"Mas, aku mau masuk dulu, ya?" Pamit Feby pada Leon.
"Aku ikut masuk boleh?"
Feby mengangguk, mengiyakan permintaan Leon. Sesampainya di dalam ruangan, Leon merasa menyesal karena ikut masuk.
Sekarang ia harus menyaksikan kedekatan Feby dan Tama secara live. Kedua orang itu bahkan melupakan kehadirannya di ruangan ini.
"Dek, haus."
Feby dengan cekatan membantu Tama minum. Tama melirik ke arah Leon yang sedang berdiri kaku di samping ranjang.
"Ada kamu juga?"
"Gimana keadaanmu?" Leon berbasa-basi.
"Nggak begitu parah, tapi tetap membutuhkan waktu untuk recovery." Tama menjawab.
Karena merasa suasana agak sedikit canggung, Leon memutuskan untuk pamit saja.
"Feb, aku pamit dulu, ya. Di rumah masih banyak keluargaku yang lagi ngumpul." Leon menganggukkan kepala ke arah Tama sebagai tanda undur diri.
"Oh, iya, Mas. Makasih udah nyempetin jenguk ke sini." Feby mengantar kepergian Leon hingga ke pintu. Semua itu tak lepas dari pengamatan Tama.
"Mas, aku bisa minta tolong, nggak?" Feby berbicara dengan hati-hati kepada Leon.
"Apa?"
"Tolong bilangin ke mbak Andin, ya. Kalau aku cuti untuk sementara waktu."
"Sampai kapan?"
"Aku sendiri nggak tau sampai kapan."
Leon menganggukkan kepala pelan, jadi selama beberapa lama ia tak akan bisa melihat Feby? Hatinya merasa gundah.
***
"Kalian udah pacaran, Dek?" Tama bertanya langsung pada intinya.
"Oh, nggak gitu, Mas. Kita cuma dekat aja. Dia mau ngajarin aku pacaran, jadi pacar magang gitu." Feby menjelaskan dengan polosnya.
"Apa? Gimana?" Tama mengerutkan dahi, ia merasa heran dengan penuturan Feby.
"Pacar magang, Mas."
"Mana bisa kayak gitu, sama aja dia mainin kamu, Dek." Tama ingin bangkit dari posisi tidurnya, tapi segera dicegah oleh Feby.
"Jangan emosi, Mas. Keadaan kamu 'kan masih belum stabil."
"Aku nggak suka kamu jalan sama dia. Apaan pacar magang? Dia itu nggak serius sama kamu, cuma pingin mainin kamu aja."
"Iya-iya, tapi kamu tenang dulu, ya?" Feby berusaha menenangkan Tama yang tampak sangat emosional.
"Kamu keluar aja dari kafe es krim itu. Jangan ketemu lagi sama dia." Tama berbicara dengan tegas.
"Iya-iya, nanti kita bicarakan lagi, ya? Sekarang kamu istirahat dulu." Feby membantu Tama agar kembali berbaring.
Suasana hening sesaat, mereka berdua merasa canggung karena sudah lama tidak bertemu.
"Kamu kenapa bisa jatuh, Mas?" Feby membuka percakapan untuk mencairkan suasana.
"Ada orang yang tiba-tiba nyebrang jalan."
"Kamu pasti lagi ngelamun."
"Sebenarnya aku lagi ngantuk, semalam nggak tidur karena ngerjain deadline."
"Kalau kerja jangan diforsir, Mas. Inget sama kesehatanmu."
Tanpa sadar Feby sudah menasehati Tama dengan nada yang terdengar cerewet. Seperti seorang ibu yang sedang menasehati anaknya.
"Maaf, karena udah ngerepotin kamu. Tadi aku bingung saat orang rumah sakit nanya di mana sanak saudaraku. Aku kepikiran kamu, cuma kamu satu-satunya orang yang aku anggap sanak saudaraku."
Entah mengapa mendengar perkataan Tama membuat hati Feby seketika merasa sedih.
"Kamu bicara apa, Mas? Udah sepantasnya kamu ngabarin aku kalau ada apa-apa." Feby pura-pura marah pada Tama.
"Tapi katamu kita cuma saudara angkat? Lagipula orang tua kita sudah meninggal dunia. Bisa dibilang kita bukan siapa-siapa lagi." Tama berkata datar, hatinya merasa sakit saat mengingat Feby pernah mengatakannya.
"Mas, aku minta maaf karena pernah ngomong kayak gitu. Sebenarnya aku nggak bermaksud kayak gitu. Bagiku, kamu tetap abangku, selamanya."
"Nggak usah minta maaf, Dek. Apapun yang kamu katakan nggak akan merubah fakta kalau kita ini memang bukan siapa-siapa."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Abang, My Crush (Complete)
RomanceMungkin jodoh tidak datang tepat waktu, tapi jodoh datang di waktu yang tepat.
