Chapter 26: Tamparan.

34 6 2
                                    

Alea masih menutup matanya, ia benar-benar bedebar sekarang.

"Pffff... Hahahaha" Andrean tertawa sembari kembali menjauhkan wajahnya. Andrean tertawa melihat ekspresi Alea barusan.

Alea kesal, bukan karna Andrean tidak jadi menciumnya, tapi karna Andrean mempermainkannya.

"Anj" decaknya.

"Eh eh eh siapa yang ngajarin ngomong kasar hah??"

Plakkk

Alea memukul punggung Andrean keras, hingga membuat Andrean meringis. Ia heran, Alea yang terlihat lemah lembut dan imut sangat handal dalam memukul orang.

"Aduhh sakit Lea. Pasti punggung gue merah nih"

"Biarin. Derita lo"

"Lea.. Masih marah ya sama gue?"

"Udah tau malah nanya lagi"

"Maafin gue"

"Gamau"

"Aihh"

Alea berjalan duluan dan diikuti oleh Andrean. Sejak tadi Andrean terus mengajak Alea mengobrol, namun Alea sama sekali tidak menghiraukan Andrean.

Mereka berdua berdiri di halte bus, menunggu bus datang. Andrean melirik ke arah Alea, ia harus memikirkan cara bagaimana agar Alea tidak lagi marah padanya.

Tak berapa lama bus yang di tunggu pun datang. Alea masuk dan diikuti oleh Andrean. Mereka duduk di kursi paling belakang. Alea tidak menatap Andrean sedikitpun, ia sibuk menatap ke luar jendela. Andrean yang merasa di abaikan pun memiliki suatu ide di otaknya.

Lalu Andrean mengeluarkan earphone yang berada di tasnya. Lalu Andrean memasangkan satu earphone ke telinga Alea, Alea terkejut dengan apa yang di lakukan Andrean. Alea ingin melepas earphone tersebut, namun Andrean menahannya.

"Jangan di lepas. Kita dengerin lagu dulu ya?"

Lalu Andrean memutar sebuah lagu di ponselnya. Lagu yang di putar adalah lagu dari Yura Yunita yaitu Berawal dari tatap.
Tidak lupa tangan Andrean menggenggam erat tangan Alea. Mereka menikmati perjalanan dengan mendengarkan musik dan juga perpegangan tangan.

***

Alea tiba di kelasnya, ia melihat telapak tangannya yang berkeringat karna pegangan tangan yang dilakukannya bersama Andrean. Alea tertawa kecil mengingat bagaimana tadi Andrean enggan melepaskan tangannya. Namun tawanya terhenti karena keberadaan Anna yang ada di depannya.

"Alea.."

"Kenapa?"

"Soal kemarin.. Maaf ya" Anna menunduk, ia seperti merasa bersalah pada Alea. Alea hanya tersenyum miring ke arah Anna. Ia sudah lelah untuk berkomentar tentang kejadian tadi malam.

"Ya gapapa"

Anna tersenyum lalu memegang kedua tangan Alea. Ia terlihat sangat bahagia, sangat berbeda dengan Alea.

"Pagi" ujar Sean yang baru datang. Hari ini Alea tidak masuk sekolah bersama Sean karena permintaan dari Alea. Karena Alea tidak mau terlalu bergantung lagi pada Sean.

"Kayaknya kalian berdua bahagia banget" ujar Sean lagi.

"Iya kita bahagia hari ini. Karna kita bakal jadi saudara tiri mulai sekarang!!" semua orang di kelas terkejut mendengar ucapan dari Anna. Termasuk Alea juga, awalnya ia ingin merahasiakan soal Anna dan dirinya. Tapi Anna malah memberitahu semua orang.

"Apa?! Saudara?!!" Lena yang tadi duduk kini berdiri dan menghampiri Alea. Ia sangat terkejut, ia juga tidak tau kalau yang akan menjadi saudara Alea itu adalah Anna.

"Ini beneran?" tanya Sean, Anna langsung mengangguk senang. Tapi tidak dengan Alea, ia sangat jengkel bahkan sangat kesal pada Anna. Amarahnya yang selama ini ia pendam untuk Anna hari ini ia akan lampiaskan langsung.

"UDAH STOP YA!!" teriak Alea.

Semua orang di kelas lagi-lagi di buat terkejut. Alea mengepalkan kedua tangannya, hari ini ia akan melampiaskan semua amarahnya. Ia tidak perduli bagaimana pendapat orang-orang tentang dirinya, ia hanya ingin melampiaskan amarahnya.

"LO PIKIR GUE MAU SAUDARAAN SAMA LO HAH?!! GAK ANJ!!"

"GUE MUAK BANGET SAMA LO ANNA!!"

"SEJAK LO DATANG KE KEHIDUPAN GUE, LO SEAKAN NGAMBIL SEMUA YANG GUE PUNYA!! PERTAMA SEAN DAN SEKARANG BOKAP GUE!! LO MAUNYA APA SIH HAH?!!!!"

Plakkk

Sean menampar pipi Alea, membuat semua orang kembali terkejut. Alea memegangi pipinya yang sudah memerah karena di tampar. Sedangkan Anna menutup wajahnya sambil menangis. Alea tersenyum miring, ia tidak menyangka Sean menamparnya karna membela Anna.

"Sean lo apa-apaan sih hah?! Ngapain lo nampar Alea Anjj!!" Lena emosi, ia tidak terima kalau sahabatnya di tampar seperti itu.

"Kamu udah keterlaluan Lea!! Kenapa kamu ngebentak Anna kayak gitu?? Apa kamu marah karna aku sukanya sama Anna, bukan sama kamu??"

"Kamu bilang kamu ikhlas kalo aku sama Anna, tapi apa? Kamu malah ngebentak Anna sekarang. Anna gak salah Lea!!"

"STOP SIALAN!!!"

Alea kembali berteriak, ia sangat emosi mendengar perkataan Sean tadi. Ia tidak menyangka kalau Sean akan berkata begitu padanya.

"Segitunya ya lo ngebela Anna? Lo bukan Sean yang gue kenal, Sean yang gue kenal gak akan ngebentak dan nampar gue kayak gini. Hahaha gue lupa, lo sama Anna kan pacaran. Dan pastinya lo akan ngebela pacar lo itu. Thanks Sean karna lo udah mau ngejaga gue sejak dulu. Thanks buat semuanya, sekarang lo gak perlu repot-repot buat ngurus gue lagi"

Alea melangkahkan kakinya keluar kelas. Ia memutuskan hari ini ia akan bolos sekolah sehari saja. Ia tidak kuat untuk menghadapi Sean maupun Anna. Ia tidak kuat untuk menghadapai semuanya.

Kelas di mulai seperti biasa. Sean duduk teremenung, ia tidak mendengarkan guru yang tengah menjelaskan pelajaran. Ia memikirkan soal Alea. Ia benar-benar merasa bersalah sudah menampar dan membentak Alea tadi. Ia melihat telapak tangannya yang tadi sudah menampar Alea.

"Maaf Lea" ujarnya pelan.

Brakkkk

Pintu kelas di tendang keras, pelakunya adalah Andrean. Andrean mengepalkan kedua tangannya, matanya memerah karena menahan amarah. Matanya tertuju pada Sean, ia sudah tau soal kejadian Sean menampar Alea. Kabar itu sangat ramai yang akhirnya sampai di telinga Andrean.

"Apa-apaan kamu?!!" ujar guru yang mengajar di kelas Sean. Andrean tidak menghiraukan guru tersebut, ia melangkahkan kakinya menuju ke arah Sean. Andrean memegang kerah baju Sean, lalu dengan cepat Andrean memukul wajah Sean.

Semua orang di kelas berdiri, tidak ada yang berani melerai perkelahian keduanya termasuk guru yang disana.

"Berani banget lo nampar Alea gue. Orang yang udah nyentuh milik gue gak akan gue ampunin!!" ujar Andrean lalu kembali menonjok wajah Sean.

Sean hanya diam tak melawan, menurutnya ini adalah hukuman untuknya karena sudah menampar Alea.

"Pukul lagi... Pukul gue lagi!! Anggap ini adalah hukuman karna gue udah nampar Lea"

Andrean ingin memukul lagi, namun ia batalkan. Ia berpikir tidak ada gunanya juga memukul Sean. Karena hal yang harus Andrean lakukan sekarang adalah menemui Alea. Menghiburnya sama seperti yang selalu Andrean lakukan.

"Awas lo Anj" ujarnya lalu pergi meninggalkan kelas.

A L E ATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang