Selesai dengan tugasnya, Freya berjalan cepat menuju pos. Sebagian murid melakukan aktivitas bebas. Ada yang bersantai ria, bermain air, mengambil foto, dan sebagainya. Namun Freya melihat teman sekelompoknya hanya diam berdiri di dekat pos.
"Karena Freya sudah selesai begitu juga kalian telah berhasil menyelesaikan tugas dengan sangat baik. Saya mengucapkan banyak terima kasih, kalian boleh bebas melakukan apa saja asal tetap tertib, sopan, juga jaga tata krama." ujar Pak guru melihat Freya baru bergabung.
Jadi mereka menunggu Freya selesai sedari tadi?
SMA Taruna Bangsa memang sering menerapkan peraturan dalam kondisi apa pun. Menghindari adanya kecurangan di dalam kelompok di mana hanya sebagian anggota yang bekerja dan sisanya hanya bermain saja.
Tetapi mungkin Freya tak pernah sadar akan peraturan tersebut.
Semua bebas membantu, Saguna hendak melakukannya tetapi Freya malah menolak mentah-mentah.
"Udah gue bilang, kerja lo lama." kata Saguna ketus kemudian pergi hingga sengaja atau tidak sengaja menubruk pundak Freya kasar.
***
Lumayan lama beristirahat menghabiskan waktu di air terjun. Tidak terasa sudah waktunya pulang. Tidak sedikit dari mereka masih ingin berlama-lama menikmati pemandangan dan suasana air terjun, saking indahnya tempat tersebut.
"Tadi aku cuci muka di air terjun. Ya ampun, segar banget rasanya." kata Meisya bercerita.
"Iya, airnya dingin banget." tambah Fani. Ia juga sempat mencuci muka dengan air terjun tadi.
"Frey? Freya!" Meisya memanggil Freya karena tidak mendapat jawaban.
"Eh." kata Freya tersadar. "Kenapa?"
"Lo yang kenapa, ada sesuatu yang menggangu pikiran lo?" tanya Fani sebab Freya melamun.
"Gak ada kok, santai aja." jawab Freya memberi senyuman terbaiknya.
"Kamu pikir dengan senyum kaya gitu aku bakal percaya kalau kamu baik-baik aja?" tanya Meisya cukup membuat Freya tercekat.
"Ngomong apa sih, Sya? Emang gue baik-baik aja. Please jangan lebay deh." kata Freya masih menyangkal.
Sebelum para murid mulai memasuki bus sekolah untuk kembali pulang. Bagian penting jangan sampai terlewat, yaitu sesi foto bersama.
"Berjejer yang rapi dan lurus semuanya. Biar hasil fotonya bagus, oke?" kata Pak guru mengatur muridnya untuk mengambil foto. "Fotonya di handphone Bapak aja, biar pakai B612."
"Jangan dong, Pak. Pake kamera lebih bagus hasilnya!"
Mendengar itu mau tak mau Pak guru hanya bisa setuju.
"Jangan miring berdirinya, nanti di frame jadi jelek!"
"Kamu tinggi banget kasihan temanmu di belakang gak kelihatan. Sedikit jongkok nggak papa, ya?"
"Saguna, kamu mau kelihatan di foto nggak sih?" tanya Pak guru menunjuk ke arah Saguna.
"Iya, Pak." jawab Saguna seadanya.
"Kalau gitu berdirinya jangan berjauhan. Aduh, kamu ini gimana sih, Na? Bapak tau kamu alergi sama orang banyak. Tapi tenang aja, sudah nggak ada covid 19!" ujar Pak guru menarik Saguna mendekat kemudian mengatur posisinya.
Oh tidak, Pak guru menyuruh Saguna berdiri di samping seorang gadis.
Jangan menebak gadis lain. Cerita ini kan memang tentang Saguna dan Freya. Jadi tentu saja gadis itu adalah,
bukan Freya.
Saguna mengedar pandang dan mendapati Freya berdiri di urutan paling ujung sebelah kiri sedangkan dirinya berdiri di paling ujung sebelah kanan. Tidak ada angin, tidak ada hujan, Saguna malah berjalan berpindah posisi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Saguna
Romance[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Spin off cerita "Aksara" dapat dibaca terpisah <3 "Bisa diam gak?" "Jangan ganggu gue!" "Gue bukan pacar lo, Frey." Top 3 kalimat Saguna Zayyan, cowok super dingin mengalahkan tumpukan salju di Kutub Utara. "DASAR...
