🎶 : Febby putri (Cover) - Garis terdepan
🦋🦋🦋
"Yakin Nat, kita kejar deadline disini sampai malam?"
Gadis yang ditanya hanya menatap lempeng dan mengangguk tanpa dosa.
Seisi ruang rapat mendesah lesu. Malam minggu penuh makna mereka direnggut didepan laptop. Dan tidak ada yang bisa protes apabila seorang Nata sudah memerintah.
Seperti kata pepatah. Di atas horang kaya, masih ada Hotman Paris. Jadi, di atas Ketua Osis, masih ada Pemangku Adat.
Dia adalah gadis bernama Natalia Aura. Pintar? Sudah jelas. Tapi jika dibayangan kalian ia adalah perempuan ambis yang bergaya seperti pada jaman penjajahan belanda dengan kacamata kuda dan rambut kepang, kalian salah. Karena ia adalah perempuan cantik incaran kaum adam. Tubuhnya sependek botol kecap yang selalu menatap malas, judes dan agak sedikit... Berbumbu pedas ketika berbicara.
Di Sekolah, ia dikenal sebagai pemangku adat yang tegas dan galak. Tidak segan memarahi orang yang salah menjalankan tugas atau melanggar peraturan.
Kalau sudah ditangani pemangku adat, biasanya guru BK-pun bahkan hanya duduk santai dibalik meja sembari menikmati kopi. Guru konseling sekolah mereka biasanya hanya mengecek siswa sesekali sebagai formalitas agar dianggap 'tidak makan gaji buta banget' seperti kelihatannya. Maka dari itu, yang namanya jabatan Pemangku adat di mata siswa lain sangat terhormat rasanya. Bahkan para guru membanggakan murid yang menduduki jabatan itu.
Contohnya Natalia Aura.
Sesuai akhiran nama-nya, ia memiliki aura. Aura horror bagi seluruh organisasi sekolah.
Gadis itu bermuka tebal. Tidak pandang bulu siapa yang ia hadapi selagi itu siswa sekolah. Itulah salah satu alasan mengapa tindak pembully-an disekolah mereka semakin meredup seiring munculnya gadis ini yang dipilih langsung oleh Kepala Sekolah untuk menduduki jabatan tersebut.
Bruk!
Seorang murid lainnya masuk ke ruang rapat khusus siswa itu dan langsung beringsut duduk disamping Nata. Bagian sisi utama meja panjang khusus di ruang rapat organisasi tersebut.
Cowok itu menatap seluruh ketua organiasi yang masih serius didepan laptopnya masing-masing.
"Lho, kok belum pulang?"
Cari mati.
Gara, si ketua osis hanya memberi tatapan terluka sebagai kode bahwa ia sedang berjuang di bawah tekanan sang baginda ratu.
Cowok yang diberi tatapan seperti itu melirik Nata sekilas kemudian sumringah menahan tawa, "Oh... Iya-iya! Kita harus lembur! Ganbate!"
Nah, kalau yang ini, jabatannya setara dengan Nata. Kalau Nata adalah pemangku adat siswi, berarti ia adalah pemangku adat siswa.
Mereka berdua punya tugas penting untuk meng-handle persoalan organisasi besar sekolah. Jadi, kalau misalnya ada suatu masalah dalam organisasi/eskul-misalkan pengurus atau anggota organisasinya, maka Alfin dan Nata-lah yang bertugas menyelesaikan problem tersebut. Jadi, Alfin dan Nata yang selalu berusaha menyelesaikan problem di dalam organisasi itu sebelum sampai kepada guru pembina organisasi ataupun guru konseling. Entah dengan cara memberi solusi, berdiskusi dengan yang bermasalah atau kalau berada pada level permasalahan yang parah, mereka berdua tidak segan-segan menyidang, mengkudeta, ataupun yang terparah adalah mengeluarkan anggota organisasi itu sendiri. Maka dari itu, sebenarnya Alfin dan Nata cukup dikenal dan disegani, bahkan guru pun melakukan hal yang sama untuk menyikapi kedua murid ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark but Shine [END]
Novela JuvenilIni hanyalah segelintir dari kisah cinta anak remaja. Yang agak sedikit... Berat. Berlawanan seperti kompas utara dan selatan. Tapi saling melengkapi layaknya gelap yang butuh terang. "Gue nggak pernah pacaran." ucap si cuek yang selalu menolak. "...
![Dark but Shine [END]](https://img.wattpad.com/cover/275009264-64-k989364.jpg)