Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Satu bulan kemudian. Andrea mendatangi rumah Rendy dan Liana, kakek dan neneknya. Dia datang sendirian karena lagi-lagi orang rumah sibuk dengan Jeno yang sakit-sakitan.
"Mau Nenek masakkan apa? Kamu kurus sekali!"
Tanya Liana setelah melihat Andrea yang sudah berbaring di atas karpet bulu domba dengan televisi, AC dan kipas angin yang menyala.
Liana tidak terkejut, karena memang keadaan luar sangat panas sampai-sampai cucunya menghidupkan dua alat pendingin ruangan secara bersamaan.
"Cumi-cumi dan es kelapa muda, Nek."
Liana mengangguk cepat dan duduk di samping cucunya. Kedua tangannya mulai mengurai rambut Andrea yang sangat halus terawat. Rambut-rambut kecil di dahinya juga lebat seperti kedua alis yang diturun dari ayahnya. Karena Joanna memang tidak beralis tebal seperti Andrea.
"Ya sudah, nanti sore Nenek minta Kakekmu ambil kelapa muda di sawah. Cumi-cuminya besok saja, ya? Pasar sudah tutup."
Andrea mengangguk singkat sembari menatap televisi yang menampilkan serial si kembar yang berkepala botak.
"Nek, Mama pernah pulang?"
Liana menatap Andrea, pandangannya tidak bisa diartikan. Jujur saja, hatinya terasa sakit setelah melihat cucunya yang datang sendiri. Ya, meskipun diantar orang suruhan Jeffrey. Namun tetap saja, karena mantan menantunya itu benar-benar terlihat tidak peduli dengan Andrea lagi.
"Maafkan Mamamu, ya?"
Andrea tidak lagi bersuara, namun air mata di pelupuk mata mulai keluar. Padahal, dia berharap paling tidak ibunya pulang dan akhirnya mereka dapat memiliki kesempatan untuk berjumpa.
"Suami Mama orangnya bagaimana, Nek? Dia punya anak?"
Andrea menghapus air mata di sudut mata. Mencoba terlihat tegar meskipun aslinya tidak.
"Nenek hanya bertemu sekali, waktu acara ijab kabul. Orangnya terlihat baik, tapi sepertinya lebih baik Papamu. Papamu dulu sering datang ke rumah sebelum meminta izin melamar. Tidak seperti orang itu yang datang sekali dan langsung menjemput agar mau menjadi saksi ijab kabul. Tidak, dia tidak memilki anak karena belum pernah menikah. "
"Perjaka tua, dong?"
Andrea mencoba bercanda, namun Liana justru tidak menanggapi candaanya dan beralih keluar rumah setelah mendengar suara motor di depan.
"Ada keponakanmu. Ayo masuk!"
"Om Evan!!!!"
Pekik Andrea setelah menatap Evan yang tampak baru saja pulang dari tempat kerja bersama Kinara, istrinya. Karena keduanya memang sama-sama bekerja di salah satu pabrik plastik di kota mereka.
"Cuci kaki dulu, Mas!"
Tegur Kinara setelah mengusap pucuk kepala Andrea. Dia juga mulai memasuki kamar guna melepas hijab karena kegerahan setelah seharin bekerja di ruangan pengap.
Setelah banyak cerita tentang kehidupan Andrea di Jakarta, kini tiba saatnya Rendy dan Liana mulai mendiskusikan keadaan cucu mereka.
Ceklek...
Evan baru saja menggendong Andrea menuju kamar Joanna yang terletak tepat di samping ruang keluarga tempat mereka berkumpul sekarang. Rahangnya mengeras, pertanda tidak suka dengan keadaan Andrea.
"Aku tidak tega, Andrea seperti anak terlantar padahal masih memiliki kedua orang tua lengkap."
Ucap Evan setelah menutup pintu kamar yang ditempati Andrea, takut membangunkan sang keponakan yang sudah pasti sangat kelelahan karena belum sempat tidur siang padahal baru saja melewati perjalanan panjang dari Jakarta ke Jawa Tengah.
"Mas..."
Tegur Kinara karena merasa bahwa apa yang baru saja dikatakan suaminya sedikit keterlaluan.
"Aku juga tidak habis pikir dengan pikiran Kakakmu. Kenapa bisa dia tega meninggalkan suami dan anaknya seperti itu. Tega-teganya dia..."
Ucap Liana sembari menghapus air mata, mau bagaimanapun juga dia seorang ibu, mau menjelek-jelekkan anaknya juga dia harus pikir-pikir dulu.
"Di Jakarta pasti Papanya sibuk dengan istri dan anak barunya. Apalagi anaknya suka sakit-sakitan. Kasihan Andrea, dia pasti sangat kesepian. Ibu, Ayah... bagaimana kalau besok Evan ke Surabaya? Ke rumah Kakak."
"Jangan, kasihan Kakakmu. Dia baru saja menempuh hidup baru. Jangan diganggu dulu."
Tegur Rendy sembari mematikan televisi, dia berniat tdiur karena saat ini hampir jam dua pagi.
Di dalam kamar, diam-diam Andrea mendengar pembicaraan mereka. Dia menangis tentu saja. Bahkan... orang lain saja ikut merasa sedih akan kisahnya, apalagi dirinya yang sudah menahan ini sejak lama.