🎵: (cover) Onew Shinee, Suhyun Akmu – Flying deep in the night
🦐🦐🦐
Nata tidak pernah percaya ini, bahwa ia adalah sosok yang berani seumur hidupnya. Mulai dari saat masih kecil, ia selalu melindungi saudaranya yang dikucilkan karena memiliki penyakit dan fisik yang lemah. Disaat beranjak dewasa, ia membela siapapun yang diperlakukan semena-mena disekolahnya. Tindakan bully yang dilakukan di Darmawangsa perlahan memudar berkat Nata. Dan juga ia selalu berusaha keras untuk melindungi apapun berkaitan dengan tanggung jawabnya.
Kepala sekolah pernah membuat ikrar saat pelantikannya dengan Alfin tiga tahun lalu. Bunyinya begini:
1. Pemangku Adat, wajib saling membantu satu sama lain
2. Tertib, Disiplin, Bijaksana dalam menjalankan tugas
3. Bertanggung jawab dan mampu dipercaya
4. Menjaga nama baik sekolah selama masa jabatan
5. Saling melindungi rekan sesama jabatan maupun teman sekolah.
Dan sekarang, ia kembali menjadi pemberani dengan mempertaruhkan keselamatannya demi nama baik sekolahnya.
Kini ia tiba ke lokasi yang dikirimkan penelpon misterius tadi. Ini adalah pinggir kota yang tidak begitu ramai. Bahkan terhitung amat sepi. Hanya ada beberapa rumah, sisanya hanyalah pepohonan rindang yang menyapa Nata.
Langit sudah mulai gelap, dan ia datang dengan konyolnya tanpa persiapan apapun. Untungnya, karena mental baja, Nata tidak memikirkan hal-hal yang akan terjadi nantinya.
Tiba masa tiba akal.
Ia melangkah ke sebuah rumah kecil yang berada di ujung jalan. Hanya rumah tersebut yang memiliki penerangan cukup terang dibandingkan rumah-rumah lainnya.
Beberapa langkah sebelum sampai disana, Nata melihat beberapa orang berpenampilan preman sedang berbincang. Wajah mereka seram-seram.
"Mati gue." Gumamnya menyalahkan diri sendiri.
"Oi, ini orangnya udah dateng!" Teriak salah seorang dari mereka saat menyadari keberadaan gadis mungil itu, "Boleh juga. Hai neng!"
Nata bergidik ngeri digoda seperti itu.
Seseorang muncul dari dalam, terlihat lebih muda dari para preman tadi. Ia mengintrupsi Nata untuk masuk ke dalam.
"Ya tuhan, gue datang kesini buat niat baik bukannya mau nyerahin jadi tumbal." Nata merapalkan doa dalam hati sebelum memantapkan diri melangkah masuk.
Didalam, hanya ada sebuah kasur apuk dan meja. Hanya itu.
Dan... Oh, flashdisk sialan di atas meja yang mengharuskan Nata datang sendirian menjemputnya kesini. Setelah ini, mungkin Nata akan mengutuk Kepala Sekolahnya karena membuatnya harus berkorban sampai ke sarang preman seperti ini
"Ambil." Jawab cowok itu, ia berdiri disamping meja.
Tapi, sebelum Nata benar-benar berhasil meraih flashdisk tersebut, Husein lebih dulu merebutnya dan mempermainkannya ditangan.
Nata menatap cowok itu geram, "Dih, maksud lo?!"
Entahlah, Nata hanya penasaran sampai berani bertanya.
"Kalau karena duit—"
"Gue nggak butuh duit dari lo." Sanggah cowok itu cepat saat melihat Nata mengeluarkan segepok uang dari cardigannya.
Nata menatap heran cowok itu.
Cowok itu menyeringai misterius, "Lo nggak kenal gue? Kita seangkatan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark but Shine [END]
Teen FictionIni hanyalah segelintir dari kisah cinta anak remaja. Yang agak sedikit... Berat. Berlawanan seperti kompas utara dan selatan. Tapi saling melengkapi layaknya gelap yang butuh terang. "Gue nggak pernah pacaran." ucap si cuek yang selalu menolak. "...
![Dark but Shine [END]](https://img.wattpad.com/cover/275009264-64-k989364.jpg)