18- KERICUHAN DAN BALAS DENDAM.

81 22 6
                                        

Para dewan guru akan mengadakan rapat dadakan, sehingga para siswa SMA Liga Bangsa dipulangkan. Sedang membereskan buku-buku untuk dimasukkan kedalam tas masing-masing, seketika ponsel Sandi berdering. Ia mengeluarkan benda pipih itu dari saku celananya.

Tertera nama salah satu anggota Lirex disana, Sandi dengan cepat mengangkatnya.

"SAN! KE MARKAS SEKARANG! BANYAK PREMAN NGEROYOK MARKAS!"

"Sialan!"

Tutt.

"EKI, NOVAL! CEPAT! MARKAS DI KEROYOK." teriak Sandi menggebu lalu berlari tergesa keluar kelas.

"Bangsat!" Noval dan Eki langsung menyusul Sandi yang sudah berada di dekat area parkir.

Suasana kalut, mereka melajukan motor seperti sedang dikejar rentenir. Lima menit berlalu, tibalah mereka semua di markas. Jaraknya lumayan jauh, tapi kali ini mereka mampu melewati jalan jauh tersebut hanya dengan waktu lima menit.

Sekitar 70 orang preman berbadan besar sedang beradu jotos dengan anggota Lirex yang kebetulan berada di markas.

Suara riuh menjadi pengisi tempat ini. Ternyata, para preman itu tak menggunakan tangan kosong, melainkan masing-masing mempunyai pisau lipat di saku celananya.

"Senjata api." bisik Sandi pada Eki. Mereka berdua berlari cepat memasuki markas, tepatnya memasuki gudang senjata. Sedangkan Noval? Ia membantu para anggota untuk menumbas preman biadab ini.

Sebagian anggota ada yang terluka akibat pisau lipat preman itu berhasil mengenai tubuh anggota Lirex, hanya tusukan yang tak dalam. Meskipun darah melumuri bagian yang ditusuk, para anggota masih sanggup menahannya dan tak menyerah begitu saja.

Dor!

Dor!

Suara tembakan dari benda yang di pegang oleh Sandi dan Eki mengambil alih fokus para preman berbadan kekar itu. Hingga kesempatan emas terdapatkan bagi anggota Lirex untuk menghajar habis-habisan preman tersebut.

Mengeluarkan pistol hanya untuk mengelabui, bukan menumbas rata lawannya. Kecuali, jika ada nyawa yang hilang walaupun hanya satu. Maka jangan salahkan jika pistol itu memakan banyak nyawa sebagai gantinya.

Pembalasan over bagi geng Lirex ialah, ketika satu gugur maka seribu dari mereka harus gugur. Namun, jika satu terluka maka mereka harus merasakan hal yang sama.

Melihat para preman sewaannya terkulai lemah di atas tanah, kini ia memunculkan diri menuju tengah lapangan. Lebih tepatnya, menghadapkan diri pada Sandi.

Ia menggunakan pakaian serba hitam dengan kupluk hoodie ia kenakan, lalu mengeluarkan pistol dari saku celananya mengangkat tinggi-tinggi dan ...

Dor!

Tembakan lepas ke arah atas ia lepaskan. Kemudian ia menyodorkan pistol itu kehadapan Sandi, sang wakil ketua dari geng Lirex, sembari membuka kupluk hoodie nya.

"Anggota gue terkapar parah atas kelakuan dari dua geng menjijikkan. Lirex dan Tigrey, malam itu!" ia menggertakkan giginya dengan tangan kanan lurus menyodorkan pistol kearah Sandi.

"Apakabar sama ketua gue yang terbaring di brankar rumah sakit hanya karena ketua cupu lo itu?" Sandi berujar santai. Pada detik yang sama, ia mengangkat pistol mengarah pada cowok di hadapannya.

Sandi mengkode Noval untuk segera mengobati sebagian anggota yang terluka. Seluruh anggota memasuki markas meninggalkan tiga orang dan puluhan preman yang sudah terkapar di tanah.

Eki masih setia berada di samping Sandi. Sikapnya yang receh, kini tergantikan dengan aura serius sekaligus sangar khas inti geng.

"Geng lo yang buat anggota gue terkapar!" ucap cowok itu penuh penekanan, lalu ...

HAZEL Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang