(DIHARUSKAN FOLLOW SEBELUM BACA!!!)
=Proklisi Series=
'Being perfect for something less than perfect'
🕸️🕸️🕸️
Ketidaksengajaan membawa Eza Evander Wiraguna pada garis takdir yang tak pernah dirinya inginkan.
Menjadi seorang suami dan ayah di usia...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tolong menyingkir dari keramaian. Part kali ini mengandung kebaperan yang agak *tittt*. Pokoknya kalau kalian senyum-senyum sendiri, kasih tau aku. Wkwk.
Jangan lupa buat tekan bintang dulu🖤
Spam lope item '🖤' Buat pertanda kalau kalian excited dengan cerita ini🖤🖤
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Apa yang kamu rasakan ketika baru saja membuka mata di pagi hari, dan menemukan orang yang kamu cintai terlelap di sampingmu?
Senang, hangat, rasa cinta yang bertambah. Itu adalah hal yang selalu Eza rasakan setiap pagi, ketika ia terbangun dan mendapati Fransiska masih terlelap di pelukannya.
Mencium singkat kening istrinya, Eza mengusap bahu wanita itu ketika merasakan pergerakkan kecil. Senyumnya terukir ketika Fransiska semakin menyembunyikan wajah di dadanya.
Selama tujuh bulan lamanya menikah, banyak hal yang tanpa Eza sadari perlahan mulai berubah. Dulu, ia tidak jauh berbeda dengan Gilang dan Asep yang senang bermain-main. Bukan tentang perempuan namun, tentang kebiasaan. Eza itu jahil, sering bertingkah yang aneh-aneh, dan benar-benar menyebalkan. Namun, Eza sadar kalau setelah menikah, ia sudah jarang bertingkah seperti itu lagi.
Bukan dipaksa dewasa oleh umur namun, dipaksa dewasa oleh keadaan. Mungkin itulah sekiranya perumpamaan yang mewakili Eza setelah kesalahan yang terjadi hingga mengharuskannya menikah di usia muda.
Eza tak pernah menyesal bisa mengenal seorang Fransiska Clarine. Penyesalannya hanya ada pada cara mereka dipertemukan. Pertemuan yang telah berhasil merenggut apa yang telah wanita itu jaga, juga mengacaukan segala plan yang telah Fransiska rancang untuk masa depannya.
Kata maaf sudah sering Eza rapalkan namun, rasa bersalah itu tetap ada. Mengingat tangis Fransiska ketika dirinya dinyatakan hamil, selalu sukses membuat rasa bersalah kembali menghantui Eza.
Ketika Fransiska berniat menggugurkan kandungannya, Eza sama sekali tidak marah pada perempuan itu. Ia tahu dan mengerti dengan apa yang Fransiska rasakan. Alasan mengapa dirinya mencegah waktu itu, bukanlah sekadar untuk menyelamatkan anaknya namun, ibu dari anaknya juga. Eza tahu aborsi bukanlah proses yang mudah. Sakitnya bahkan melebihi dari orang yang melahirkan. Dan yang paling penting, Eza tahu kalau rasa bersalah akan selalu menghantui Fransiska setelahnya.