11. Fault, gone, and looking for

6 0 0
                                        

🎶 : Fourtwnty – diskusi senja



🧽🧽🧽


Langit sudah mulai menggelap. Tanda bahwa sebentar lagi mereka harus kembali ke lokasi perkemahan.

Satu jam yang lalu, Bu Arum—wakil kepala sekolah mengstruksi beberapa anggota Pramuka untuk mengambil kayu bakar di sekitar perkebunan sawit yang tak jauh dari sana.

Baru terkumpul sebagian.

Sebagiannya lagi, Bu Arum tidak tahu kemana anak-anak itu pergi.

"Nata, coba kamu susul temen kamu. Mereka nggak tersesat kan?"

Mendengar itu, Nata berangsur bangkit dari tempatnya dan menuju ke tempat yang dimaksud. Meninggalkan tatapan cemas dari Olif dan Risa karena gadis gigih itu berjalan terpincang-pincang meski ia usahakan terlihat senormal mungkin.

Kali ini Nata memakai sepatu, menghindari celaka lain yang tidak diinginkan karena merasa dirinya hari ini begitu ceroboh.

Saat sampai di perkebunan sawit, ia tidak tahu harus kemana. Ia berjalan saja menurut keyakinannya. Menelusuri tanah kering dihiasi dedaunan. Sesekali ia meringis saat menginjak batu tepat di bawah luka yang baru saja Alfin perban.

Ia menyusuri pepohonan hingga sampai di satu titik. Dimana para anggota Pramuka yang di utus untuk mencari kayu bakar malah ketawa-ketiwi. Ada enam orang. Dan mereka berpasang-pasangan. Bahkan ada yang saling rangkul duduk di bawa pepohonan tanpa melakukan instruksi yang disuruh.

Nata mengeluarkan ponselnya, memotret momen sialan tersebut.

Mendengar cekrekan kamera, mereka semua menoleh.

Yang tadinya haha-hihi seketika langsung terdiam kicep.

"Wih mantep? Disuruh cari kayu bakar malah manfaatin buat uwu-uwuan." Ujar Nata, bersedekap dengan ekspresi teflonnya, "Pulang dari sini, gue mau kalian ikutin proses sidang. Soalnya benalu kayak kalian—paling cuman numpang nama di organisasi."

Ketiga pasangan itu terdiam tidak bisa menyangkal.

"Lima menit nggak kembali, gue pastiin foto ini sampai ke Bu Arum." Titahnya dan berlalu begitu saja.

Nata meskipun berjalan terpincang tetap melangkah percaya diri, meninggalkan enam orang yang masih terpaku ditempat.

Gadis itu masih bersusah payah berjalan. Karena ia masuk ke dalam hutan terlalu dalam, Nata jadi agak lupa jalan yang tadi ia lalui.

"Ini bukan sih?" Ia bergumam sendiri menebak. Membiarkan dirinya berjalan searah dengan jalan setapak yang begitu curam disebelah kiri.

Hingga...

"Aaaaaakhhhhhh!"

Seseorang yang entah siapa mendorongnya secara tiba-tiba dan tanpa ia duga. Membuat badan Nata oleng ke kiri dan terjatuh menggelinding mengikuti tanah yang turun. Hal itu terjadi begitu cepat hingga Nata kehilangan keseimbangan badannya.

Badan Nata terus menggelinding. Hingga akhirnya terbentur di sebuah batu besar yang menopangnya agar tidak meluncur lebih jauh ke bawah. Ini pasti jurang.

Mata Nata memburam. Kepala serta badannya sakit dan nyeri.

Ia berusaha mendongak untuk menemukan siapa pelaku yang mendorongnya.

Sia-sia...

Ia hanya melihat siluet orang yang kini berlari meninggalkannya saat puas melihat Nata terjatuh ke jurang.

Dark but Shine [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang