Arkan dan Luna sama-sama terdiam di dalam mobil. Arah pandang mereka menatap ke depan. Sebenarnya Arkan cukup relax, berbeda dengan Luna. Beberapa kali juga Arkan meminta untuk turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah. Mereka berdua sudah cukup lama bertahan di dalam mobil.
"Luna ayo!" ajak Arkan untuk yang kesekian kalinya.
"Mas mau ikut masuk?" tanya Luna.
Dengan mantap Arkan mengangguk. "Jelas aku harus masuk. Kenapa memang?"
Luna meringis, "Kalau lain kali aja gimana Mas?"
Arkan paham dengan maksud Luna, melihat ekspresi Luna sungguh menggemaskan.
"Kenapa memangnya? ibu kamu galak?" goda Arkan sambil terkekeh pelan.
Luna menggigit ujung jarinya, "Ibu engga galak. Cuma cerewet aja," papar Luna yang begitu terus terang.
Arkan menepuk pelan kening Luna. "Hustt, engga boleh gitu!" Larang Arkan. Menurut Arkan hal itu kurang sopan.
"Ya maaf, tapi bener. Pasti nanti ibu tanya, kerja di mana? Siapanya anak saya? Anaknya siapa kamu? Dan masih banyak lagi." Luna berusaha menjelaskan secara detail kejadian apa yang kira-kira akan terjadi nanti.
Arkan terkekeh geli. Bukankah itu hal yang wajar?
"Aku engga papa Luna." Arkan paham betul dengan situasi ini. Arkan sudah lama menantikan hari ini, dari jauh-jauh hari juga Arkan sudah mempersiapkan jawaban-jawaban yang mungkin nanti akan ia butuhkan.
"Tapi Mas..."
"Udah ayo kita masuk!"
****
Tinggal beberapa langkah lagi untuk masuk ke dalam rumah tapi Luna malah semakin memelankan langkanya. Dia tidak enak, takut kalau nanti Arkan merasa risih.
Arkan yang melihat keengganan pada diri Luna, merengkuh bahu Luna. "Kamu lupa kalau aku Arkan? Ibu kamu sudah kenal aku Luna," ucap Arkan penuh percaya diri.
Luna tak menjawab ucapan Arkan, dia tersenyum kemudian masuklah mereka berdua ke dalam rumah. Seperti dugaan ternyata Juan sudah berdiri di dalam dan siap menyambut kedatangan mereka berdua. Berlebihan memang.
"Kenapa baru datang?!" kedatangan keduanya tidak disambut basa-basi oleh Juan.
"Macet." Arkan dengan cepat memberikan alasannya. Di sini Arkan tidak berbohong dia bicara jujur, lagian mana mungkin kan Puncak ke Jakarta tidak macet. Kalau tidak macet berarti rezeki anak soleh.
"Kasihan kejebak macet," Juan turut prihatin sekarang.
"Emang pas Bang Juan pulang engga macet?" Luna bertanya karena kelihatannya abangnya ini tengah di atas angin--merasa menang.
"Dek kamu tau, ini tuh tergantung amal ibadah," jawab Juan sembarangan.
Luna berdecih, tidak jelas sekali abangnya ini. Luna tidak percaya kalau Juan tidak ditimpa macet.
"Itu Luna, Juan?" Seorang wanita cantik baru saja muncul dari arah dapur dengan gelas marmernya.
"Iya Bu. Dia barusan sampai," jawab Juan.
Sebelum Ibunya berjalan mendekat Luna terlebih dahulu mendekati ibunya. Luna jabat tangan ibunya kemudian dia kecup punggung tangannya.
"Ibu kok engga bilang-bilang kalau mau ke sini?" protes Luna.
Wanita itu mengedikan bahunya sebagi respon atas pertanyaan anak perempuan kesayangannya.
"Gimana kabar Ibu?" Bertanya kabar itu adalah hal yang wajib ditanyakan oleh Luna setelah sekian lama tidak berjumpa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pak Dosen
General Fiction[On Going] Luna Angelina seorang mahasiswi cantik jurusan ekonomi semester tujuh Yang tanpa sengaja mendapatkan dosen pembimbing bernama Arkan yang dikenal dengan sikap disiplinnya. "Bapak kok perhatian gitu sama saya?" ujar Luna bertanya Arkan dibu...
