32. Titik terang

3 0 0
                                        


🤹‍♂🤹‍♂🤹‍♂

"Lo inget sama nomor yang ngirim sms aneh trus lo minta Gatra buat di lacak kan?" Dani bertanya pelan.

Alfin mengangguk cepat.

"Waktu itu lokasi terakhirnya ada di Tangsel kan? Nah, semalam entah mengapa gue sama Gatra penasaran sama nomor yang kirim sms misterius itu, pas kita cek— nomornya diaktifin lagi."

Alfin mengernyit, masih belum mendapatkan kesimpulan penjelasan Dani.

"Kali ini domisilinya di Bandung, nomor itu terakhir aktif seminggu yang lalu. Dan lo tau apa?" Dani menghela napas, "Lokasi nomor itu sama persis sama lokasi pelacak punya kita yang kita omongin seminggu yang lalu."

Punggung Alfin seketika menegang. Otaknya seolah bekerja keras untuk menyambung pecahan logika yang sedang menimpanya.

Sms misterius.

Pelacak yang ia pasang untuk jam Nata.

Pelacak yang aktif dan berpindah domisili ke Bandung.

Nomor misterius yang dipakai untuk mengirim sms kepadanya berlokasi sama dengan pelacak miliknya yang ia simpan di jam tangan Nata.

Ia menunduk meremas pelan rambutnya. Ya tuhan, pertanda apa ini?

Ia menatap Dani. Hari ini kawannya itu datang sendiri, "Tapi kenapa pelacak sama nomor itu bisa satu tempat?"

Dani memperbaiki posisi duduknya, "Nah, biar gue jelasin dulu soal pelacak ini. Minggu lalu kita lagi ngejar pengedar sabu-sabu di daerah Tangsel, di sekitar lokasi nomor misterius yang pernah ngirim SMS ke lo itu. Waktu kita mau ngelacak target, ada dua titik koordinasi yang aktif, dan kita heran padahal kita cuman pasang satu pelacak."

Alfin membelalakkan matanya.

"Alhasil, setelah nangkap target kita mau ngikutin pelacak yang satunya lagi buat mastiin. Tapi ternyata pelacaknya nggak bisa kedeteksi." lanjut Dani.

"Terus?"

"Nah, waktu itu gue sama Gatra ngelacak lokasi nomor misteriusnya dan lokasinya sekarang di Bandung. Pelacak itu juga aktif lagi dan di titik koordinasi yang sama. Persis."

"Lo udah mastiin?" Alfin bertanya meyakinkan.

Dani mengangguk, "Seratus persen yakin. Sekarang Gatra sama Asran lagi ngincer lokasi itu, dan besok kita bakalan berangkat ke Bandung."

"Tahanan 59, waktu kunjungan untuk anda sudah habis."

Anjing.

🥙🥙🥙


"Nggak tau kenapa waktu gue lagi transaksi senjata ilegal, ada empat orang yang ngikutin gue dari belakang." jelas lelaki brewok itu, "Empat-empatnya pake topi sama masker, jadi nggak terlalu jelas. Mereka nyergap gue sama temen-temen gue. Ada satu orang yang mirip— mirip lo sih." ia menunjuk Alfin yang kini menelan tawanya agar tak menyembur.

Buset, kalau identitas Alfin ketahuan disini mungkin ia sudah jadi mayat tahanan karena sudah mendengar beberapa curhatan dengan kesimpulan yang sama.

"Malam itu kita sembilan lawan empat. Empat-empatnya jago banget anjing sampai ngelumpuhin kita bersembilan." ia berbicara antusias pada orang yang menjerumuskannya ke penjara, "Mereka nyekap kita, nggak lama mereka nelfon polisi dan akhirnya kita di tangkep."

Lucu ya, mengingat bagaimana Alfin selalu menangkap pelaku kejahatan, malah sekarang ia yang harus mendekam di penjara.

"Gue masih penasaran sih mereka siapa. Gue ngira polisi— tapi pas gue denger mereka nelfon polisi, mereka cuman nyebut kalau dia Mister... Mister saha eta teh? Lupa. Mister alam? Mister alpamart—"

Dark but Shine [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang