21 | confrontation

108 55 42
                                        

Hi!

Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote dan komen. Kalo suka, jangan lupa dimasukin ke library juga ya.



Wajah Alex merengut tak suka ketika pria itu mengucapkan namanya. Ia mematikan panggilan telepon secara sepihak, mengabaikan panggilan Dexter di seberang telepon. "Apa maumu, Rafael?" tanyanya kasar. "Cepat katakan dan pergi dari sini. Aku tidak punya urusan denganmu."

"Oh, kurasa kita punya urusan besar yang harus diselesaikan, Alexander," kata Rafael. Pria itu mengambil satu langkah mendekat, tatapannya begitu tajam hingga Alex merasa ia bisa terkapar tak bernyawa kalau saja sebuah pandangan dapat membunuh.

"Apa maksudmu?"

"Tidak perlu berlagak bodoh, Alex. Aku sudah mengetahui semua kelakuan busukmu," geram Rafael. "Aku sudah mendapatkan semua buktinya."

"Yeah? Bagaimana aku bisa tahu kau tidak sedang membual hanya untuk menakut-takutiku?" tantang Alex.

"Semua bukti yang kubutuhkan berada di tangan teman FBI-ku. Kau tidak perlu tahu apa saja yang sudah berhasil temanku temukan, tapi kuyakinkan kau, hasilnya cukup buruk." Rafael mengangkat dagunya membalas tantangan Alex. "Dengan satu jentikan jari saja, aku bisa menjebloskanmu ke penjara atas pencemaran nama baik, dan kejahatan berencana. Oh, jangan lupa, sahabat baikmu akan ikut denganmu ke penjara."

Rahang Alex mengetat, menahan amarah. Kedua tangannya terkepal, berusaha menahan diri untuk tidak meninju wajah sombong Rafael di tempat.

"Jika itu semua terbukti salah, dan kau hanya mengarang semua ucapanmu, aku bisa menuntutmu kembali karena sudah mengancam dan menuduh seorang penduduk tak bersalah," balas Alex tak kalah sengit. Ia tidak akan menunduk kalah begitu saja tanpa perlawanan.
"Atau--" sambung Alex, "kalau kau berani mengancamku sekali lagi, aku akan membalasmu dengan menyebarkan foto Mia ke internet."

Mendengar nama Mia disebut, tubuh Rafael seketika menegang. "Apa maksudmu?"

Untuk menjelaskannya, Alex menghidupkan ponsel dan mencari foto-foto yang ia ambil beberapa waktu lalu. Heh. Dexter memberi ide yang bagus dengan menyuruhnya mengambil foto-foto itu. Bagaimana Dexter bisa tahu kalau foto itu dapat berguna di kemudian hari?

Ia menunjukkan salah satu foto yang ia ambil ke depan wajah Rafael. "Lihat ini? Lihat bagaimana dia tidur dengan pose yang begitu menggairahkan?" Alex tersenyum bengis.

"Bagaimana jadinya kalau aku menyebarkan foto ini ke internet? Mm, aku yakin para pria hidung belang di luar sana akan kegirangan mendapat objek untuk memuaskan diri mereka sendiri."

Kedua tangan Rafael terkepal di samping tubuh, seakan pria itu tengah mati-matian menahan diri untuk tak menonjok wajah Alex.

"Bagaimana kau bisa mendapatkan foto-foto itu? Itu pasti hanya sebuah editan. Mia tidak mungkin--" Rafael tergagap, kesulitan mencari kata-kata. "Itu tidak mungkin Mia. Kau pasti mengada-ada."

"Kau pikir foto-foto ini hanya sebuah editan? Aku memotretnya sendiri. Dengan ponselku sendiri."

"Bagaimana...?" geram Rafael.

"Mudah saja." Alex mengangkat bahu. "Dexter memberiku akses."

Tubuh Rafael terhuyung ke belakang. Wajah pria itu berubah pucat pasi mendengar ucapan Alex.

Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik, meninggalkan Alex yang tengah menyunggingkan senyum penuh kemenangannya.

ㅤㅤ
"This is fucked up. Semuanya kacau."

Rafael melempar alat komunikasi yang terpasang di belakang telinganya ke meja sebelum melajukan kedua tangan menyisir rambut ke belakang demi melampiaskan rasa frustrasinya. Pria itu berjalan mondar-mandir di ruangannya.

Twisted Fate (TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang