Satu hal yang ingin Kara rubah di dalam hidupnya. Menjadi anak yang kehadirannya diinginkan oleh Ayah kandungnya sendiri.
Menyandang nama Pradipta tak seindah yang orang lain bayangkan. Tampil perfectionist dan pintar adalah kewajiban yang harus Kar...
Kara terbangun dari tidurnya tepat pada pukul dua belas malam. Setelah satu jam tadi gadis itu menangis, ia sampai tak sadar telah menyusuri alam mimpinya kurang lebih hingga enam jam.
Pandangannya tertuju pada sebuah sticky note yang tertempel di atas nakas sebelah ranjang tidurnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gadis itu beranjak dari ranjang tidurnya. Menggeret tiang infus, lalu melangkahkan kakinya ke tempat yang Anka maksud.
°°°
Ia memberhentikan langkahnya tepat di depan pintu rooftop yang masih tertutup dengan sempurna. Napas Kara cukup terengah-engah, karena dirinya harus menaiki banyak anak tangga jika ingin sampai pada titik yang sekarang tengah ia pijak.
"Kok gak ada orang?" Gadis itu bergumam. Kara memilih untuk melangkahkan kakinya menuju tepi rooftop. Ia memandangi beberapa kendaraan yang berlalu lalang di bawah sana seraya menikmati semilir angin yang menerpa wajah serta rambutnya.
"Kenapa gak pake jaket, sih?" Tanya seseorang seraya memakaikan sebuah jaket pada tubuh Kara yang hanya dilapisi dengan baju rumah sakit.
Gadis itu hanya menyengir sebagai respon. "Lo mau ngapain suruh gue malem-malem dateng ke sini? Bukannya lo lagi jagain Ana?"
"Bunda gue udah pulang." Kara mengangguk paham.
"Ra?"
"Hm?" Kara tetap setia memejamkan kedua kelopak matanya. "Lo inget gak, hari ini hari apa?"
"Rabu." Sesuai dengan dugaan Anka, gadis itu melupakannya.
"Happy birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday, happy birthday, happy birthday Kara..."
Nyanyian itu membuat kedua kelopak mata Kara terbuka dengan sempurna. Tepat di samping sofa yang tengah ia duduki, terdapat Anka serta sebuah birthday cake berukuran sedang berada di atas telapak tangan laki-laki itu.
"Selamat ulang tahun buat sahabat gue yang paling cerewet sedunia. Gue doain, semoga lo cepet-cepet dapet pacar--"
"Aduhhh. Sakit sumpah, Ra." Anka mengaduh kesakitan, karena jitakan yang dilayangkan oleh Kara. "Gue udah punya pacar, kalo lo lupa, mblo!"
"Mblo?"
"Jomblo. Gitu aja ngga tau. Main lo kurang jauh, sih." Anka memutar kedua bola matanya. "Lo make a wish sendiri aja, lah."
"Dih, baperan amat lo kayak betina!" Kara mulai merapalkan doa, serta harapan yang ingin ia wujudkan di hari-hari setelah peringatan hari kelahirannya. Gadis itu meniup api yang tengah menyala di atas lilin yang melambangkan angka tujuh belas.
"Kado buat lo." Anka menyodorkan satu buah kotak berwarna navy yang memiliki ukuran sedang.
Kara meletakkan punggung tangannya di dahi Anka. "Perasaan gak panas." Kara bermonolog.