Daya Jual Kurang

4 0 0
                                        

Agama Islam dibangun dengan landasan keilmuan yang kokoh. Maka tidak heran jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah sabdanya mewajibkan setiap orang islam baik laki-laki maupun perempuan untuk mencari ilmu, lebih-lebih ilmu agama. Karena tanpa ilmu, segala macam ibadah yang diritualkan akan terasa hampa, bagai raga tanpa nyawa.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun secara turun temurun melalui risalah yang dibawanya telah mengalirkan pancaran keilmuannya melalui para sahabat, tabi'in, tabi'it tabi'in hingga kedalam relung hati para ulama sebelum sampai kepada kita semua. Diantara salah satu para sahabat yang mendapat risalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yakni Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu.

Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu adalah satu di antara orang yang pertama kali masuk islam. Beliau merupakan sepupu dari Rasulullah shallallahu' alaihi wa sallam, sosok yang lebih Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam percaya untuk memimpin dan menjadi imam bagi putri beliau yaitu Fatimah Azzahra, maka profil Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu tidak bisa diragukan lagi.

Bahkan dalam hadits riwayat Abdullah ibn Abbas radhiallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu' alaihi wa sallam menegaskan posisi Sayyidina Ali sebagai gerbang keilmuan Islam.

أَنَا مَدِيْنَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا فَمَنْ أَرَادَ الْمَدِيْنَةَ فَلْيَأْتِهَا مِنْ قِبَلِ البَابِ

"Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya. Barangsiapa ingin mendatangi kota, maka hendaknya mendatanginya dari gerbangnya."

Maka menjadi penting bagi kita untuk mematuhi petuah dan nasihat Sayyidina Ali bagi para pencari ilmu agar kita mampu memasuki kota ilmu (Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) melalui gerbang yang sudah beliau tunjukkan dalam hadits diatas tersebut.

Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu pun banyak memberikan nasehat tentang ilmu. Diantara nasihat beliau adalah apa yang disampaikan pula oleh Al-Imam Ibnu Jama'ah rahimahullah, kata beliau : "Cukuplah ilmu itu mulia ketika orang yang tidak berilmu mengklaim dirinya sebagai ahli ilmu dan senang ketika digelari ahli ilmu (padahal dia bukan merupakan ahli ilmu). Dan cukuplah kebodohan itu divonis tercela ketika orang bodoh pun berlepas diri dari kebodohan (atau orang bodoh tidak mau dikatakan bodoh)", dia tahu dirinya itu bodoh, KW sebenarnya, tapi dia senang. Dan ini menunjukkan bahwa ilmu itu mulia. Saking mulianya, orang yang nggak dapat ilmu, mengklaim dapat ilmu.

Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu mengatakan,

العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ

"Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu." (Al Amru bil Ma'ruf wan Nahyu 'anil Mungkar, hal. 15)

Ilmu itu menjamin kesuksesan di dunia dan akhirat. Dan bagi orang-orang yang mengklaim dirinya dapat ilmu (penuntut ilmu KW), paling tidak dirinya mendapat keuntungan dunia dari klaimnya itu. Begitulah ilmu, saking menggiurkan fasilitas dunia didapatkan ketika seseorang dianggap berilmu baik di lingkungan atau masyarakatnya sampai-sampai seorang penuntut ilmu KW (yang dia bodoh sebenarnya), rela mempertaruhkan akhiratnya lalu mengklaim dirinya berilmu serta senang dianggap seperti itu padahal dirinya bukan bagian dari ahli ilmu, dan dia tuh tahu sikap tersebut merupakan sebuah tanda kemunafikan. Karena tanda kemunafikan adalah sebuah kebohongan.

Ruang SemangatCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang