Warisan Berharga

0 0 0
                                        

Orang ngga hanya cukup ngaji satu atau dua kali saja, karena ngaji atau menuntut ilmu itu sejatinya merubah perilaku, merubah karakter, sebagaimana kita bersikap, maka kita akan disikapi dengan cara yang sama dan inilah konsep hidup atau hukum sebab-akibat, yaitu "balasan itu tergantung jenis perbuatannya atau amalnya". Maka kitalah yang membangun brand kita sendiri (dengan konotasi positif ya bukan materialistis), yang membangun opini publik terhadap kita bukan karena mereka tapi karena Allah Azza wa Jalla, makanya caranya nggak murah caranya tuh harus dengan berbuat baik, dengan keikhlasan, yang semuanya itu semata hanya mengharapkan ridho Allah, jadilah orang akan memberikan feedback positif pada kita. Karena, "ridho manusia itu adalah cita-cita yang tidak mungkin tercapai", begitulah kata-kata indah dari Al Imam Asy Syafi'i rahimahullah. Manusia itu tidak semuanya atau sepenuhnya suka dengan kita, tapi lihat tuh makhluk-makhluk lain, semua ikut beristighfar untuk kita, untuk orang-orang yang mau ngaji, untuk para penuntut ilmu atau ulama. Ingat, ada makhluk lain yang lebih setia, yang nggak pernah pamer ketika dalam beristighfarnya, yang tulus banget ngasih istighfarnya buat kita sampai bisa dikatakan dosa-dosa kita tuh hilang efeknya pun hilang, karena penuntut ilmu itu hobinya adalah menyebarkan kebaikan dan menuntut ilmu dan sesungguhnya kesuksesan adalah rutinitas bukan hanya sekedar event.

Kita lanjutkan hadits dicatatan sebelumnya dengan judul "support system".

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْـجَنَّةِ وَإِنَّ الْـمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِـمِ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ حَتَّى الْـحِيْتَانُ فِى الْـمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِـمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ. إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ لَـمْ يَرِثُوا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

"Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Sesungguhnya keutamaan orang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang paling banyak.” Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (V/196), Abu Dawud (no. 3641), at-Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no. 223), dan Ibnu Hibban (no. 80—al-Mawaarid), lafazh ini milik Ahmad, dari Shahabat Abu Darda’ radhiyallaahu ‘anhu.

Dari hadits diatas, terdapat suatu keutamaan seorang ulama atau penuntut ilmu atas ahli ibadah, yaitu seperti keutamaan bulan di malam bulan purnama di antara bintang-bintang.

Rasulullah shalallahu 'alaih wa sallam memberikan analogi perbedaan keutamaan bagi ulama dengan ahli ibadah. Dimana menurut Al Imam Al Qurthubi dalam kitabnya bahwa yang dimaksud ulama dan ahli ilmu dalam hadits ini, yaitu "ulama adalah yang menghubungkan atau menyambungkan atau menggabungkan antara ilmu dan amal, sedangkan ahli ibadah adalah ahli ibadah yang ibadah itu sesuai dengan ilmu dan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tapi sebenarnya dia itu orang awam." Ahli ibadah yang meninggalkan kewajiban-kewajibannya atau dia beribadah tapi di atas kebodohan, maka dia tidak berhak menyandang predikat sebagai ahli ibadah atau 'Abid.

Ruang SemangatCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang