Al Imam Habib bin Syahid rahimahullah berkata kepada anaknya :
"Wahai anakku, bersahabatlah dengan para fuqoha dan ulama, dan belajarlah ilmu dari mereka dan ambillah atau pelajarilah adab-adabnya. Sesungguhnya hal itu lebih aku sukai daripada engkau menghafal banyak hadits."
Dari perkataan Al Imam Habib bin Syahid rahimahullah di atas, mengindikasikan bahwa kita harus terus menempel, terus bersama, meng-copy paste, bersahabat dengan ahli ilmu dengan cara mempelajari adab mereka. Bukan sekedar interaksi tanya jawab, bukan sekedar berguru tanpa adab.
Muhammad bin Sirrin, sosok yang luar biasa dalam perangai adabnya, pernah mengutus seseorang kepada Seorang Fuqoha sab'ah terbaik di Madinah. Dan kita tahu, Madinah An-Nabawiyyah, telah menyimpan banyak kenangan bersejarah yang tidak akan terlupakan dalam sendi kehidupan kaum muslimin. Di sanalah tonggak jihad fi sabilillah mulai dipancangkan, di bawah naungan nubuwwah dalam rangka meninggikan kalimat Allah 'azza wajalla di muka bumi dan memadamkan api kesombongan dan keangkaramurkaan kaum musyrikin. Dimana semua umat islam ilmunya pada saat itu, berujung pada seseorang yang bernama Al-Qosim bin Muhammad bin Bakr. Muhammad bin Sirrin mengutus seseorang untuk memperhatikan setiap gerak gerik, pakaian, dan adab Al-Qosim (Cucu dari Abu Bakar As Shidiq).
Kisah Al-Qosim ini penuh dengan inspirasi sehingga layak bagi kita terutama pada saat itu Muhammad bin Sirin ingin meng-copy paste adab beliau.
Al-Qosim pernah kedatangan arab badui lalu ditanya : "Aku mau tahu siapakah yang lebih berilmu anda ataukah Salim bin Abdullah bin Umar?". Salim bin Abdullah bin Umar adalah cucu dari Umar bin Khatthab. Maka Al-Qosim menjawab : "Subhanaallah.. Setiap orang akan ditanya tentang kelebihan masing-masing". Mendengar jawaban yang kurang memuaskan itu, membuat orang badui itu terus bertanya : "Siapakah yang memiliki kelebihan diantara kalian?". Al-Qosim menjawab : "MasyaAllah". Orang badui itu terus mengejar-ngejar Al-Qosim dan menanyakan pertanyaan yang sama, "Tolong jawab, siapa yang lebih berilmu diantara kalian? Anda atau Salim??". Lalu tak beranjak lama lewatlah Salim bin Abdullah bin Umar. Ditanya lagi hal yang sama pada Al-Qosim, maka Al-Qosim justru memerintahkan Arab Badui tersebut agar bertanya langsung kepada Salim.
Ibnu Ishaq mengomentari kisah luar biasa ini : "Sikap Al-Qosim pada kisah tersebut adalah bermaksud tidak suka melebihkan dirinya dan dia tidak mau mensucikan diri, tetapi jika dijawab Salimlah yang lebih pintar dibanding Al-Qosim maka dia berbohong padahal dialah yang lebih pintar".
Inilah yang digunakan Al-Qosim dalam beradab untuk menghindari pertanyaan yang baginya tidak perlu dijawab iya atau tidak.
Kisah lain dari Al Qosim adalah beliau pernah terlibat perebutan barang dengan seseorang.
Dengan bijaknya Al-Qosim berkata : "Ini barang yang engkau perebutkan dariku jikalau ini memang punyamu, silahkan ambil dan jangan menguji saya. Tapi jika ini memang punya saya, maka silahkan ambil untukmu dan saya sudah halalkan".
Salah satu yang kurang dalam kehidupan kita hari ini yaitu belum mengetahui dan mendapati contoh yang baik terutama seperti kisah adab Al-Qosim diatas.
Imam Ahmad berkata dalam kitab 'Ilal wal ma'rifatur rijal : "Tidak ada orang yang adab dan akhlaknya seperti Al Qomah dibandingkan Ibrahim An-Nakhai dan tidak ada seseorang yang adab dan akhlaknya sama dengan Ibnu Mas'ud melainkan Al-Qomah dan tidak ada yang adab dan akhlaknya lebih sama dengan Rasulullah melainkan Abdullah bin Mas'ud".
KAMU SEDANG MEMBACA
Ruang Semangat
Short StoryTulisan ini adalah catatan kisah perjalanan dalam segelincir waktu yang saya pergunakan untuk menuntut ilmu dengan sebutan "Halaqoh". Semoga bermanfaat.. Mohon koreksi dan saling mengingatkan jika terdapat salah dan khilaf.
