✳️✳️✳️
"Setega itu kamu ke anak saya Alfin!?" Seorang wanita menerobos masuk ke ruangannya dengan pakaian formal, dadanya membuncah.
Alfin menaikkan satu alis, seolah didepannya hanyalah lelucon lalu yang dianggap tak penting.
"KAMU TEGA BIKIN ANAK SAYA FRUSTASI SAMPAI DI VONIS ODGJ SAMA DOKTER!!!"
"Saya nggak ada hubungannya sama anak anda yang jadi gila—"
Satu guci di sisi meja dihempas Arumi, "KURANG AJAR KAMU!"
Ternyata, ibu dan anak sama gilanya.
"Apa sih yang anda cari dari keluarga saya sampai mempersulit Prataga dan bikin berita-berita tentang kami terus? Butuh validasi? Biar saham kalian naik? Supaya jaringan kolega kalian meluas?"
Arumi terdiam dengan napas memburu.
"Kotor." Alfin tertawa mencemooh, "Perusahaan kotor, di tangan yang kotor. Nggak heran lagi sampah semacam kalian butuh sokongan dari Prataga supaya bisa grow makin besar dan ada penopang agar tidak bangkrut. Sayangnya, saya nggak akan ngebiarin itu terjadi... Semakin jauh."
Arumi mendidih ditempatnya. Bayangkan saja dirinya merasa diintimidasi oleh seseorang yang harusnya pantas dipanggil anak karena usia mudanya.
"Rapat jam sepuluh, bu Arumi. Mau mecahin semua guci di ruangan ini atau mau dengar result dari meeting saya? Mirip super deal lho, bikin kaget."
Alfin meninggalkan ruangannya setelah tersenyum kemenangan.
Ia menyisir rambutnya dengan tangan kemudian berlalu dari sana, menuju ke ruang meeting yang sudah diisi oleh beberapa koleganya. Dan juga, Gatra.
Mereka adu tos.
"Lo udah tau kalau Yuni dinyatakan gangguan jiwa?" bisik Gatra.
Alfin mengendikkan bahunya, "Gue bukan orang jahat sebenarnya, tapi kalau boleh jujur agak nggak peduli sama kondisi dia sekarang."
Gatra terkekeh kecil, "Bisa-bisa bokap nyokapnya juga ikutan gila abis meeting ini Fin."
"Udah jadi resikonya kan? Mereka sendiri yang berani ngelangkahin garis batas dengan ganggu keluarga gue mulu. Bahkan banyak berita hoax tentang perusahaan yang dibuat sama mereka. Jadi, ini konsekuensi yang harus mereka terima."
Gatra setuju. Bagaimanapun Yuni dan obsesi keluarganya untuk bisa menjadi bagian Prataga selama ini menyulitkan keluarga Alfin.
"Kita udah usaha lama banget buat ngumpulin semua bukti konkrit ini, so this is time to speak up." Alfin menepuk pundak sahabatnya, "Louder."
"As you wish, mr.Prataga." Gatra membagi senyum smirk-nya. Membuka sebuah file yang menjadi kartu As mereka selama ini, "Dan gue punya satu kartu lagi. Call it jackpot."
"Makasih ya, kalian bertiga udah berjasa banget buat misi kali ini." ujar Alfin kemudian.
"This is how it should be, bro."
Alfin mengangguk. Menghela napas karena akhirnya dunianya sebentar lagi akan damai.
Prataga tidak lagi terbebani, dan...
Hubungannya dan Nata tidak lagi ada yang mencampuri.
Dan—
Apa kabar gadisnya itu ya?
Sejak semalam Nata tidak membalas pesannya. Dan Alfin mengerti kalau Nata begitu kesal dan kecewa kepadanya semalam. Salahkan Alfin yang begitu khawatir sehingga kelepasan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark but Shine [END]
Teen FictionIni hanyalah segelintir dari kisah cinta anak remaja. Yang agak sedikit... Berat. Berlawanan seperti kompas utara dan selatan. Tapi saling melengkapi layaknya gelap yang butuh terang. "Gue nggak pernah pacaran." ucap si cuek yang selalu menolak. "...
![Dark but Shine [END]](https://img.wattpad.com/cover/275009264-64-k989364.jpg)