Langit malam yang indah serta cahaya terang beribu bintang dengan satu bulan mampu menyorotkan sinar kedamaian bagi mata siapa saja yang melihatnya. Namun, rasanya begitu berbeda ketika keadaan hati nan pikiran sedang dihantui rasa bimbang.
Pemandangan indah langit kali ini seolah teralihkan dengan suatu hal yang membuat seorang remaja laki-laki melamun dalam kamarnya dengan jendela kamar yang terbuka. Duduk di atas kursi belajar sambil memandang tanpa gairah langit gelap yang indah.
Laki-laki itu menghembus nafas kasar, ada satu hal yang tengah ia pikirkan malam ini.
"Cincin perak itu kenapa bisa Vano temuin di rumah Shela? Di waktu yang sama, Naila kehilangan cincin peraknya juga." Sandi bermonolog sendiri, sekali lagi dia menghembuskan nafasnya secara kasar.
Sandi mengusap wajahnya, sedetik kemudian ia berdecak. "Nggak mungkin lo, kan, Nai?" Bingung serta risau menggerogoti jiwa Sandi kali ini.
Sandi dari dulu sudah memiliki suatu rasa untuk Naila. Belum lama ini juga ia sempat mengutarakan rasa sukanya pada gadis itu. Insiden tadi sore yang mungkin saja hanya kebetulan mampu membuat hatinya terombang-ambing.
Tak lucu jika ia harus kecewa pada gadis yang ia sukai sejak lama, bukan? Ia sama sekali tak mengharapkan bahwa Naila lah yang melakukan itu.
"Kebenarannya belum pasti aja gue udah kayak gini, Nai. Apalagi kalo emang terbukti lo otak rencananya, bisa gila gue nanti!" Sandi memejamkan matanya sekilas lalu membukanya kembali.
Dia mendesah risau lalu bangkit untuk menutup jendelanya. Setelah selesai, ia menghempaskan tubuhnya pada kasur empuk miliknya. Memejamkan mata namun belum terlelap, ia sempat bergumam, "Gue harap bukan lo pelakunya, Nai."
*****
Sama seperti laki-laki yang tengah memikirkannya, Naila juga saat ini sedang risau karena memikirkan pertanyaan Sandi tadi sore yang cukup tak dimengerti olehnya.
"Lo bukan dalang dari semuanya, kan?"
Pertanyaan itu masih berputar diingatan Naila. Pertanyaan atas kejadian tentang cincinnya yang hilang di rumah Shela tadi membuat hasrat overthingking nya kian melonjak.
Sedang pusing karena cincin perak kesayangannya hilang, ditambah lagi dengan pertanyaan yang tak masuk akal baginya telah terdengar dari mulut Sandi.
"Huh! Maksud Sandi tuh apa, sih?!" Naila sedari tadi mondar-mandir sambil mengomel tidak jelas.
Gadis cantik itu menepuk-nepuk pelan dahinya, "Ayo lah Nai, Pikir dong! Ini tuh sebenernya ada apa? Kenapa Sandi bisa nanya kayak gitu?"
Masih mondar-mandir kesana-kemari, ia menghentakkan kakinya kesal. "Ih, otak gue bego amat sih! Ayo dong ada pencerahan, gelap banget nih pikiran gue!"
Hentakkan kakinya berhenti, ia berlagak seperti telah menemukan ide cemerlang, "Apa gue tanya langsung aja kali ya?" tangannya terulur untuk mengambil handphone di atas nakas. Ia menelfon nomor Sandi namun suara operator lah yang menjawab.
Maaf, pulsa Anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan. Silahkan isi ulang pulsa-- tutt.
Naila langsung mematikan panggilannya. Ia beralih ke sebuah aplikasi yang biasa digunakan untuk berbalas pesan.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAZEL
Teen FictionAlvano Hazel Rasendra, seorang cowok berparas tampan membuat siapa saja terpanah dengan ketampanannya. Dia menjabat sebagai ketua geng yang bernama Lirex. Semboyan prinsip yang mereka pegang "Tak akan pernah melawan sebelum ditantang untuk melawan"...
