Empat orang gadis sedang berada di salah satu Kafe hits yang biasa disebut sebagai Kafe Gejora. Empat minuman segar sudah berada di atas meja, menemani dalam kesibukkan mereka yang sedang mengakses laptop guna menghadap materi untuk persiapan ujian pada esok hari.
Kafe nyaman yang biasa digunakan untuk berpacaran, ngobrol-ngobrol santai, kini berubah menjadi tempat yang dipenuhi oleh sebagian besar orang yang sedang memfokuskan diri dalam menghadap laptop guna memahami artikel-artikel materi pembelajaran. Lumayan, Wi-Fi gratis.
Dalam keseriusan matanya yang terfokus pada layar laptop, Shela menghentikan aktifitasnya lalu berdiri.
"Mau kemana?" tanya Alya tanpa mengalihkan pandangannya.
Shela tercengir tipis walaupun tak dilihat oleh teman-temannya, "Ke toilet sebentar," usai mengucapkan itu Shela langsung kabur dari tempat semula.
Setelah sampai di toilet, ia langsung masuk ke dalam salah satu bilik. Tak sampai 5 menit urusannya beres. Ia hendak keluar, namun tangannya dicekal oleh seseorang dari belakang.
Shela refleks menarik tangannya dan menoleh, ia mendapati Eka yang sedang berdiri di hadapannya saat ini.
"Apa-apaan lo?!" raut wajah Shela jelas menggambarkan bahwa ia tak suka dengan perempuan didepannya ini.
"Tenang, Shel. Gue nggak akan jahatin lo. Udah lama gue nunggu biar bisa ngomong langsung sama lo, dan mungkin sekarang waktu yang pas buat jelasin semuanya."
"Gue nggak butuh penjelasan lo! Dan nggak ada yang perlu dijelasin lagi. Jangan ganggu gue, dan jangan sok bersikap layaknya sikap baik lo yang dulu." Shela menekan setiap kata-katanya sebelum berbalik badan hendak pergi.
"Gue tau apa yang lo gak tau, Shel. Bukan cuma penting buat lo, tapi juga penting buat Vano." tanpa mencegah dengan tangan, perkataannya mampu menghentikan niat Shela yang akan melangkahkan kakinya.
Shela menghembuskan nafas lalu terkekeh sembari membalikkan kembali tubuhnya. "Penting apa? Oh, atau lo masih ada rasa sama Vano? Nyesel mutusin Vano?" tanya-nya beruntun.
Eka menggeleng santai, "Gue tau kalo lo berdua lagi di teror sama seseorang. Dan lo sendiri belum tau siapa dia sebenarnya." ia tersenyum tipis sebelum merogoh ponselnya.
Layar ponselnya tertampang jelas, menampilkan sebuah foto yang sempat ditangkap olehnya beberapa hari yang lalu. Foto Leon dan Fio di Kafe Gejora kala itu. "Lo juga mungkin tau siapa cowo di foto ini. Gue nggak sengaja denger obrolan mereka waktu itu. Gue nggak tau pasti perempuan yang ada di foto ini siapa, tapi gue denger kalo Leon manggil dia 'Fio'. Dan gue rasa kalo gue juga pernah ketemu sama dia, Shel."
Shela masih diam, tak menunjukkan respon apapun. Dia bingung dengan semuanya, dan juga karena sebenarnya dia tidak begitu percaya dengan apa yang Eka katakan barusan.
"Gue langsung telfon Vano waktu itu. Gue gabisa jelasin banyak karena disitu gue lagi nyetir. Intinya mereka berdua ngerencanain sesuatu yang jahat buat lo sama Vano." Eka masih terus bicara walau Shela belum juga meresponnya.
"Sorry Shel, tapi gue rasa dia temen dekat lo." Eka berujar yakin.
"Gue nggak bisa nuduh temen deket gue, dan gue juga nggak terlalu ambil pusing soal ini. But, thanks." Shela membalikkan tubuhnya lalu berjalan pergi.
"Tapi Shel! SHEL!!" Eka kembali memanggilnya namun Shela tak menggubris sampai dirinya benar-benar keluar dari toilet.
"Ah! Penyesalan gue ke lo belum gue ungkapin Shel." Eka menunduk lesu dengan tangan yang menumpu di ujung westafel, tanpa bisa dicegah air matanya mengalir dan ia pun terisak seorang diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAZEL
Teen FictionAlvano Hazel Rasendra, seorang cowok berparas tampan membuat siapa saja terpanah dengan ketampanannya. Dia menjabat sebagai ketua geng yang bernama Lirex. Semboyan prinsip yang mereka pegang "Tak akan pernah melawan sebelum ditantang untuk melawan"...
