(DIHARUSKAN FOLLOW SEBELUM BACA!!!)
=Proklisi Series=
'Being perfect for something less than perfect'
🕸️🕸️🕸️
Ketidaksengajaan membawa Eza Evander Wiraguna pada garis takdir yang tak pernah dirinya inginkan.
Menjadi seorang suami dan ayah di usia...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hayo loh, Eve digendong siapa?🙄
Target komennya belum sampe sih, but it's okay.
Tapi, di part kali ini tolong spam komen sebanyak-banyaknya ya, gais.
Jangan lupa kasih tau aku tentang perasaan kalian setelah baca part kali ini.
Sebelum mulai baca, pastikan dulu kalian menekan ikon bintang;)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seperti yang sudah direncanakan, hari ini Eza bersama sahabat-sahabatnya---terkecuali Arvelo, Randi, dan Leo---hangout bareng. Ada beberapa tempat yang rencananya akan mereka kunjungi namun, yang paling utama adalah jalan-jalan di mall. Shena sempat mengusulkan untuk pergi ke pantai, akan tetapi Eza menolak dengan alasan takut Eve terganggu dengan kencangnya angin pantai. Antara perhatian dan protectif memang beda tipis.
"Heboh banget." tepisan kasar langsung Eza dapatkan ketika dengan kurangajarnya ia mengacak-acak rambut pirang terawat milik Arvela. Si model papan atas itu langsung mencak-mencak bersiap memberikannya pukulan sebagai balasan.
"Harusnya lo tuh bersyukur karena Eve punya onti secakep dan se-high class gue. Tajir melintir, anak lo mau apa gue jabanin. Mumpung masih free ini!"
"Didenger si Velo auto kena tampol mulut lo," sahut Eza. Laki-laki itu tahu betul kalau Arvelo sangat tidak suka jika kembarannya bersikap angkuh atau menyombongkan apapun yang dia punya. Arvelo lebih suka sombong dengan aksi dibandingkan omongan. Bahasa halusnya, menunjukkan kelebihannya secara nyata, bukan hanya sekadar kata.
Arvela mencabikkan bibir lalu masuk ke mobil yang mana akan dikemudikan oleh Gilang. Menempati posisi di samping kemudi, sedangkan di belakang ada Shena dan Emilly.
"Lo ngapa bawa bmw sih, Gila-Eng? Mana muat ini." protesan itu keluar dari mulut Asep yang tidak kebagian tempat duduk. Dari Bandung ke Jakarta cowok berdarah Sunda itu memang memilih menggunakan motor kesayangannya.