02. That attentions

12 1 0
                                        

🎶: BTS - Pied Piper

🐝🐝🐝


Pagi ini tidak seperti biasanya, jam pelajaran sudah satu jam terlewatkan. Bahkan saat Nata melewati ruang tata usaha tadi, beberapa staff terlihat kelimpungan entah karena apa.

Tapi syukurlah, karena hari ini ada ulangan harian dan akhirnya batal karena guru tidak masuk. Alhasil, hampir semua kelas hingga kantin gaduh terbebas dari pelajaran.

Nata sebenarnya lebih memilih untuk duduk anteng dikelas sambil membaca buku, berjaga kalau-kalau si guru datang dan langsung mulai ulangan, tapi kedua temannya yang memang hanya tau makan dan gosip menyeretnya ke kantin untuk sarapan. Tidak bisa membantah, akhirnya Nata ikut saja saat diseret.

"Sebentar lagi udah naik semester dua anjir, tapi otak gue masih mentok!" Sahut Olif mengeluh, mulutnya masih sibuk mengunyah soto ayam.

"Lagian di otak lo kan cuman ada gosip doang," Ujar Risa.

"Yeee kayak lo nggak aja!" Olif bersusah payah menelan makanannya, "Eh tapi tau nggak, gue dapet gosip."

Kan!?

Risa merapatkan duduknya demi mendengar gosip tersebut, "apenih?"

"Ternyata si Alfin nggak mau tau dijodoh-jodohin sama Ayuni, tapi si Ayuni-ayuni itu yang ngebet banget pengen tunangan sama Alfin!" Ujar Olif menggebu-gebu. Kalau soal Alfin, siapapun akan tertarik dengan gosipnya.

Kecuali Nata sih. Dia lebih tertsrik dengan buku bacaannya.

"Lah trus?" Risa melotot.

"Katanya daripada dia dikirim pendidikan ke Eropa buat lanjutin perusahaan, Alfin pasrah deh kalau misalnya dijodohin sama Ayuni."

"Huh, sayang banget. Seandainya gue jadi Alfin, ya gue lebih pilih lanjutin perusahaan lah!" Ucap Risa.

Nata menutup bukunya, "Nggak semua orang suka dengan sesuatu yang kelihatan mewah. Kadang ada juga yang lebih milih apa yang dia suka. Mungkin Alfin nggak mau pegang perusahaan karena passion dia bukan disitu dan dia nggak bahagia ngejalanin itu, mungkin ada pekerjaan lain yang dia suka dibandingkan jadi CEO perusahaan? Kita nggak tau kemauan seseorang, dan kehendak orang lain kita kadang nggak bisa dipaksakan."

Penuturan Nata tadi membuat kedua sahabatnya manggut-manggut, Nata berkata seperti itu karena ia juga hampir sama dengan Alfin. Dituntut menjadi apa yang orangtua inginkan bukanlah hal yang menyenangkan, kita jadi tidak bisa berekspresi sesuai apa yang kita suka.

"Tapi dibandingkan jadi tunangan Ayuni, lebih mending jadi CEO perusahaan nggak sih Nat? Lagian Alfin juga kalau dipikir-pikir IQ nya tinggi banget, untuk pelajarin Perusahaan besar keluarganya pasti gampang buat dia." Ujar Olif.

Iya juga ya.

Nata jadi menerka dalam hati kenapa cowok itu pasrah saja rumornya saat akan dijodohkan dengan Yuni. Padahal, kalau ia menolak, itu bisa saja.

"Ah bodo amat." Nata bersikap acuh dan kembali membuka bacaannya. Tidak ada untungnya memikirkan urusan pribadi orang lain meskipun gosip tentang Alfin selalu menjadi perbincangan terhangat di Darmawangsa.

Lagipula, siapa sih yang tidak mengenal cowok itu? Anak bungsu dari pemilik Perusahaan Prataga sekaligus pendiri sekolah swasta tempatnya bersekolah sekarang. Tidak heran kalau Alfin jadi populer. Apalagi ia tampan dan jabatannya bukan main adalah pemangku adat.

Meskipun sering jahil, Alfin itu tampan menurut ciwi-ciwi yang mengidolakannya, apalagi kalau Alfin sudah serius saat mengerjakan sesuatu atau berolahraga. Beuhhh damage-nya boskuuu!

Dark but Shine [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang