Simulasi api neraka

7 0 0
                                        

Special chapter karena mood saya lagi berbunga-bunga.

Ps: Nata and Alfin moment only.

⚠️ meskipun larangan adalah perintah bagi kalian, tapi alangkah baeknya adek-adek di bawah 18 tahun menyingkir dari lapak ini. Di skip aja gpp soalnya nggak ada hubungannya juga sama part laen, ciao🔞

💜💜💜

Pusat perbelanjaan masih ramai, Jalanan masih padat dan Jakarta masih penuh. Selalu. Seperti biasa. Ibukota penuh warna dengan kisah yang berhasil mempertemukan dua remaja yang awalnya saling bertolak belakang.

Si cuek yang selalu menutup diri dari dunia, dan si jahil yang selalu penasaran dengan dunia itu.

Sebut saja ini takdir. Bahwa mereka memang diperuntukan untuk bersatu. Berjalan searah dengan perbedaan yang mereka yakini sebagai penguat dan pelengkap satu sama lain.

Banyak yang tidak percaya kalau akhirnya Adrian Alfino Prataga berhasil membuat seorang Natalia Aura berlabuh untuknya. Yang pada akhirnya membuatnya sadar bahwa tidak akan ada usaha yang menghianati hasil.

Buktinya, ia berhasil membuat seorang judes dan cuek ini bisa menjadi clingy dan terbuka. Hanya kepada Alfin tapi. Kalau untuk beramah-tamah ke orang lain... Maaf, Alfin orangnya rakus dan egois, miliknya ya miliknya. Tidak boleh berbagi.

Apalagi, cantiknya Nata membuatnya jatuh ampun-ampunan. Jadi mana mungkin orang lain tidak pula ikut terikat pada pesona seorang Natalia. Dan itu membuat Alfin kewalahan, karena setiap ia jalan berdua dengan Nata pasti ada saja mata yang tersangkut pada pesona gadisnya sehingga ia harus melotot kepada orang-orang itu. Atau kalau saja ia tak takut dimarah Nata, sudah dipastikan ia akan menonjok mereka satu-satu.

Sebut saja ia bucin. Bahkan sebelum mendapatkan Nata, ia memang sudah patut digelari budak cinta.

Apalagi, saat Nata sudah bisa menerima kehadirannya ini dan selalu bersama nyaris seharian. Alfin tidak pernah berhenti memuja, bersyukur, bahagia.

Alfin tidak pernah tertarik untuk menjalin hubungan, tapi dengan Nata ia selalu ingin memiliki gadis itu.

Alfin tidak suka dunianya disentuh, tapi dengan Nata ia selalu ingin memberi dunianya.

Alfin selalu bisa terlihat kuat tak tertandingi, tapi di depan Nata ia bisa mengeluh lemah secara bebas tanpa perlu malu.

Alfin selalu bisa menolak pengakuan cinta gadis lain, tapi untuk Nata ia selalu sukarela memberikan cintanya.

Alfin suka kulit ayam, tapi ke Nata ia yang bahkan menawarkannya.

Alfin selalu takut dengan jajanan pinggir jalan, tapi demi Nata ia bisa mencobanya.

Alfin tak pernah bisa mengontrol amarahnya, tapi Nata bisa mengontrolnya.

Apapun, karena Nata. Demi Nata. Dan untuk Nata.

"Udah dong ngeliatinnya, mata kamu picek ntar." ucap sang gadis yang jengah. Alfin sejak tadi menopang dagu dengan senyum merekah menatapnya. Tatapan memuja seperti biasa.

"Nggak bisa, kamu cantik banget."

Nata yang dipuji, malah make up artist yang salah tingkah.

Nata lagi-lagi menghela napas. Selalu heran dengan perangai Alfin yang lebih mirip orang baru pacaran, padahal nih mereka sudah menjalin hubungan berbulan-bulan bahkan saling mengenal nyaris tiga tahun.

Anehnya, Alfin tidak pernah berubah. Tetap menatap Nata dalam dan teduh tiap gadis itu bercerita. Selalu tersenyum saat Nata berbicara. Dan selalu memberi affection tidak terduga. Seperti mengingat jam makan Nata, membawa tas Nata tanpa malu, merangkulnya di tengah keramaian atau belajar mengeringkan rambut dengan hair dryer agar bisa membantu Nata.

Dark but Shine [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang