17. Soal Dari Tivan

3.2K 527 119
                                        

안녕하세요🦌

Selamat membaca kisah cinta yang manis, semanis author dan readers nya🍭

Tau dong harus ngapain...yups! Sebelum bergulir ke bawah, sebaiknya klik ⭐ dulu yuk😚 kalau sedang membaca, jangan lupa tinggalkan komentar kalian di part-part yang menurut kalian menarik🐢

yups! Sebelum bergulir ke bawah, sebaiknya klik ⭐ dulu yuk😚 kalau sedang membaca, jangan lupa tinggalkan komentar kalian di part-part yang menurut kalian menarik🐢

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🦋

🦋

🦋

🦋


Chisa menyender pada bangku dengan tangan di lipat di dada. Gadis itu memandangi Tivan. "Ngapain lo nyuruh gue kesini?!" ketusnya.

"Belajar," balas Tivan datar.

"Hah?!!!"

Tivan melirik Chisa. "Suara lo kurang nyaring. Kalau mau diusir, sekalian teriak. Biar Bu Kuni dateng terus seret lo keluar."

"Enggak lah! Enak aja!" Chisa mencebik. "Lo mau nyuruh gue apa sih! To the point memang, gak usah muter-muter!" ketus Chisa.

Tivan menghela nafas jengah. Pandangannya yang sedari tadi terfokus ke buku pelajaran, kini menatap gadis itu. "Gue ngomongnya kurang jelas? Gue kan nyuruh lo belajar. Itu tugas pertama lo hari ini," jelas Tivan masih dengan nada yang datar.

"Dih! Siapa lo nyuruh-nyuruh gue belajar! Gue kalau mau belajar itu harus dari kemauan sendiri, bukan paksaan. Seperti kata orang-orang, 'kalau pengen pintar, belajarnya itu harus dengan niat tulus datang dari hati, bukan paksaan,' gitu!"

"Lo pikir gue bego?! Gue juga tau," balas Tivan.

"Bagus deh kalau lo tau."

"Udah ngomongnya?" Chisa mengernyit. "Sekarang belajar," titah Tivan. Pria itu menyodorkan buku pelajaran matematika ke Chisa.

"Apaan sih! Gue gak mau belajar! Baru lihat rumus-rumus nya aja ubun-ubun gue udah panas!" Chisa menggeser buku itu ke Tivan. "Mending lo yang belajar, biar gue yang temani." Jari Chisa membentuk tanda V dengan senyuman manis terukir di bibir gadis itu, hingga membentuk sabitan indah di sepasang matanya.

Alih-alih luluh, pria itu kembali menggeser buku modul matematika tadi ke Chisa, sambil berkata. "Be-la-jar!" tekannya.

Wajah cantik Chisa yang dihiasi senyuman sontak berubah datar, sebab pria itu tetap kekeuh ingin ia belajar.

Chisa mendengus kesal, kemudian membuka buku modul matematika. Entah kenapa gadis itu tiba-tiba merasa pusing begitu variabel x dan y tiba-tiba muncul di halaman pertama saat tangannya membuka buku modul itu.

"Sejujurnya nih ya, matematika itu gampang." Tivan melirik Chisa yang berbicara sendiri. "Tapi gara-gara x dan y yang keasikan main petak umpet dan gak mau keluar, matematika seketika berubah menjadi sangat-sangat me-nye-bal-kan!" lanjutnya sambil menekan kata menyebalkan.

Cinta Salah KirimCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang