Percakapan Pria Dewasa

486 61 4
                                        

Ada sebuah kedai kopi enak milik seorang Asia tak jauh dari apartemen Alana, hanya sekali perhentian bis, tak jauh juga bila berjalan. Dua lelaki tampan itu berjalan di tengah hembusan angin dingin yang seolah tak mau tahu urusan mereka di jalanan lepas jam makan malam begini. Sampai di kedai mereka memilih tempat yang cukup sepi, jauh dari jendela. Awalnya kikuk, mereka bukan teman minum sebelumnya. El berusaha membuat dirinya nyaman, sementara Kristof sibuk memilih kata-kata. 

"Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Alana?" tanya Kristof akhirnya. El tahu pertanyaan itu akan terlontar juga pada akhirnya.

"Baik, kami tetap sahabat. Dan dia tak cerita banyak soal kalian, dia tahu aku benci jadi tempat sampah," jawab El. 

"Kamu bisa saja menjadikan dia pacarmu, pernikahan kami batal," kata Kristof. 

"Tapi tidak kulakukan. Kalau pun akhirnya dia bersamaku, itu tidak ada hubungannya dengan batalnya pernikahan kalian."

"Dia mencarimu selama kau pergi," kata Kristof pelan. "Dia sempat berpikir kalau punya salah sama kamu, tapi kemudian dia tepis sendiri."

"Alana tahu aku nggak suka jadi tempat sampah, dia pasti maklum." El memilih untuk tidak menatap Kristof. Berita yang Kristof bawa ternyata menyakitkan untuknya. 

"Dia mencarimu bukan untuk menjadikanmu tempat sampah. Mestinya kamu tahu kalau kamu memang sahabatnya," kata Kristof agak sengit. Kristof yakin melihat semburat rasa bersalah di mata El, itu berarti kalimatnya tadi tidak sungguh-sungguh.

"Kalau perasaanmu berubah, Alana berhak tahu," kata Kristof lagi, kali ini lebih menusuk. El menatap Kristof tajam, tapi wajahnya tetap tanpa ekspresi. "Karena kupikir orang yang Alana butuhkan adalah kamu, bukan aku."

"Kamu mengada-ada," kata El sambil tersenyum sinis. Ia tak paham maksud Kristof bicara seperti ini.

"Dulu aku memang marah, kenapa setiap kali ada kejadian buruk, kamu selalu ada sama dia," ujar Kristof sambil mengingat dan menghitung kejadian-kejadian itu. Dan hasilnya ia gagal menghitungnya, terlalu banyak. "Tapi ternyata memang kamu yang selalu ada untuk Alana ketika dia butuh. Alana lebih terbuka padamu. Lebih nyaman bersamamu. Aku juga jadi sadar, itu alasan mengapa ia begitu yakin dan tegar menghentikan rencana pernikahan kami."

"Alana cinta sama kamu, dia bilang sendiri padaku."

"Mungkin begitu, tapi aku yakin cintanya buatku bukan sesuatu yang tak terganti," kata Kristof dengan nada sedih. "Aku sudah punya firasat itu sejak dia dengan halus menolak untuk memikirkan kembali pernikahan kami. Aku melakukan hampir semua hal yang mungkin soal perjanjian itu, tapi Alana tetap dengan langkahnya, ia  sama sekali tak tertarik dengan pernikahan kami lagi."

Kedua lelaki itu terdiam dengan pikiran masing-masing. Kedai kopi yang semakin ramai tidak menjadi pengusik mereka, tempat duduk mereka sempurna untuk berpikir. Kopi dalam cangkir besar mereka sisa separuh, tapi kepala mereka masih penuh. 

"Setiap kali aku mengungkit soal kami, dia selalu memintaku untuk berjalan terus, maju..." ujar Kristof. Memang terdengar sedih, tapi Kristof masih sempat tersenyum. 

"Mungkin karena dia masih merasakan sakit," kini El bersuara. "Mengertilah bahwa itu tidak mudah untuk Alana. Dia perempuan mandiri, dan menikah berarti mengurangi kemandirian itu. Sebuah upaya yang besar untuk Alana memutuskan menikah, jadi pembatalan itu pasti berat buat dia."

"Aku tidak mau dia terus menerus sedih," kata Kristof sambil menyesap kopinya. 

"Kau lihat sendiri Alana, dia tidak lagi bersedih," ujar El yakin. Ia melihat Kristof pun butuh dikuatkan. Mungkin sebenarnya yang lebih menderita adalah Kristof, bukan Alana.

The Boss Next DoorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang