Selamat membaca🌻
---
Pagi ini Bagas sudah rapi dengan pakaian khas ke kantornya. Jam baru menunjukkan pukul enam pagi. Bagas mengambil tas kerjanya lalu keluar kamarnya menuju ruang makan.
"Bagas? Kapan kamu pulang? Mama kira kamu tidak pulang semalaman." Ujar Kiran yang sedikit kaget saat melihat Bagas ada di rumah.
Bagas duduk di kursi meja makan lalu menelungkupkan kepalanya di meja. Lelaki itu masih mengantuk sebenarnya, semalam hampir seharian ia menemani Keysha. Bagas juga pulang larut malam karena Keysha tak membolehinya pulang sebelum gadis itu tertidur.
"Bagas?" Panggil Kiran sambil mengusap kepala sang putra lembut.
"Bagas ngantuk ma.." ujar Bagas dengan suara seraknya.
Kiran mengerutkan keningnya bingung. "Tadi malam kamu pulang jam berapa? Kok mama gak tau kamu pulang? Mama kira kamu lembur di kantor." Ujar Kiran panjang lebar.
Bagas mengangkat kepalanya lalu menatap Kiran. "Bagas pulang jam setengah dua belas kemarin, Bagas habis dari rumah Om Andrew kemarin." Sahut Bagas jujur, memangnya untuk apa berbohong?
Kiran semakin mengerutkan keningnya bingung. "Ngapain kamu ke sana sampai selarut itu?" Tanya Kiran kebingungan.
"Om Andrew pergi ke Amerika, anaknya minta Bagas buat temenin dia." Sahut Bagas seadanya.
Mendengar kata anak yang keluar dari mulut Bagas membuat Kiran tersenyum. "Kamu dekat sama anaknya Andrew?" Tanya Kiran masih dengan senyuman.
Kini Bagas yang menatap sang mama dengan kerutan di keningnya. "Gak kok, biasa aja." Sahutnya.
Kiran menarik kursi yang berada di samping Bagas lalu mendudukinya. "Mama lupa siapa nama dia tapi dulu mama pernah ketemu sama dia waktu dia kecil. Mama kasian sama dia masih kecil udah ditinggal mamanya, sedangkan Andrew ia adalah orang yang gila kerja." Tutur Kiran panjang lebar.
Di dalam hati, Bagas membenarkan delapan kata terakhir yang keluar dari mulut Kiran. Andrew memanglah orang yang gila kerja, lelaki paruh baya itu selalu bekerja keras dari pagi hingga malam.
"Kalau kamu memang dekat sama dia, mama setuju-setuju aja." Tutur Kiran santai.
Bagas menatap sang mama jengah. "Keysha masih kecil ma, mana mungkin Bagas dekat sama anak kecil seperti dia." Sahut Bagas menggelengkan kepalanya singkat.
Kiran mengedikkan bahunya acuh. "Nyatanya anak kecil itu mampu membuat kamu peduli sama dia." Ujar Kiran tersenyum menggoda.
Kiran menatap Bagas intens. Bagas yang ditatap sang mama seperti itu hanya diam.
"Bagas, mama itu mama kamu, wanita yang melahirkan kamu. Mama tau bagaimana kamu, mama tau sifat, sikap, dan kebiasaan kamu. Kamu memang mengatakan bahwa Keysha hanyalah gadis kecil yang tak mungkin kamu sukai, tapi nyatanya gadis kecil itu mampu bikin kamu peduli sama dia," ada jeda, Kiran menatap Bagas serius. "Kamu belum pernah sepeduli ini sama orang, apalagi sama perempuan kecuali sama mama. Mama tau pasti kamu ada sedikit rasa buat dia, tapi kamu gak sadar itu." Sambung Kiran dengan panjang lebar.
Bagas menghembuskan napasnya lelah. "Bagas memang ada rasa sama dia, rasa peduli dan itu gak lebih. Bagas pamit dulu, mau ke kantor." Setelahnya Bagas mencium punggung tangan Kiran lalu melenggang pergi.
***
Keysha memarkirkan mobilnya dengan rapi di parkiran sekolahnya. Gadis itu berjalan meninggalkan area parkiran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ayo Nikah Om!
Romansa"Om gak boleh pelit sama Key!" "Kenapa?" "Kan Key kesayangan om!" Bagas Kastria lelaki berusia 24 tahun yang memiliki wajah tampan dan badan kekar itu sampai sekarang belum juga memiliki kekasih. Jika teman-temannya semua sudah memiliki istri dan an...
