#37 yakin

204 11 6
                                        

Selesai dengan tugasnya, Freya berjalan cepat menuju pos. Sebagian murid melakukan aktivitas bebas, ada yang bersantai ria, bermain air, mengambil foto, dan sebagainya. Namun Freya melihat teman sekelompoknya hanya diam berdiri di dekat pos. 

"Karena Freya sudah selesai begitu juga kalian telah berhasil menyelesaikan tugas dengan sangat baik. Saya mengucapkan banyak terima kasih, kalian boleh bebas melakukan apa saja asal tetap tertib, sopan, juga jaga tata krama." ujar Pak guru melihat Freya baru bergabung.

Jadi mereka menunggu Freya selesai sedari tadi?

SMA Taruna Bangsa memang sering menerapkan peraturan dalam kondisi apapun, menghindari adanya kecurangan di dalam kelompok di mana hanya sebagian anggota yang bekerja dan sisanya hanya bermain-main saja.

Tetapi mungkin Freya tak pernah sadar akan peraturan tersebut.

Semua bebas membantu, Saguna hendak melakukannya tetapi Freya malah menolak mentah-mentah.

"Udah gue bilang, kerja lo lama." kata Saguna pergi hingga sengaja atau tidak sengaja menubruk pundak Freya kasar.

***

Lumayan lama beristirahat menghabiskan waktu di air terjun. Tidak terasa sudah waktunya pulang. Tidak sedikit dari mereka masih ingin berlama-lama menikmati pemandangan dan suasana air terjun, saking indahnya tempat tersebut.

"Tadi aku cuci muka di air terjun. Ya ampun, segar banget, Frey." kata Meisya bercerita.

"Iya, airnya dingin banget." tambah Fani. Ia juga sempat mencuci muka dengan air terjun tadi.

"Frey? Freya!" Meisya memanggil Freya karena tidak mendapat jawaban.

"Eh," kata Freya tersadar. "Kenapa?"

"Lo yang kenapa, ada sesuatu yang menggangu pikiran lo?" tanya Fani sebab Freya melamun.

"Gak ada kok, santai aja." jawab Freya memberi senyuman terbaiknya.

"Kamu pikir dengan senyum kaya gitu aku percaya kamu baik-baik aja?" tanya Meisya cukup membuat Freya terkejut.

"Apa sih, Sya. Memang gue baik-baik aja, lebay deh lo." kata Freya masih menyangkal.

Sebelum para murid mulai memasuki bus sekolah. Bagian penting jangan sampai terlewat, yaitu sesi foto bersama.

"Berjejer yang rapi semuanya. Biar hasil fotonya bagus, oke?" kata Pak guru mengatur muridnya untuk mengambil foto. "Fotonya pakai handphone Bapak aja, biar pakai B612."

"Jangan dong, Pak. Pakai kamera lebih bagus!"

Mau tak mau Pak guru hanya bisa setuju.

"Jangan miring berdirinya, nanti di frame jadi jelek!"

"Kamu tinggi banget kasihan temanmu gak kelihatan. Sedikit jongkok, ya?"

"Saguna, kamu mau kelihatan di foto gak?" tanya Pak guru menunjuk ke arah Saguna.

"Iya, Pak." jawab Saguna seadanya.

"Kalau gitu berdirinya jangan jauh-jauh. Aduh, kamu ini gimana sih, Na. Bapak tau kamu anti sama orang banyak. Tenang aja, sudah gak ada covid 19!" ujar Pak guru menarik Saguna mendekat, mengatur posisinya.

Oh tidak, Pak guru menyuruh Saguna berdiri di samping seorang gadis.

Jangan menebak gadis lain. Cerita ini kan memang tentang Saguna dan Freya. Jadi tentu saja gadis itu adalah,

bukan Freya.

Saguna mengedar pandang dan mendapati Freya berdiri di urutan paling ujung sebelah kiri sedangkan dirinya berdiri di paling ujung sebelah kanan. Tidak ada angin, tidak ada hujan, Saguna berjalan berpindah posisi.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 26, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Saguna Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang