Chapter 6: Aku bahagia bisa kenal kamu.

28 3 0
                                    

HAPPY READING✨
JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK.
TERIMAKASIH❤

_______________________________

"Sekarang tidur ya" Sean menemani Alea di kamarnya. Alea terbaring dengan keadaan lelah, ia sudah tidak menangis namun wajahnya masih menunjukkan kesedihan yang mendalam.

Sean menggenggam tangan Alea dengan satu tangannya mengelus lembut rambut Alea. Alea mulai memejamkan matanya. Beberapa menit kemudian, Sean berdiri lalu pergi dari kamar Alea.

Setelah Sean pergi, Alea bangun. Sejak tadi dirinya hanya berpura-pura tidur. Hari ini Alea merasa malu pada Sean karna menyaksikan bagaimana hancurnya hubungan Alea dengan ayahnya.

Sean masih berada dirumah Alea, ia berdiri didepan kamar Alea sambil bertelfonan dengan seseorang, yang lain dan bukan adalah Ayah Alea.

"Apa Lea udah tidur?"

"udah om. Daritadi Sean terus di samping Lea"

"Makasi ya Sean udah mau jaga Alea. Om tau Lea bakal kayak gini, makanya om ngajak kamu juga. Yaudah om tutup dulu"

Dari dalam kamar Alea mendengar semua itu. Kini baginya hanya Sean lah seseorang yang selalu ada untuknya. Alea bahagia karna bisa mengenal Sean.

Paginya, Alea berdiri di depan cermin dan melihat matanya yang sedikit membengkak karna menangis semalaman. "Apa aku gausah sekolah aja ya?" Alea.terdiam sejenak, namun pikirannya untuk tidak sekolah ia batalkan karna ia tidak mau ambil resiko jika nantinya Sean dekat dengan anak baru itu.

Alea turun ke bawah dan seperti biasa, ibunya belum pulang dari kemarin. Ibu Alea memang jarang pulang, bahkan dalam 1 minggu hanya 4 atau 3 kali ia pulang. Pekerjaan baginya adalah hal terpenting dalam hidup.

***

Sean berjalan di koridor sekolah sendirian, karna Sean sudah menyuruh Alea untuk izin tidak sekolah. Sean tau pasti Alea masih merasa sedih atas kejadian kemarin malam.

"Woi Sean!" datang Putra bersama Lena yang menghampiri Sean. "Alea mana?" tanya Lena.

"Gak mas-- 

"Morning guys" Alea datang dan memotong perkataan Sean "Tumben kalian gak jalan bareng, lagi marahan ya?" ujar Putra.

Alea langsung mendekati Sean dan berdiri di sampingnya "Enggak kok" Alea tersenyum ke arah Sean, Sean menghela nafas,sahabatnya ini memang benar-benar keras kepala.

"Tapi kok lo kayak habis nangis?" Lena memperhatikan mata Alea yang sedikit membengkak "Lo apain Lea?" tatapan tajam pun di dapat Sean dari Lena.

"Udah ntar gue ceritain, mending sekarang kita masuk kelas. Yakali disini terus" mereka berempat berjalan menuju kelas. Lena berjalan duluan bersama Putra dan Sean bersama Alea di belakang.

"Kenapa sekolah?" Sean menatap gadis disampingnya itu, Sean dapat melihat mata Alea yang masih bengkak dan raut wajah yang lesu.

"Ya pengen belajar lah"

"Sok rajin"

"Emang rajin haha" Sean lega, akhirnya Alea ceria lagi.

"Jangan nangis lagi ya"

"Gaboleh ya?"

"Iya gaboleh. Aku gasuka ngeliat kamu nangis" Sean tersenyum, dan seperti biasa mengelus rambut Alea lembut.

Di kelas sudah banyak teman sekelas yang datang, termasuk Devan. Lena yang melihat Devan langsung membuang muka. Lena kesal, Lena memang tidak berhak untuk cemburu pada Devan. Namun siapa juga yang tidak cemburu melihat orang yang di sukai dekat dengan orang lain.

"Ehh van tumben lo dateng pagi banget"

"Sekali-kali lah put. Biar keliatan rajin" Devan tertawa.

"Kalo udah males, males aja kali. Gausah sok rajin" ucap Lena tanpa memandang wajah Devan.

"Lo lagi PMS ya? Dari kemarin marah-marah mulu" Mendengar itu membuat Lena makin kesal, Mengapa Devan tidak peka sedikit pun. Hais memang ya jatuh cinta pada lelaki yang enggak peka itu sangat amat menyayat hati.

Lena menatap sinis Devan lalu kembali membuang muka. "Udah lah gue gak ngerti sama pikiran cewek" Devan kembali duduk di bangkunya.

A L E ATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang