HALO!!!
HOW ARE YOU?
I HOPE YOU ALWAYS HAPPY AND HEALTHY!
JANGAN BOSAN-BOSAN YA UNTUK BACA CERITA INI. AKU JUGA MAU NGUCAPIN MAKASIH! HUG🖤
#I'mOke.
Happy Reading!!!
Luna merapatkan cardigannya, udara dingin benar-benar menusuk dirinya. Tenang Luna tidak merasa kedinginan sendiri, ada teman yang ikut merasakannya juga yakni Arkan.
Arkan memeluk Luna dari belakang agar Luna tak terlalu kedinginan. Bayangkan saja ini pukul 01:00 malam dan mereka tengah berada di daerah puncak yang jelas temperatur suhunya saat malam pasti dingin.
"Saya udah nyiapin itu buat kamu," ujar Arkan sembari menunjuk sebuah teropong yang berdiri di depan mereka berdua.
Luna tersenyum, kira-kira apa yang nanti Luna kan lihat dengan teropong itu?
"Ada hujan meteor kah Pak?" tanya Luna.
Arkan langsung menggeleng sebagai jawaban.
"Terus?" ujar Luna lagi.
"Kamu bisa carikan saya bintang yang paling terang malam ini?" kata Arkan. Hal itu terdengar seperti permintaan di telinga Luna.
Luna menatap langit malam yang bertaburan bintang dan rata-rata cahayanya bersinar terang. Lantas bagaimana Luna bisa mencari bintang yang paling terang?
"Baiklah, saya coba dulu. Misal engga ketemu jangan nangis ya," ujar Luna dengan gurauan.
Arkan mengusap-usap pucuk kepala Luna sambil tertawa kecil. Luna kira Arkan akan menangis kalau permintaannya tidak terpenuhi. Ah, bikin gemas aja Luna ini.
Luna melepaskan pelukan Arkan dari tubuhnya kemudian berdiri di depan teropong. Gadis itu mulai mencari bintang yang paling terang. Jujur penglihatan Luna malam ini penuh dengan bintang, benar-benar indah.
Masih dengan posisi mengamati Luna berkata, "Pak bintangnya terang semua."
"Benarkah?" kata Arkan dari belakang.
"Iya. Karena terang semua saya pilih satu aja ya Pak," Luna memberikan penawaran.
"Boleh," jawab Arkan.
Gadis itu tersenyum, kebetulan Barusan dia menemukan bintang yang menurutnya lumayan menarik. Buru-buru Luna meminta Arkan mendekat.
"Sini Pak, coba liat." Luna meminta Arkan mendekat.
"Bapak jangan sentuh teropong itu takut geser," Luna menganjurkan agar Arkan tidak menyentuh teropong itu. "Ini bintang aku pilih khusus buat Bapak," imbuhnya.
Arkan tersenyum bahagia, benarkah itu? Arkan jadi penasaran kira-kira bintang yang seperti apa yang gadisnya pilihan untuk dirinya.
Arkan mulai melihatnya melalui teropong itu. Ada keanehan di sana. "Kok dua? Saya kan mintanya satu," protes Arkan.
"Baru liat udah protes! Di amati dulu lah, dinikmati," seru Luna yang tak terima saat Arkan protes.
"Sudah," jawab Arkan yang kini mengalihkan perhatiannya pada Luna.
"Suka ga?"
"Lumayan."
"Lumayan apa?"
"Lumayan suka Luna," jawab Arkan.
"Kenapa lumayan suka?"
Arkan menghela napasnya. Kemudian menyentuh sebelah pipi Luna untuk dia usap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pak Dosen
Fiksi Umum[On Going] Luna Angelina seorang mahasiswi cantik jurusan ekonomi semester tujuh Yang tanpa sengaja mendapatkan dosen pembimbing bernama Arkan yang dikenal dengan sikap disiplinnya. "Bapak kok perhatian gitu sama saya?" ujar Luna bertanya Arkan dibu...
