Andrean bersama Alea berjalan beriringan keluar sekolah. Namun masih tampak wajah gelisah yang Andrean tunjukkan. Andrean sangat overthinking dengan nilai ujiannya. Nilai ujian akan di umumkan besok pagi di papan pengumuman, Andrean tidak sabar sekaligus takut.
"Dean, jangan murung gitu lah" ujar Alea
"Mana bisa, lo tau sendiri kan gimana pinternya Sean? Sekarang gue malah sok banget nerima tantangan dia. Emang bodoh gue"
Alea berhenti, diikuti oleh Andrean. Kemudian Alea menyuruh Andrean agak sedikit mendekatkan wajahnya ke Alea. Andrean pun menurutinya. Kemudian Alea menangkup wajah Andrean, mencoba menenangkan laki-laki di depannya ini.
"Dean, lo harus yakin akan diri lo, lo itu hebat. Gue yakin lo bisa ngalahin Sean, buktinya aja lo bisa ngebuat gue jadi suka sama lo"
"Tapi itu beda Alea"
"Udah, pokoknya lo harus yakin kalau lo yang bakal menang!"
Andrean tersenyum, ia menjadi percaya diri dengan apa yang Alea katakan. Ia yakin kalau memang ia bisa mengalahkan Sean kali ini walaupun itu rasanya tidak mungkin.
"Kalau gue menang nantinya, lo mau ngasih gue apa?"
"Emang lo maunya apa?"
Andrean tersenyum lagi, sembari menatap lekat ke arah Alea "Kalau gue menang nanti, gue bakal perjelas hubungan kita"
"Dan gue juga bakal bilang ke semua orang kalau kita pacaran. Gue bakal pamerin kalau lo itu pacar gue"
Alea menggigit bibir bawahnya, ia kini sedang menahan 'salting' bagaimana tidak, orang di depannya ini benar-benar bisa membuat Alea menggila seketika.
Andrean mengantar Alea sampai di depan rumahnya. Alea sedikit badmood karena ia ingin sekali menghabiskan waktu dengan Andrean sore ini, tapi tidak bisa karena Andrean harus bekerja di caffe sampai malam.
Alea ingin menemani Andrean bekerja, namun di larang Andrean karena Andrean tidak ingin Alea kelelahan hanya karena menemaninya.
"Kita habisin waktunya besok aja ya? Sekarang lo istirahat. Gue gamau lo sampek kecapean"
"Lo gamau gue kecapean, tapi lo sendiri udah pasti kecapean. Emang harus ya lo kerja kayak gini?"
Andrean mengehela nafas, entah berapa alasan lagi yang harus ia katakan kepada Alea. Ia lelah berbohong kepada Alea tentang kenapa dirinya harus bekerja seperti ini.
"Lea, kalau gue ga kerja gue gabakal bisa biayain hidup gue"
Alea kesal, bukan ini jawaban yang ia mau dari Andrean. Alea sangat ingin tau semua hal tentang Andrean, tapi Andrean selalu tertutup.
"Dean, kapan lo mau cerita soal kehidupan lo ke gue? Gue pengen tau semua tentang kehidupan lo Dean. Lo udah tau semua tentang gue, sedangkan gue? Cuma sedikit yang gue tau"
Andrean tersenyum miring, sembari mengelus lembut pipi Alea "Lea, gue pengen ngasi tau semuanya sama lo. Tapi gue belum siap cerita semuanya. Tunggu ya? Sampai gue siap, gue janji bakal cerita semua yang pengen lo tau"
Alea tersenyum, ia mengerti akan keadaan Andrean. Alea berpikir pasti sangat sulit yang di lalui Andrean.
"Tapi boleh gue tau satu hal?" tanya Alea
"Soal apa?"
"Kenapa lo ganti nama yang awalnya Ryan jadi Andrean?"
Andrean tau pasti Alea sangat penasaran dengan hal ini. Andrean agak ragu untuk memberitahu kebenaran tentang semuanya. Semua yang ia alami selama ini terlalu menyakitkan.
"Gue gabisa ngasi tau secara detail, tapi satu hal yang harus lo tau, gue ngubah nama gue jadi Andrean karena gue keluar dari rumah. Gue keluar udah lama, dan gue gamau punya hubungan apapun sama keluarga itu"
Alea tercengang, ia tidak menyangka kalau Andrean memiliki masalah seperti ini. Alea menatap Andrean, tampak wajah kelelahan dan mata sendu. Alea tau, banyak hal sulit yang Andrean lalui dan mungkin ia melaluinya sendirian.
"Dean, pasti cape banget ya?"
Andrean mengangguk, lalu Alea memeluk Andrean. Mengusap punggung Andrean sembari mengusapnya pelan. Andrean merasakan rasa nyaman saat berada di pelukan Alea. Rasanya semua masalah, semua kelelahan yang ia miliki hilang setika.
"Gue kasi energi, yaitu energi peluk" ujar Alea.
"Ntar kalau energi gue habis, gue minta peluk lagi ya?"
***
Sean duduk di ruang tamu rumahnya, wajahnya gelisah. Entah apa yang ia pikirkan, ia merasa pertaruhan yang ia lakukan dengan Andrean adalah keputusan yang salah.
Sean yang awalnya sangat percaya diri dengan taruhan yang ia buat mendadak menjadi gelisah. Sebab ia melihat betapa rajinnya Andrean beberapa hari ini untuk belajar. Sebenarnya Sean mengetahui semua ini karena ia sering memata-matai Andrean.
Sean sering mengikuti Andrean, dan sekarang Sean mulai takut Andrean akan mengalahkannya.
"Ga, dia cuma orang berandalan, gatau aturan. Mana mungkin dia bisa ngalahin gue?"
Sean mengusap wajahnya pelan, ia terus memikirkan hal ini dalam beberapa hari ini. Bisa dibilang kalau Sean saat ini sedang ketar-ketir.
Sekarang, Sean rasanya ingin menemui Alea. Entah sudah berapa lama dirinya tidak berkomunikasi dengan Alea. Bertemu hanya sekedar saling tatap tanpa ada pembicaraan sedikitpun, rasanya asing.
Sean melihat jam di tangannya, jam menunjukkan pukul 19:30. Sean beranjak dari duduknya, mengambil jaket miliknya lalu pergi keluar dengan tergesa-gesa. Rencananya ia akan mencari Alea dan mengajaknya keluar. Ia ingin meminta maaf lagi, meminta maaf untuk semuanya. Sean tidak ingin hubungannya dengan Alea menjadi asing seperti ini.
Baru saja ingin keluar, ternyata Alea sudah ada di depan pintu rumah Sean. Alea yang ingin mengetuk pintu langsung mengurungkan niatnya karena sudah ada Sean di depan matanya.
"Lea?"
"Sean, bisa kita bicara sebentar?"

KAMU SEDANG MEMBACA
A L E A
Teen FictionSelama 12 tahun menjalani persahabatan dengan Sean, Alea diam-diam menyukai Sean. Namun Sean malah menyukai seorang murid baru yang bernama Anna. Kemudian Alea bertemu dengan Andrean, ia juga sudah lama menyukai Anna. Mereka pun sepakat bekerja sam...