Chapter 25: You're My Mine.

38 4 0
                                        

Alea masih terdiam sembari berdiri di depan pintu. Ia tidak menyangka kalau orang yang akan menjadi saudara tirinya itu adalah Anna. Orang yang selama ini ia benci, orang yang menurutnya merusak segalanya.

"Alea?" ayah Alea tersenyum dan menghampiri Alea. Anna berdiri, ia juga kaget karna ternyata Alea yang akan menjadi saudaranya.

"Alea? Wahh aku gak nyangka kalo kamu yang bakal jadi saudara aku" ujar Anna sembari tersenyum.

"Kalian udah saling kenal? Bagua deh kalo.gitu" ujar Ayah Alea.

Lalu datang Airin, ibunda Anna. Ia juga tersenyum ke arah Alea.

Mereka berempat duduk, sambil menikmati makanan yang sudah tersedia. Dengan senangnya Edi mengambilkan Anna beberapa lauk dan sayuran, sepertinya itu adalah makanan kesukaan Anna.

"Ehh Lea ini papa ambilin makanan juga ya" Edi mengambilkan Alea beberapa sayuran dan lauk juga. Alea tersenyum miring, ayahnya memang sangat baik mengambilkannya makanan, tapi ayahnya lupa kalau Alea tidak bisa memakan ini semua.

"Makasih pah.. Tapi apa papa lupa kalo Alea alergi sama sayur ini. Dan juga Alea gak suka sama daging ini pa, sejak dulu Alea gak suka"

Edi baru teringat kalau sejak kecil Alea memang pilih-pilih makanan. Karna Alea memiliki suatu alergi.

"Maaf Lea, papa lupa" ujar Edi.

"Dan makanan disini juga adalah makanan yang sama sekali gak boleh Alea makan" Alea tersenyum, meskipun ia paksakan.

"Papa pesenin lagi ya Lea"

"Gausah pa. Lea pergi, soalnya Lea masih punya janji sama seseorang" Alea berdiri, ia di tatap oleh Anna dan juga ibunya. Anna dan ibunya hanya diam, mereka tidak mau ikut campur dengan urusan Alea dan juga ayahnya.

Alea berjalan sendirian, ia menangis. Sedih, itu yang Alea rasakan. Ayahnya yang belum menikah pun sudah hampir melupakan semua tentangnya. Apalagi nantinya sudah menikah, pasti Alea akan di lupakan.

"Papa belum nikah aja udah ngelupain Lea. Apalagi udah nikah, pasti semua tentang Lea papa lupa" ujarnya.

Alea melangkahkan kakinya dan melihat Andrean yang ada di depannya. Andrean menatap Alea dari kejauhan, ia sengaja menunggu Alea disini. Andrean mempunyai feeling kalau nantinya makan malam Alea dengan ayahnya tidak akan berjalan mulus. Dan benar saja, ternyata feeling Andrean benar.

Alea menangis lalu berlari ke arah Andrean. Alea memeluk Andrean, ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Andrean. Andrean hanya diam, dengan tangannya mengelus punggung dan rambut Alea. Hanya terdengar suara tengisan kecil Alea.

"Lea..." Andrean tidak tahan mendengar Alea menangis, hatinya ikut sakit mendengarnya. "Lea udah jangan nangis lagi" Andrean menangkup wajah Alea, ia juga mengusap lembut pipi Alea.

"Dean.. Kenapa harus dia? Kenapa harus dia Dean!! Kenapa bukan orang lain aja!!"

Andrean mengajak Alea duduk di sebuah gazebo yang terletak di dekat sana. Andrean memberikan Alea air mineral untuk Alea, Alea meminumnya dengan masih sesegukan.

"Lea.. Bisa ceritain apa yang terjadi? Apa yang ngebuat lo nangis? Apa lo ada masalah lagi sama papa lo?"

Alea hanya diam, ia tak menjawab pertanyaan dari Andrean. Alea menunduk sambil meremas botol mineral tadi. Andrean menghela nafas, lalu mengelus lembut rambut Alea.

"Kalo lo emang gamau jawab pertanyaan dari gue, gapapa. Asal lo jangan nangis lagi ya Lea"

Alea menatap Andrean, Alea dapat melihat rasa khawatir dari raut wajah dan mata Andrean. Alea senang Andrean khawatir padanya. Itu artinya Andrean sangat perduli padanya.

"Dean hari ini gue dinner sama papa dan juga sama calon istrinya papa. Awalnya gue nerima aja papa nikah lagi, tapi saat gue ngeliat calon istri papa beserta anaknya, keputusan gue berubah"

"Lo tau, orang yang akan nikah sama papa itu mamanya Anna! Dan otomatis Anna bakal jadi saudara gue!! Gue gamau Dean!"

Alea mencurahkan semua rasa kesal dan marahnya ke Andrean. Alea benar-benar tidak tau harua bagaimana lagi menghadapi semuanya. Setengah hidupnya sudah hancur.

"Lea.. Gue tau lo marah, lo kesel, dan lo sedih. Perasaan lo campur aduk sekarang. Tapi gue cuma mau bilang, jangan nyalahin Anna Lea. Gue yakin dia juga gatau masalah ini"

"Jadi lo ngebela Anna??"

"Gue gak ngebela Lea.."

Alea berdiri, kini Andrean juga malah berpihak pada Anna dan bukan pada dirinya. Sepertinya Anna akan mengambil alih hidupnya.

"Udah deh Dean.. Lo ngebela Anna karna lo pernah suka sama dia kan? Atau lo masih suka sama Anna?"

"Lea.. Dengerin gue bukan gitu maksud gue Lea"

"Lo sama aja kayak mereka Dean. Lo sama aja kayak Sean dan papa!! Gue benci kalian semua!!" Setelah mengatakan itu, Alea berlari. Hatinya benar-benar hancur, orang yang ia percaya sekarang malah ikut membela Anna. Sekarang baginya ia hanya sendirian tanpa ada orang di sekitarnya lagi.

***

Alea terbangun, ia melihat jam di ponsel miliknya. Alea terkejut karna banyak panggilan tak terjawab dari Ayah dan Andrean. Banyak juga chat dari Adrean.

'Lea maafin gue'

'Lo salah paham sama gue Lea'

'Gue khawatir sama lo..'

'Maafin gue..'

'Besok gue jemput ya??'

'Gue gamau lo marah sama gue'

'Bales Lea...'

'Lo marah banget ya sama gue sampek gamau bls dan ngangkat telfon gue:('

'Besok gue jemput pokoknya!! Gaada penolakan!!"

'Jangan marah dan sedih lagi ya Lea..'

'Good night and see you tomorrow♡'

Alea tersenyum kecil melihat cht-cht yang Andrean kirimkan pdanya. Rasa kesal yang Alea rasakan ke Andrean menghilang sedikit. Tapi meskipun begitu Alea akan tetap memberi hukuman pada Andrean karna sudah membuatnya marah.

Alea seperti biasa bersiap-siap untuj berangkat ke sekolah. Dan seperti biasa jiga ia tidak sarapan. Baru membuka pintu, Alea sudah di sambut dengan keberadaan Andrean yang berdiri di pagar rumahnya. Andrean menunggu kedatangan Alea.

"Andrean? Ngapain lo kesini?"

"Kok Andrean lagi sih? Kan lo udah manggil gue dengan nama Dean" Andrean mengerutkan alisnya dengan bibirnya yang di manyunkan.

"Emang kenapa gue harus menggil lo Dean? Emang kita sedekat itu??"

Andrean mengehela nafas, ia harus super sabar dengan gadis di depannya ini. Andrean tersenyum ke arah Alea, namun Alea malah membuang muka dengan tangannya di lipat ke depan.

"Kita itu deket. Because, you're my mine."
Andrean melangkahkan kakinya ke depan Alea membuat jarak keduanya menjadi snagat dekat. Alea mundur hingga terpentok ke pagar.

Wajah mereka sangat dekat, Alea menatap mata Andrean. Andrean menatap ke arahnya dengan mata indah miliknya tersebut. Andrean mulai mendekatkan lagi wajahnya hingga membuat bibir mereka hampir bersentuhan lagi.

Alea menutup matanya, sejak tadi jantungnya berdebar tak karuan. Apakah kali ini Andrean akan menciumnya lagi?

******

Hallo, maaf baru update lagi.

Semoga masih suka dengan cerita A L E A♡.

Terimakasih sudah membaca✨

A L E ATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang