27- OPSI KEDUA

47 6 3
                                        

Halo semuanya, apa kabar?
Maaf banget yaa karena sempat hiatus.
Kemarin hiatus itu karena ujian, dan sekarang udah beres ujiannya, yey
Bisa lanjut lagi deh nulisnya
.
Oke deh, selamat membaca♡
.

Perkemahan kali ini tidak berjalan secara kondusif. Kini, guru pembimbing sudah tahu bahwa lokasi yang dijadikan sebagai area kemah adalah lokasi berbahaya.

Ditambah keempat cowok dari regu Vano kembali ke tenda dalam keadaan tak bersahabat. Baju kotor akibat berkelahi, memar kebiruan tercetak di beberapa bagian, dan yang lebih parah lagi kaki Vano terdapat luka tembak yang untungnya peluru yang ditembakkan sedikit meleset hingga membuatnya tak bersemayam dalam daging. Tak lupa, Shela membawa segores luka sayat benda tajam di kakinya.

Tak ingin menambah korban lagi, para guru yang bertanggung jawab langsung mengambil langkah agar acara kemah kali ini diselesaikan.

Jam 23.17 rombongan SMA LIGA BANGSA berhasil sampai di sekolah. Mereka sepakat untuk menginap di sekolah karena tidak memungkinkan untuk pulang ke rumah masing-masing ditengah malam seperti saat ini.

Semua siswa diperkenankan untuk tidur di dua tempat. Perempuan di aula, sedangkan laki-laki di ruang lab yang kebetulan dua ruangan itu habis di renovasi yang pastinya masih kosong dan bersih.

Tak mengikuti aturan, delapan orang yang merupakan Vano, Sandi, Eki, Noval, Shela, Alya, Naila dan Ratna memilih kelas mereka saja yang dijadikan tempat untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Mereka tidur dengan cara duduk atau bahkan tidur di lantai tanpa alas seperti Noval dan Eki.

Semuanya tertidur, kecuali Vano. Cowok itu duduk di samping Shela sambil mengamati wajah polos gadisnya yang terpulas dalam tidurnya.

Tangan Vano terangkat, ia mengelus lembut kepala Shela, "Maafin gue, Shel."

Perlahan tangannya bergerak memindahkan kepala Shela agar menyandar di dada bidangnya, Shela agak terusik namun kembali terlelap. Gadis itu secara tidak sadar memeluk Vano dari samping, entahlah mungkin ia pikir Vano adalah guling. Vano tersenyum singkat lalu mengecup sekilas pucuk rambut Shela.

Ting!

Handphone Vano berbunyi menandakan ada notifikasi masuk. Ia merogoh saku celananya untuk mengambil benda pipih mahal miliknya. Vano membuka layar ponsel, ternyata terdapat pesan dari Dion, kakaknya.

Dion
Si bangsat kabur pas lawan gue, dia ngincar cewek lo. Jagain baik-baik, jangan lengah.

Vano membaca pesan itu dengan kegeraman dari dadanya. Tentu ia faham siapa yang disebut 'Si bangsat' oleh Dion. Ia menghela nafas kasar, lalu menaruh ponselnya begitu saja.

"Cupu. Nyaingin kok bawa-bawa cewek," gerutunya geram.

Cowok itu menilik wajah polos Shela, "Gue bakal jagain lo dari Leon. Tenang aja," ujarnya.

Iseng, Vano mencubit pipi Shela hingga gadis itu terusik lantas terbangun.

"Ihh, apaan sih!" Shela kesal karena tidurnya terganggu.

"Dih ngegerutu," Vano mencolek hidung Shela, "Tadi meluk-meluk gue," godanya.

"Nggak! Siapa juga yang meluk lo, dih." Shela benar-benar kesal, Vano terkekeh ringan melihat ekspresi Shela yang baginya begitu menggemaskan.

"Mau tidur lagi?" Vano berujar saat Shela meletakkan kepalanya di meja dengan tangan sebagai bantalan.

"Tidurnya jangan gitu, nanti pegel badannya." kata Vano sembari mengubah posisi tidur Shela agar kepala gadis itu menyender di dada bidangnya. "Gini aja,"

HAZEL Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang