Alea duduk di pinggir danau, danau dekat kabin milik ayahnya itu. Setelah kejadian di kelas tadi, Alea memutuskan untuk pergi ke kabin danau ini. Ia ingin menenangkan dirinya, ia merasa bersalah karena telah membentak Anna, dan juga Alea merasa sakit hati karena Sean yang membentak dan menamparnya.
Alea sejak tadi melempar batu yang ada disana ke danau. Dari batu krikil hingga batu yang besar. Alea kesal pada dirinya sendiri, seharusnya ia tidak membentak Anna tadi, sekarang semuanya kacau.
"Ternyata lo disini.."
Alea menoleh, ia melihat Andrean yang datang dengan nafas yang terengah-engah. Keringat bercucuran dari keningnya, Andrean sepertinya habis berlari. Kemudian Andrean duduk di samping Alea, ia tidak berbicara apa-apa lagi. Ia akan menunggu Alea yang akan berbicara duluan.
"Dean.. Sakit. Sakit banget rasanya.."
Andrean memegang pelan pipi Alea yang di tampar tadi, terlihat pipinya yang kemerahan.
"Hufh.. Merah ternyata. Untung gue bawa es batu"
"Buat apa??"
"Buat ngompres pipi lo Lea. Ntar kalo gak di kompres takutnya lebam" Lalu Andrean mengeluarkan es batu yang ada di saku celananya. Es batu yang di bungkus dengan plastik putih.
"Dapet dimana es batunya??"
"Hehe Maling di warungnya buk siti. Habisnya buk Sitinya gak ada sih, jadinya gue ambil aja es nya di kulkas"
"Dasar.."
Andrean dengan perlahan menempelkan es batu tadi ke pipi Alea.
"Masih sakit gak?"
"Udah engga. Makasih Dean"
"Makasih aja nih?? Gak ada yang lain?"
Alea mendekatkan bibirnya ke wajah Andrean lalu dengan perlahan Alea mencium pipi Andrean. Andrean yang di cium langsung memalingkan wajahnya, Andrean tersipu.
"Gue gak nyangka Dean.. Kalo Sean nampar gue. Emang salah gue sih ngebentak Anna duluan"
"Ya gue tau lo ngebentak Anna, tapi apa pantas Sean sampai nampar lo? Kalo lo ngebentak ya harusnya balik di bentak aja, bukan malah nampar. Emang sialan tu Sean, gak pantes di sebut cowok. Cowok kok beraninya sama cewek doang"
Alea tertawa mendengar perkataan Andrean, ia sudah tidak mempermasalahkan soal Sean yang menamparnya tadi. Namun rasa kecewa pada Sean yang Alea rasakan sekarang.
"Lo juga, kalo di tampar tadi harusnya lo bales nampar dia. Dan baiknya kerasin aja. Biar tau rasa tu orang"
"Pengennya sih gitu, tapi gue takut anj. Gak berani gue. Gue ngebentak Anna aja sambil nutup mata. Gue juga gak mau terlalu mempermasalahkan soal Sean"
"Hufh.. Lo sabar banget sih Lea, udah segitunya Sean nyakitin lo, lo sama sekali gak benci sama dia"
"Gue emang gak benci sama dia Dean, tapi gue kecewa sama perlakuan dia. Apalagi hari ini dia malah nampar gue dan juga ngomongin masalah gue, dia, dan Anna di depan semua orang"
"Udah-udah gausah di omongin lagi. Yang penting gue udh berhasil ngasi Sean pelajaran"
"Hah? Maksudnya?? Tunggu.. Jangan bilang lo.."
Alea menatap Andrean, dari raut wajah Andrean seprtinya Andrean sudah membuat masalah yang cukup besar.
"Gue mukul Sean tadi di kelas. Dan pas ada guru yang ngajar"
"Apa?! Lo gila ya?! Ntar lo bisa kena masalah Dean!!"
"Gapapa. Yang penting gue udah berhasil ngasi pelajaran ke Sean"
Alea tidak mengerti dengan jalan pikiran Andrean, bisa-bisanya demi dirinya Andrean sampai memukul Sean, bahkan di depan guru. Sekarang Alea takut, ia takut kalau Andrean terkena masalah karna dirinya.
"Dean, jangan kaya gitu lagi ya. Gue gamau lo kena masalah karna gue Dean"
Andrean hanya tersenyum, ia merasa yang di lakukannya sudah benar. Memberi pelajaran pada Sean yang sudah berani menampar Alea. Andrean tau nantinya ia akan terkena masalah di sekolah, mungkin saja ia tidak di izinkan untuk ikut ujian.
"Lea, mau main lempar batu ke air gak? Cara mainnya yaitu siapa yang bisa ngelempar batu paling jauh, dia pemenangnya"
"Oke! Siapa takut"
Mereka berdua memulai permainan, Andrean yang ingin menghibur Alea sengaja melempar batunya tidak terlalu jauh. Ia membiarkan Alea menang.
"Yes!! Gue menang! Gue hebat kan?"
"Iya lo hebat Lea"
Andrean senang karena Alea kembali tersenyum lagi. Andrean juga senang karna bisa menghibur Alea. Mulai sekarang Andrean sudah memutuskan untuk selalu menjaga dan mengibur Alea.
***
Sean duduk di ruang UKS dengan di temani Anna. Anna mengobati luka yang ada di wajah Sean, Anna menangis. Ia merasa kejadian hari ini disebabkan olehnya.
"Sean.. Maaf"
Sean menatap Anna, Anna masih menangis. Apalagi melihat kondisi Sean yang seperti itu. Membuat rasa bersalahnya semakin bertambah.
"Gausah minta maaf na. Ini bukan salah kamu, ini salah aku. Harusnya aku gak emosi dan langsung refleks nampar Lea"
"Tapi ini salah aku juga Sean. Harusnya aku gak terang-terangan bilang soal aku sama Lea. Seharusnya aku sadar kalo Lea emang gak pernah suka sama aku, tapi aku selalu sok akrab sama dia. Mungkin itu juga yang ngebuat dia tambah kesel sama aku. Apalagi waktu makan malam kemarin raut wajahnya kayak gak suka"
"Udah, jangan nyalahin diri kamu sendiri. Nanti pulang sekolah kita cari Lea ya?" Anna mengangguk, ia ingin sekali bertemu Alea dan meminta maaf pada Alea.
Setelah mengobati luka, mereka berdua keluar dari ruang UKS. Saat berjalan, mereka banyak mendengar bisik-bisik siswa maupun siswi yang membicarakan soal permasalahan tadi pagi. Ada yang membela Anna dan ada juga yang membela Alea.
Sean berjalan tanpa memperdulikan omongan-omongan mereka semua. Sampai di kelas, teman-teman di kelas hanya diam dan menatap ke arah Anna dan Sean. Begitu juga dengan Lena, Devan dan Putra.
Anna duduk di bangkunya, Lena menatap sinis Anna lalu pergi keluar kelas. Ia malas melihat Sean dan Anna. Lalu Sean, ia berjalan ke arah Devan dan Putra, Putra berdiri dan Devan duduk di meja. Namun belum sempat Sean mendekati mereka, Devan turun dari meja lalu berjalan melewati Sean. Ia juga ksal dengan Sean, harusnya Sean tidak menampar Alea seperti itu.
Putra ikut berjalan lalu berhenti di samping Sean. Ia menatap Sean, lalu menepuk pundak Sean pelan "Gue kecewa sama lo Sean. Kenapa harus nampar sih?" setelah berbicara begitu, Putra juga ikut keluar kelas menyusul Lena dan Devan.
Semua orang di kelas juga tidak memperdulikan mereka berdua. Anna menunduk sedangkan Sean mengusap wajahnya. Semua orang seperti memusuhinya dan Anna.
Jam 4 sore, setelah menghabiskan waktu di danau bersama Andrean, mereka berdua pulang ke rumah. Andrean mengantar Alea pulang ke rumahnya. Namun baru sampai di rumah Alea, sudah ada Sean dan Anna yang berdiri di depan pagar rumah Alea.
Sean tersenyum je arah Alea, namun Alea langsung bersembunyi di belakang Andrean. Alea belum siap bertemu Sean maupun Anna.
"Lea.."
"Mau apa lo?" ujar Andrean.
"Gue mau ngomong sama Lea. Lea.. Bisa kita ngomong sebentar??"
Alea tidak menjawab, ia memalingkan wajahnya. Alea benar-benar tidak mau melihat Sean untuk sementara waktu ini. Semakin Alea melihat Sean, semakin ia ingat perlakuan Sean padanya.
"Lo udah tau kan jawabannya? Jadi please, jangan ganggu Lea dulu" Andrean menarik Alea lalu membawa Alea ke pelukannnya, dengan mata Alea yang di tutup Andrean agar Alea tidak melihat wajah Sean. Andrean kemudian membawa Alea masuk ke rumahnya, menyisakan Sean dan Anna yang masih berdiri si luar.
'Segitu marahnya kamu sama aku Lea? Sampai kamu gamau ngeliat aku. Maaf Lea, maafin aku' batin Sean.

KAMU SEDANG MEMBACA
A L E A
Fiksi RemajaSelama 12 tahun menjalani persahabatan dengan Sean, Alea diam-diam menyukai Sean. Namun Sean malah menyukai seorang murid baru yang bernama Anna. Kemudian Alea bertemu dengan Andrean, ia juga sudah lama menyukai Anna. Mereka pun sepakat bekerja sam...