19

9.1K 784 25
                                        

Sepulang kerja Feby bergegas ke rumah kakaknya. Ia berniat meminta maaf. Saat ia sampai di sana, rumah dalam keadaan sepi. Sepertinya kakaknya itu belum pulang.

Tetangganya yang melihat kedatangan Feby mengatakan bahwa Tama pergi pagi-pagi sekali dengan membawa koper. Sepertinya akan pergi ke luar kota.

Feby kaget mendengar penuturan tetangganya. Tak biasanya Tama pergi tanpa pamit. Mungkin karena Tama merasa sangat marah padanya.

Feby berusaha menghubungi ponsel Tama, tak diangkat. Ia kembali pulang dengan hati gundah.

***

Feby terlihat lesu dan tak bersemangat saat bekerja. Andin dari tadi memperhatikannya. Ia menghampiri Feby yang sedang mengelap meja sambil melamun.

"Feb, lo sakit?"

"Em, enggak, Mbak."

"Kakak lo lagi di Makassar 'kan? Apa perlu gue kabarin dia?"

"Hah? Mbak kok tau kalau dia lagi di Makassar?"

"Kemarin itu dia pamit ke gue, sekalian nitipin lo."

Feby marah karena Tama malah berpamitan kepada Andin, bukan kepadanya. Ia marah sekaligus sedih dan kecewa.

"Feb, kok lo malah nangis?"

***

Feby mengelap kaca sambil melamun. Leon mengganggunya. Ia sengaja meniup wajah Feby dari sisi luar kaca, hingga kaca tersebut berembun. Lalu ia menggambar bentuk hati di sana. Feby yang kaget melihat ulahnya hanya diam tak merespon.

Saat Feby membantu chef menyiapkan adonan sorbet, Leon kembali mengganggu. Kali ini ia memakan buah strawberry yang sudah diiris Feby.

"Kok, malah kamu makan sih, Mas?" protes Feby.

"Akhirnya bisa bunyi juga, kirain rusak."

Feby melirik kesal pada ulah Leon yang terus saja memakan strawberry yang sudah diirisnya.

"Udah, jangan dimakan terus."

"Biarin, ini 'kan kafe kakakku. Bebas dong kalau gue makan barang yang ada di sini."

"Bebas pala lo! Gue potong gaji lo!" Andin menggeplak kepala Leon dari belakang.

"Aduh, Kak, sakit. Awas aja kalau otak gue sampai geser."

"Otak lo udah geser dari lama. Sana, sikat kamar mandi! Gangguin Feby aja kerjaan lo!"

Leon pergi meninggalkan Feby, sebelum itu ia mengambil segenggam strawberry. Feby kesal dan meneriakinya.

"Mas, Leon!"

***

"Nel, lo ngapain sih gangguin Feby mulu? Lo naksir sama dia?"

Andin memanggil Leon dengan penggalan namanya. Leonel. Dipanggilnya Onel. Hanya keluarga inti yang memanggilnya begitu.

"Habis gue gabut. Mau jalan mobil disita, mau ke club, kartu kredit disita. Intinya gue gabut."

"Halah, bilang aja lo naksir dia."

"Enggak, siapa juga yang naksir dia. Bukan tipe gue sama sekali. Tinggi enggak, seksi enggak, TT kecil, cuma imut dikit."

"Halah, kalau lo kepepet lo sosor juga."

"Impossible!"

"Lagian kalau lo lagi gembel gini mana ada cewek yang mau sama lo?" cibir Andin. Sebenarnya ia tak serius menghina. Ia tau, dalam mode kaya atau miskin, aura ketampanan adiknya tak akan luntur.

"Jangan salah, biar gembel gue tetep tampan. Prince gembel yang tampan." Ucap Leon seolah bisa mendengar isi hati Andin.

"Tampan upil lo crunchy?"

"Kak, bagi duit, dong. Bukannya sekarang waktu gue gajian?"

"Lo baru kerja tiga hari minta gaji? Lo mau gue bayar harian? Oke, sehari gue upah seratus ribu."

"Seratus ribu dapat apa, Kakakku sayang? Biaya gue sekali makan itu."

"Sehari seratus ribu sebulan tiga juta, Kampret! Feby juga gue kasih segitu. Kalau lo mau gaji banyak ya lo terima endorse kek."

"Nggak mau gue, endorsan yang masuk ke gue pada nggak masuk akal. Pemutih kulit lah, peninggi badanlah. Kan gue udah tinggi dan putih dari Yang Maha Kuasa. Gue nggak mau membohongi follower gue."

"Sok idealis!"

"Idealis adalah jalan ninjaku."

"Serah, pokoknya lo jangan sampai naksir Feby."

"Kenapa?"

"Karena gue naksir abangnya."

My Abang, My Crush (Complete)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang