Prikitiw
🦄🦄🦄
Prataga Hospital
Nata sudah tiba. Dengan boneka unicorn berukuran besar di pelukannya.
Nata harus optimis. Jadi, ia berusaha tersenyum secerah mungkin meski tahu saudaranya tak mungkin melihat senyuman itu.
Dia meletakkan boneka di sisi ranjang, menatap sendu sang saudara dengan sedih. Banyak selang penopang hidup yang membuat ruangan itu begitu menyesakkan.
"Nata?"
Suara itu membuat Nata menoleh, "Eh, dokter."
Dokter gabriel sepertinya sudah siap, diiringi dengan beberapa suster di belakangnya.
"Nata, kamu harus percayakan semuanya sama saya." ujar Dokter Gabriel meyakinkan. Ia tahu, kalau Nata juga gugup dengan keputusan ini. Apalagi, saudara Nata adalah pasien pertama dokter Gabriel untuk melakukan terapi otak bagi pasien koma. "Saya sudah menangani saudara kamu sampai dua tahun ini. Jadi, kita harus yakin kalau ini bukan keputusan yang salah. Saya dan tim medis lainnya akan mengerahkan usaha semaksimal mungkin untuk saudara kamu. Bahkan, saya sampai memanggil teman satu pendidikan saya di oxford untuk meminta bantuannya. Jadi-"
"iya dokter, saya yakin." Nata memotong. Ia tahu Dokter Gabriel tidak ingin Nata khawatir, "Saya percaya sama dokter. Dokter Gabriel yang udah bikin saudara saya bertahan sampai saat ini meskipun belum sadar. Ini saatnya kita berusaha semaksimal mungkin supaya dia cepat sadar."
Dokter Gabriel tersenyum simpul.
"Terapi ini... Berapa lama, dok?" tanya Nata.
"Tiga bulan." jawab dokter, "Tapi tidak menutup kemungkinan sampai empat atau lima bulan untuk terapi medis lainnya."
Nata mengangguk paham.
"Jadi untuk itu, demi kelancaran terapi, tidak ada yang boleh mengunjungi pasien selama terapi berjalan." ujar dokter lagi.
Nata lagi-lagi hanya mengangguk, "Makanya saya datang dok, untuk yang terakhir kalinya. Ah, semoga... Kunjungan saya selanjutnya, dia sudah bisa sadar."
Dokter Gabriel mengangguk meyakinkan.
Ini tidak akan lama. Nata harus bersabar dan menyerahkan segalanya pada Yang Maha Kuasa serta tim medis.
🏥🏥🏥
Alfin duduk di ruang tengah. Bersama kedua orangtua dan kakaknya yang besok akan kembali ke New York. Juga, ada Yuni yang baru sampai.
"Ayuni datang kesini naik apa, sayang?" sang Bunda bertanya lembut, meski tahu orang dihadapannya ini adalah biang masalah.
Yuni senyum tersipu, "Naik taxi tante." Sengaja. Biar nanti Alfin mengantarnya pulang.
Cowok itu sejak tadi acuh saja. Memainkan game di ponselnya tanpa tertarik pada topik pembicaraan.
"Kalau nanti kamu lulus, kamu mau lanjut di mana Yuni?" tanya David, Papa nya Alfin menjurus kepada Yuni.
"Ah, tergantung sama Alfin nanti mau kuliah dimana Pa."
Alara ingin terbahak. Mendengar suara gadis itu membuatnya sama muaknya dengan Alfin.
"Lo punya cita-cita nggak sih? Kok ngikutin adek gue mulu?" Alara bertanya sarkas.
"Ara..." peringat sang Bunda halus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark but Shine [END]
Teen FictionIni hanyalah segelintir dari kisah cinta anak remaja. Yang agak sedikit... Berat. Berlawanan seperti kompas utara dan selatan. Tapi saling melengkapi layaknya gelap yang butuh terang. "Gue nggak pernah pacaran." ucap si cuek yang selalu menolak. "...
![Dark but Shine [END]](https://img.wattpad.com/cover/275009264-64-k989364.jpg)