Halo semuanya!
Apa kabar? Semoga baik-baik aja ya,
Enjoy this part with Saguna Zayyan.
***
Hari ini, di mana Saguna harus kembali mengikuti kemauan Ardana, sang Ayah. Meminta dirinya untuk bertemu dengan Mbak Hanna, wanita berumur sekitar 30 tahun. Keturunan tionghoa atau banyak dari orang menyebutnya dengan sebutan Chindo yaitu China dan Indonesia.
"Memang akan sulit untuk memulainya kembali, Saguna. Saya paham karena kita sudah lama sekali tidak bertemu." ujar Hanna tidak memaksa Saguna.
"Sebenarnya nggak ada yang bisa diceritakan, Mbak. Karena saya memang baik-baik aja." jawab Saguna yang sudah duduk di sofa kulit nyaman tepat di hadapan Hanna selama lima belas menit.
"Loh, memang hanya masalah yang mau kamu ceritakan ke Mbak?" tanya Hanna. "Mbak mau tau gimana kabar kamu, hari-hari kamu. Kamu ingat gak dulu selalu cerita sama Mbak. Sampai minta ketemu setiap hari." sambung Hanna medok, logat jawa yang terdengar kental.
"Ingat." kata Saguna tersenyum samar.
"Jadi gimana kabar kamu?"
"Kabar baik, sangat lebih baik."
"Mbak senang banget mendengarnya." ujar Hanna lega.
Saguna adalah satu-satunya pasien yang memanggil Hanna dengan sebutan, Mbak. Dimulai dari pertemuan pertama. Saguna masih sangat kecil dan susah sekali diajak berbicara. Saguna tak menjawab atau bahkan tersenyum kecil. Sangat sulit untuk membuat Saguna menceritakan sesuatu yang terjadi kepadanya.
Tentang pembulian yang dialami. Dikarenakan Saguna yang diam tidak mau membuka suara kepada seorang pun di keluarganya. Dengan sikap murung serta tak banyak bicara. Ardana merasa ada yang aneh dengan sang putra. Dan berkat jasa seorang wanita bernama Hanna, tidak pernah menyerah menghadapi segala sikap Saguna, semuanya menjadi sangat jelas.
Sejak itu Saguna tidak bisa lepas dari Hanna, keadaannya mulai berangsur membaik.
Saguna merasa senang dan tenang mempunyai pendengar. Dirasanya selalu ada saja hal yang dapat diceritakan kepada Hanna.
"Sekarang di sekolah saya punya banyak teman, bahkan empat orang sahabat." ujar Saguna dan Hanna tersenyum lebar.
"Pasti seru sekali ya, Na." kata Hanna antusias. Cara bicaranya masih sama seperti kepada Saguna kecil dulu.
"Iya, Mbak."
"Terakhir Mbak dengar kamu suka sama yang berbau komputer, internet dan sejenisnya?"
"Iya. Masih suka kok." jawab Saguna.
"Keren banget, Saguna. Asal jangan hack akun sembarangan, apalagi Instagram Mbak yang udah banyak followernya." gurau Hanna kemudian keduanya tertawa bersama.
"Oke, tapi follow back akun saya ya, Mbak." balas Saguna ikut bercanda. Suasana hangat dapat Saguna rasakan, seperti kembali ke rumah.
"Jadi benar semuanya baik-baik aja. Mbak senang kalau tau kamu sekarang bisa menikmati masa sekolah."
Sebenarnya ada rasa ingin bercerita masalah yang sedang dialami kepada Hanna, namun sulit. Bukan karena tak percaya. Sudah lama sejak kali terakhir Saguna berbicara tentang perasaan, isi di pikiran juga suasana hatinya.
Saguna terlihat tegang dan sering kali memejamkan matanya. Hanna memerhatikan gerak-gerik Saguna dengan sangat baik, matanya teralih pada dua jari tangan Saguna yang mengetuk-ngetuk sanggahan sofa.
"Jangan takut berbagi cerita, bercerita bukan berarti lemah."
"Saya tau." jawab Saguna.
"Mbak akan selalu jadi tempat aman untuk kamu, Na. Kamu bisa cerita apa saja." kata Hanna lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Saguna
Fiksi Remaja[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Spin off cerita "Aksara" dapat dibaca terpisah <3 "Bisa diam gak?" "Jangan ganggu gue!" "Gue bukan pacar lo, Frey." Top 3 kalimat Saguna Zayyan, cowok super dingin mengalahkan tumpukan salju di Kutub Utara. "DASAR...
