Luna membantu Nana mengemasi barang-barang ibunya. Hari ini ibu Nana sudah diperbolehkan pulang. Kata dokter keadaannya sudah stabil hanya perlu untuk istirahat yang cukup dan jangan melakukan perkejaan yang berat terlebih dahulu.
"Luna, makasih ya, udah nemenin Nana pas Tante sakit," ucap ibu Nana.
Luna tersenyum, "Iya Tante, sekarang Tante sehat-sehat terus ya, jangan sakit lagi," kata Luna.
"Makasih ya Lun, seneng deh gue bisa ngerepotin lo," kata Nana dengan cengengesan.
"Slepet mau?"
Mendapatkan penawaran seperti itu, tentu saja Nana menolak.
"Udah ah, ayo sekarang kita pulang," titah Dela--ibu Nana.
"Tante, maaf Luna ga bisa nganterin Tante sampe rumah," ujar Luna, ia sebenarnya memiliki urusan lain setelah ini.
"Mau kemana emang lo?" tanya Nana.
"Ada urusan, maaf ya," jawab Luna.
Dela tersenyum, "Ga papa, kamu dateng ke sini aja Tante seneng," kata Dela.
****
Luna duduk dihadapan Arkan. Mereka berdua sudah membuat janji untuk bertemu di kantin rumah sakit. Arkan bilang tadi ada sesuatu yang ingin Arkan bicarakan.
"Sudah pulang?" tanya Arkan yang bermaksud menanyakan Ibu Nana.
"Ahh, iya sudah. Kenapa Bapak ngajak saya di sini?"
Arkan memandang Luna, "Ayo kita ketemu April. Kita luruskan ini semua," ajak Arkan tanpa basa-basi.
"Bapak serius?"
Arkan menganggukkan kepalanya, "Iya bagaimana?"
"Pak," panggil Luna yang menahan pergelangan tangan Arkan.
"Ada apa Luna?" tanya Arkan dengan memandang teduh gadisnya.
"Luna bisa tahan ini untuk sementara waktu kok Pak. Luna masih bisa tahan," ucap Luna pada Arkan.
"Tapi Luna-"
Luna langsung memotong ucapan Arkan. "Kita bicara itu semua setelah kondisi April setabil saja. Saya ga mau ambil resiko."
Arkan hanya bisa menghela napas. Apa yang dikatakan oleh Luna itu ada benarnya. Tapi Arkan juga tidak tega kepada Luna.
"Pak, percaya ya sama saya," ujar Luna lagi. Kali ini suara Luna lembut sekali seolah-olah penuh dengan keyakinan.
****
Arkan menghentikan mobilnya di depan rumah Luna. Dia memandang gadisnya yang juga tengah memperhatikan dirinya. Suasana di dalam mobil terasa hening. Mereka berdua memilih untuk bungkam. Hingga akhirnya Arkan yang lebih dahulu mengakhiri keheningan itu.
"Terimakasih ya, dan maaf," ucap Arkan.
Luna mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti ucapan Arkan. "Untuk?" tanyanya.
"Saya mewakili April. Dan tentunya saya juga," jawab Arkan.
"Saya melakukan itu untuk kebaikan April saat ini Pak. Dari apa yang saya berikan, saya harap Bapak bisa menjaga kepercayaan saya," kata Luna dalam.
Arkan tersenyum, kemudian ia mengangguk yakin. Arkan akan menjaga kepercayaan Luna dan Arkan harap semoga semuanya akan baik-baik saja kedepannya.
Luna melepas seat belt-nya kemudian dengan berani ia mencium pipi Arkan. Luna tidak tau keberanian itu datang dari mana, tapi Luna ingin melakukannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pak Dosen
Fiction générale[On Going] Luna Angelina seorang mahasiswi cantik jurusan ekonomi semester tujuh Yang tanpa sengaja mendapatkan dosen pembimbing bernama Arkan yang dikenal dengan sikap disiplinnya. "Bapak kok perhatian gitu sama saya?" ujar Luna bertanya Arkan dibu...
