba berubah jadi panas menggunakan telapak tangannya.

"Yang kamu nangis-nangis itu?"

"Lagi period aja aku. Bawaan hormon!"

"Bilang cinta apa susahnya, sih?"

"Gila, ya malulah." Feby membungkam mulutnya yang terlanjur keceplosan. Tapi terlambat, Tama sudah terlanjur mendengarnya.

"Malu juga nggak bikin mati." Tama berbicara sambil tertawa tertahan.

"Jadi beneran kita bakal nikah?"

"Emang mau begini terus?"

"Masalahnya ini terlalu mendadak, Mas. Apa nggak sebaiknya kita penjajakan dulu." Saran Feby, agar Tama mau mengulur waktu pernikahan mereka.

"Buat apa? Kita udah saling mengenal dari kecil kalau kamu lupa. 22 tahun hidup bersama apa kurang lama?"

"Itu 'kan sebagai kakak adik?"

"Terus gimana maunya?"

"Ya penyesuaian dulu lah, Mas. Paling nggak setahun gitu."

"Lama amat?"

"Emang kamu buru-buru nikah 'tuh mau apa, sih?" Feby kesal karena seolah dikejar-kejar untuk menikah.

"Punya anak, mungkin."

"Jadi setelah kita menikah kita juga bakal gituan, Mas?"

"Maksudnya?" Tama mengangkat sebelah alisnya.

"Lupain aja."

My Abang, My Crush (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang