Hi, welcome back.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote dan komen. Kalo suka, jangan lupa dimasukin ke library juga ya.
•
•
•
"Kau harus mencari celah."
"Bagaimana aku bisa mencari celah kalau mereka berdua terus bersama-sama?" tanya pria berambut ikal itu sedikit kesal. "Aku mulai lelah menguntit mereka berdua."
"Mereka tak mungkin bersama terus," ujar temannya, bersikukuh. "Pasti ada celah. Tetap awasi mereka, paham?"
Pria berambut ikal itu mendesah. "Baiklah," balasnya, mengalah.
Sebuah kikikan wanita terdengar dari ruang tengah. Dexter, si pria berambut ikal, mengernyit tak suka. Terganggu dengan kebisingan pasangan baru tersebut.
"Kau bilang dia tidak akan berisik," gerutunya pada Alex.
Pria berkulit gelap itu mengangkat bahu. "Mungkin mereka sedang bersenang-senang."
Sesaat setelahnya, mereka mendengar wanita itu mendesah. Alex mengangkat alisnya pada Dexter, seolah hendak mengatakan 'sudah kubilang, 'kan?' sambil menahan senyum geli.
Dexter mengerang kesal.
"Oh, biarkan saja, D," ujar Alex. Ia menyikut lengan sahabatnya. "Biarkan pasangan muda itu bersenang-senang. Kau akan mendapatkan masamu sendiri untuk merasakannya."
"Terserah." Dexter menyeruput kopinya. Ia lalu mendorong mangkuk berisi kue kering buatannya pada Alex. "Ini. Kau bisa menghabiskan sisanya."
"Dengan senang hati."
ㅤㅤ
"Aku ingin mengajakmu menemui teman-temanku," cetus wanita berambut merah itu. Telunjuknya bergerak tak beraturan di atas dada kekasihnya. "Aku ingin memperkenalkanmu pada mereka."
"Teman-temanmu?"
"Yup." Gladys, si wanita, mendongak pada kekasihnya. "Kau akan menyukai mereka. Aku yakin itu."
Pria itu berdehem rendah. "Baiklah, aku mau. Kapan kau mau mengajakku bertemu mereka?"
"Akan kucarikan hari. Aku ingin ketiga temanku hadir semua. Salah satu sahabatku, Skylar, dia cukup sibuk dengan pekerjaannya, jadi kami harus mencocokkan hari libur agar bisa berkumpul bersama," jelas Gladys.
Evan, kekasihnya, tersenyum. "Beritahu aku saja kapan. Aku akan meluangkan waktu untukmu."
Gladys tersenyum haru. Ia mengecup rahang Evan dan memeluknya. "Kau sungguh yang terbaik," pujinya.
ㅤㅤ
Wanita itu memberikan uang pada sopir taksi dan segera keluar. Hari ini ia berniat untuk bertemu dengan teman-teman lamanya semasa SMA. Salah satu temannya, Gladys, berniat memperkenalkan pacar barunya dan menyuruh mereka untuk berkumpul.
Tangannya mengubek isi tas, berusaha mencari ponselnya. "Di mana benda sialan itu?" gerutu Mia pelan.
Dengan kepala tertunduk, ia berjalan menuju kafe. Seseorang tiba-tiba menyenggol bahunya dari samping, membuatnya terhuyung dan terjatuh ke trotoar. Mia mengaduh pelan ketika pantatnya berbenturan dengan tanah.
"Ow!"
"Oh, astaga! Maafkan aku, nona. Kau baik-baik saja?"
Sebuah tangan terulur ke arahnya. Mia mendongak. Wow, batinnya mendesah kagum. Mata cokelatnya memandang iris biru itu, terkesima. Masih terpesona dengan pria itu, Mia meraih tangan yang terulur padanya dan bangkit.
"Aku... baik-baik saja."
Pria itu memungut dompetnya yang terjatuh ke jalan. "Kurasa ini milikmu?"
"Apakah aku milikmu?" ulangnya, masih terkesima dengan pria asing tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Twisted Fate (TERBIT)
General Fiction[ SUDAH DITERBITKAN, BISA DIAKSES/DIBELI LEWAT GOOGLE PLAYBOOK. LINK EBOOK TERTERA DI BIO. ] ----- ㅤ [ BOOK ONE OF THE FATE SERIES ] ㅤㅤ [ 18+ ] Alexander Vangelis kembali ke Brooklyn setelah menghabiskan bertahun-tahun menyusun rencana untuk membala...
