Gue iseng doang, nggak serius-serius amat.
Tapi ternyata terkabulkan juga do'a gue, haha.
-Noval Tareynando.
***
Sandi sehabis pulang sekolah tadi mempunyai janji pada Vano untuk mengajaknya jalan-jalan sore menggunakan motor miliknya, motor Vano sedang di bengkel jadi tadi ia di antar pulang oleh Sandi.
Eki pun sama, motornya di bengkel untuk di perbagus lagi. Ia pulang di antar oleh Noval menggunakan motor cowok itu.
Vano dan Sandi kini tengah jalan-jalan sore di sebuah jalanan yang cukup ramai, terlebih lagi banyak orang yang boncengan cewek dan cowok berkemungkinan mereka pacaran.
"Eh, Van. Liat tuh orang-orang sama pacarnya, lah gue? Sama temen." dumel Sandi menyelip satu motor di depannya.
Vano melirik kanan kiri dan juga menoleh ke belakang, ia bergidik ngeri karena dikelilingi oleh orang yang jalan dengan membawa kekasihnya masing-masing. "Gue punya pacar tapi motor gue aja yang di bengkel,"
"Ya sama aja, nggak bisa jalan sama pacarnya."
"Kanan kiri depan belakang pada pacaran semua. Lah yang dibonceng gue mah cowok, mana temen lagi,"
"Gue pengen pacaran tapi dosa, tapi kalo ngeliat rasanya iri juga,"
"Tumben lo banyak ngomong, mending diem, San." kata Vano. Ini sedikit membingungkan baginya.
"Abis kesurupan reog, makanya banyak omong." Sandi menyahut asal.
"Gu-"
Belum sempat Sandi meneruskan ucapannya, tapi langsung dihentikan oleh Vano.
"Lo berisik banget! Lama-lama gue jahit juga mulut lo." oke, jika Vano sudah ngegas seperti ini maka tiba saatnya partner bicaranya untuk diam.
Sandi diam dan sesekali melirik Vano lewat kaca spion, ia membatin. "Orang-orang kalo di lirik dari spion kebelakang tuh cewek, tapi gue ngelirik eh adanya cowok. Mana ganteng lagi, tapi gantengan juga gue. Pede aja dulu,"
"San,"
"Hm."
"Kangen," gumam Vano tak terdengar oleh Sandi, namun cowok itu memperhatikan Vano dari kaca spion alhasil ia tahu apa yang terucap dari bibir temannya itu.
"Kangen siapa?"
"Pacar gue lah, ya kali kangen emak lo."
"Jemput lah, lamar langsung. Jangan kelamaan pacaran nanti ada setan ngehasud lo sama Eka, terus bunting duluan." Sandi berkata seperti apa yang ada di fikirannya jika terlalu lama pacaran tanpa ada sebuah kepastian, terhasud setan, kan berujung bahaya.
"Heh, lo kalo ngomong nggak pernah disaring dulu, Nyet!" Vano sewot menatap nyalang Sandi yang terpantul dari kaca spion. Sandi melirik Vano sekilas lalu kembali menatap jalanan yang tak seramai tadi, ia sengaja menjauhi jalan raya pusat kota karena eneg melihat remaja kasmaran berlalu lalang. Duh, dia eneg atau iri, ya?
Diam, tak ada obrolan yang berlanjut sesudah itu. Hingga ponsel Vano berdering dari saku celananya menandakan ada orang yang menelfonnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAZEL
TienerfictieAlvano Hazel Rasendra, seorang cowok berparas tampan membuat siapa saja terpanah dengan ketampanannya. Dia menjabat sebagai ketua geng yang bernama Lirex. Semboyan prinsip yang mereka pegang "Tak akan pernah melawan sebelum ditantang untuk melawan"...
