34- PERINGKAT TIGA BESAR TO UJIAN NASIONAL

44 4 0
                                        

Bel sekolah berbunyi nyaring pada saat memasuki jam pelajaran pertama. Siswa kelas XII IPA 3 sudah bersiap diri untuk mengikuti Try Out selama satu minggu full di bulan ini.

Tugas-tugas praktek maupun tugas yang lainnya sudah terselesaikan dari dua minggu yang lalu, termasuk tugas praktek membuat kolase yang sempat dilakukan di rumah Shela waktu itu.

Dua minggu dihabiskan oleh kesibukkan dalam menyelesaikan tugas, dua minggu pula Shela merasa lebih tenang karena tak ada gangguan dari segi manapun, terutama dari seseorang yang berusaha menyelakai dirinya dan Vano. Ia harap rasa 'tenang' ini bisa berlanjut tanpa henti. Semoga saja.

Pintu kelas yang tertutup telah dibuka oleh guru yang bertugas untuk mengawasi Try Out di kelas ini. Tanpa adanya basa-basi, guru itu pun memberi selembar kertas soal dan selembar kertas jawaban pada masing-masing siswa.

Try Out ini berjalan dengan kondusif. Tak ada yang berisik, maupun coba-coba menyontek, karena seluruh siswa tersita titik fokusnya pada lembar soal yang harus mereka isi.

Tak ada yang menginginkan nilainya jelek, tak ada pula yang tidak tertarik untuk mendapatkan nilai bagus. Perkara itu pasti mempunyai suatu alasan serta pemicu, dan setiap orang mempunyai pemicu tersendiri untuk menjalankan sesuatu dengan sempurna. Terlebih hal nya dengan seorang gadis yang diam-diam melirik 'teman' yang hanya menjadi formalitas baginya. Mata tajamnya tersirat sesuatu yang tak bisa diungkapi, ia berujar dalam hati. "Walaupun bukan posisi pertama, gue harus jadi yang kedua di tahun ini. Demi nasib gue dan juga Bang Leon."

*****

Brakk

Pintu rumah yang semula tertutup rapat kini terbuka sangat lebar, menampakkan dua orang dengan pakaian formal yang mulai memasuki rumah tersebut. Dua orang itu merupakan orang tua yang sudah 'Jauh' dari anak-anaknya.

"Leon! Fio! Turun kalian!" pria yang bernotabe sebagai Papa dari dua remaja itu berseru tegas sambil menaiki anak tangga diikuti oleh istrinya juga dari belakang.

"Saya disini." sahut seorang remaja laki-laki dengan pakaian khas anak geng yang berada diambang pintu utama. Tak hanya sendiri, adek perempuannya juga ada disana.

Pria berpakaian formal itu menoleh lalu terkekeh merendahkan. Ia berjalan ke pintu utama untuk mendekat pada putranya yang sudah cukup dewasa. "Ternyata masih bisa sembuh juga kamu, Leon? Saya kira udah 'lewat'."

Jemari perempuan yang berada di samping Leon mengerat geram. Leon menyadarinya, ia menggenggam jemari adeknya guna meredakan emosi yang berhasil terpancing.

Mata Leon bergulir dari kontak mata Papa lalu ke Mama nya. Pandangan tajam yang ia pancarkan tak sesuai dengan isi hatinya. Dia sama sekali tak menginginkan hubungan ini hancur. Jauh dari lubuk hatinya, ia menginginkan kehangatan dari orang tuanya.

"Ada apa?" Leon bertanya.

Papa mengangkat sebelah alisnya, "Masih belum paham?" pertanyaan retoris yang tak bisa Leon jawab. Sebenarnya bisa, tapi pertanyaan itu mempunyai makna yang tak semestinya.

"Lantai yang Anda pijak adalah rumah saya. Dan hak kepemilikan rumah ini ada di saya. Sebenarnya tak ada pemahaman apa pun kalau memang Anda bisa berpikir logis." Leon berujar, menyambungkan ke suatu 'hal' dari pertanyaan tadi.

"Hak yang kamu maksud ada hubungannya dengan Papa saya. Tanpa Papa saya, kamu sama sekali tidak mempunyai hak atas apa pun, termasuk adek kamu itu." wanita disamping Papa berkata santai namun berhasil menyentil hati Leon dan juga adeknya, Fio.

"Tanpa ada itu pun, saya tetap memilih ada di dekat Bang Leon daripada di dekat kalian." Fio menyentak keduanya.

"Jaga ucapan kamu! Saya tidak pernah mengajarkan kamu seperti itu!" kata Papa, hendak maju untuk melayangkan tamparan namun berhasil dicegah.

HAZEL Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang