Sesuai dengan janjinya pagi-pagi sekali Arkan sudah berada di rumah Luna, penampilan Arkan cukup santai. Dia hanya mengenakan celana bahan pendek serta kaos hitam. Intinya berbeda dari hari-hari biasanya.
Libur weekend ini yang momennya juga pas, akan Arkan manfaatkan sebaik-baiknya untuk Luna. Mereka akan pergi dari pagi ini sampai Minggu sore.
Luna keluar dengan menenteng tas kecil yang berisi beberapa pakaian yang akan ia kenakan selama pergi berlibur. Semalam dia beritahu oleh Arkan bahwa mereka akan menginap.
Luna memperhatikan Arkan dari atas sampai bawah lalu dari bawah ke atas lagi. Dalam hati dia memekik senang kekasihnya ini begitu tampan dengan pakaian kasualnya.
"Ada apa?" tanya Arkan yang merasa risi dipandang Luna seperti itu.
"Kok tumben," sahut Luna senyum-senyum tak jelas.
"Tumben apa?"
"Itu..." tunjuknya pada pakaian yang dikenakan Arkan.
"Jelek ya?" tanya Arkan tak percaya diri.
Luna mendengus kesal. Merendah untuk meroket kan Arkan ini? Mana ada dia jelek. Jeleknya Arkan itu sama apa ya kira-kira? Sepertinya dia itu tidak pernah jelek.
"Cocok kok, Kelihatan lebih muda," ujar Luna nyengir.
Arkan menautkan lengan tangannya pada leher Luna, "Jadi selama ini saya kelihatan tua?" tanyanya.
Sambil tertawa Luna memukul-mukul pelan tangan Arkan yang mengapit lehernya.
Luna berdehem, "dari segi umur sih udah tua lah Pak, ga bisa bohong. Cuma untuk penampilan boleh lah," kata Luna sembari tertawa kecil.
"Bisa aja kamu ini," ujar Arkan dengan menjitak pelan kepala Luna.
"KDRT nih," ujar Luna dengan mengusap-usap kepalanya, lalu berjalan terlebih dahulu meninggalkan Arkan yang masih menatapnya takjub.
****
Sebelum memasang sabuk pengaman dan sebelum mobil melaju, Luna menyempatkan bertanya terlebih dahulu. Dia itu penasaran akan di bawa kemana dirinya ini, sampai-sampai harus membawa baju ganti.
"Mau kemana kita?" tanya Luna yang digerogoti rasa penasarannya.
"Ke Villa saya yang ada di puncak," akhirnya Arkan mengaku juga.
Luna hanya berohria saja sebagai jawaban.
Melihat respon Luna yang seperti itu membuat Arkan tak puas. "Kamu ga penasaran kita mau ngapain?" tanya Arkan dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Katanya suprise. Kalo tanya nanti ya ga suprise. Gimana sih," ada saja yang bisa Luna jawab.
Karena gemas Arkan menarik hidung Luna.
"Bisa aja kamu," ujar Arkan.
****
Di dalam mobil sedari tadi Luna asik sendiri dengan alunan lagu yang tengah diputar. Dia menikmatinya tanpa berpikir harus menjaga image-nya di depan Arkan.
"Kamu tidak lelah Luna?" tanya Arkan heran karena melihat Luna begitu aktif.
Tangan Luna aktif menyentuh puncak kepala Arkan. "Harus dinikmati sayang," ujar Luna geli.
"Apa-apa?" tanya Arkan yang merasa tak puas. Ia butuh pengulangan.
"Ga ada pengulangannya," jawab Luna yang membuat Arkan kecewa.
Luna tertawa puas untuk ini.
Luna menyipitkan matanya saat memperhatikan jalanan depan, netra matanya tak kuasa menahan sinar matahari yang mulai merangkak naik. Dia mengeluarkan sesuatu di dalam tas kecilnya, lalu ia berikan pada Arkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pak Dosen
General Fiction[On Going] Luna Angelina seorang mahasiswi cantik jurusan ekonomi semester tujuh Yang tanpa sengaja mendapatkan dosen pembimbing bernama Arkan yang dikenal dengan sikap disiplinnya. "Bapak kok perhatian gitu sama saya?" ujar Luna bertanya Arkan dibu...
