Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Joanna mengejar Malvin yang sedang menangis kencang dan berlari menuju lapangan golf yang terletak di belakang rumah. Hatinya ikut terluka dan membuatnya ikut menangis sembari menyerukan nama anaknya.
"Malvin... berhenti, Nak. Mama yang salah. Ini semua terjadi karena Mama."
Malvin berhenti berlari, kemudian membalikkan badan dan menatap ibunya yang sudah menangis.
"Mama yang salah, Mama egois karena ingin menahan Malvin. Seharusnya Mama tidak merahasiakan ini dan membuat Malvin menderita seperti ini."
Joanna berjongkok di depan Malvin, menyamakan tinggi badan agar anaknya dapat mendengar ucapannya dengan baik.
Air mata Malvin kembali menglir, tangan kecilnya juga mulai mengusap air mata ibunya yang ikut mengalir.
"Bukan salah Mama, ini salah Papa Jeffrey. Dia yang membuat kita seperti ini."
Seiring bertambahnya usia, Malvin semakin pintar dan tahu akan fakta yang menyebabkan orang tuanya berpisah.
Karena ajaran kebaikan yang Joanna tanamkan sangat kuat, Malvin tumbuh menjadi anak pemaaf dan tidak membenci orang-orang yang telah menyakitinya. Sehingga membuatnya tidak menaruh sedikitpun rasa benci pada Jeffrey maupun Isla. Ya, meskipun ada sedikit rasa iri pada Jeno karena telah mendapat kasih sayang yang begitu besar dari ayah kandungnya.
"Kita masuk sekarang. Mama akan mengatakan yang sebenarnya. Mama ambilkan surat tes DNA yang sudah Mama siapkan di kamar."
Joanna segera mengusap air mata Malvin dengan perlahan, kemudian berdiri sembari menggandeng Malvin menuju rumah kembali. Namun tiba-tiba saja Jeffrey datang dengan berlari sampai-sampai menabrak cukup keras bahu Johnny.
"Malvin..."
Jeffrey langsung berlutut di depan Malvin, menarik tubuh kecilnya dari Joanna dan mendekapnya erat sekali.
"Maafkan, Papa. Seharusnya Papa sadar lebih awal. Maafkan Papa karena sudah berbicara yang tidak-tidak."
Jeffrey memejamkan mata dan meloloskan bulir air mata dari sana. Kedua tangannya juga semakin mendekap tubuh Malvin erat-erat, seolah tidak ingin anaknya lepas sekarang.
Dengan hati-hati, telapak tangan Jeffrey merambat pada bagian belakang kepala Malvin, mengusapnya pelan seperti yang biasa dilakukan pada Jeno tempo hari.
"Papa jahat!"
Suara Malvin terdengar begitu pilu, hingga membuat Joanna ikut menangis dan menatap dua orang yang pernah sangat dicintai dulu.
Di ruang makan, Jeno tampak ditinggal sendirian karena Andrea ikut berlari mengejar Malvin yang berlari menuju belakang rumah.
Sekedar informasi, Jeno masih bisa mendengar. Namun harus menggunakan alat bantu dengar.
Duk...
Jeno jatuh dari kursi, hingga membuat alat bantu dengarnya terlepas dan jatuh ke kolong meja dekat pantry.
"Sedang apa Mas Jeno?"
Jeno tentu saja tidak mendengar pertanyaan salah satu asisten rumah tangga yang berniat membantunya. Hingga membuat Jeno terus saja berusaha meraih alat dengar di kolong meja meskipun sedikit kesusahan.
Belum sempat asisten rumah tangga tadi menyentuh tubuh Jeno, tiba-tiba saja keadaan lantai rumah bergetar. Kemudian disusul oleh debuman keras yang berasal dari beberapa perabotan rumah yang berjatuhan.
Jeffrey yang menyadari ada gempa datang, kini langsung melepas pelukan karena mengingat Jeno masih berada di dalam rumah.
"Biar aku saja! Andrea, lari ke dekat Mama!"
Johnny langsung berlari menuju rumah karena tidak tega melihat kebahagiaan Malvin diinterupsi oleh gempa.
Joanna ingin ikut masuk, namun Malvin langsung menarik tangannya agar tetap berada di tengah-tengah lapangan golf yang sangat luas dan cukup jauh dari bangunan rumah.
Jeffrey juga ingin melakukan hal yang sama. Namun Malvin yang mulai menggenggam tangannya, kini membuatnya mengurungkan niat untuk ikut masuk ke dalam.
"Mama!"
Pekik Andrea ketika tiba-tiba saja bangunan rumah ambruk perlahan dan membuat Joanna refleks ingin berlari mendekat guna menyelamatkan suaminya.
Masih kuat baca?
Satu chapter lagi selesai. Kasih kesan pesan kalian pas baca cerita ini dan kasih alasan kenapa next chapter harus dipanjaaangin?